UMI gandeng 61 perusahaan implementasi merdeka belajar

UMI gandeng 61 perusahaan implementasi merdeka belajar

Rektor UMI Prof Basri Modding didampingi para wakil rektor dan pelaku industri berfoto bersama usai penandatanganan MoU di Makassar, Jumat(18/6/2021). ANTARA/Abd Kadir

Makassar (ANTARA) - Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar menggandeng 61 perusahaan atau industri dalam mengimplementasikan program kampus merdeka, merdeka belajar dari Kemendikbudristek.

Rektor UMI Prof Basri Modding di Makassar, Jumat mengatakan puluhan perusahaan yang siap menjadi wadah bagi mahasiswa melakukan magang itu berasal dari berbagai daerah seperti Sulsel, Papua, Palu, hingga Gorontalo.

"Jadi kerja sama ini intinya bagaimana mahasiswa bisa menimbah pengalaman di sejumlah industri yang bergerak dalam berbagai sektor seperti kontruksi bangunan, developer dan sebagainya," katanya.

Ia menjelaskan, jangka waktu pelaksanaan magang di perusahaan akan berlangsung kurang lebih setahun, tergantung jam kegiatan yang dibutuhkan.

"Kami memberikan nilai hingga 40 SKS untuk program magang bagi mahasiswa. Untuk program ini sendiri berlaku untuk mahasiswa yang sudah berada di semester enam dan tujuh," katanya.

Wakil Rektor I Dr Hanafi Assad mengatakan melalui kerja sama ini, maka pihak industri diharapkan membantu memberikan edukasi dan pengalaman kerja secara langsung di lapangan.

"Jadi teori yang didapatkan di kampus bisa dikombinasikan dengan pengalaman di lapangan," ujarnya.

Selanjutnya, kata dia, menjadi kesempatan bagi dosen untuk ikut berperan khususnya memberikan sumbangan pemikiran bagi dosen kepada industri.

"Begitupun sebaliknya, para pelaku industri bisa kita tarik juga menjadi dosen praktisi. Jadi ada perpaduan konsep teoritis dan pengetahuan praktisi sehingga mahasiswa bisa bersaing di dunia kerja," katanya.
Baca juga: Merdeka belajar ala UMI Makassar
Baca juga: UMI padukan konsep merdeka belajar Mendikbud dan internal
Baca juga: Rektor: Uhamka telah menerapkan Kampus Merdeka sejak lama
Pewarta : Abdul Kadir
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2021