PDSKJI: Remaja gunakan aplikasi belanja daring untuk beli narkoba

PDSKJI: Remaja gunakan aplikasi belanja daring untuk beli narkoba

Tangkapan layar Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Dr dr Diah Setia Utami dalam talkshow virtual “Lindungi Anak Dari Penyalahgunaan NAPZA” secara daring di Jakarta, Jumat (30/7/2021). (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Dr dr Diah Setia Utami menyebutkan remaja di Indonesia menggunakan aplikasi belanja daring untuk membeli narkoba dan obat-obatan terlarang.

“Kalau dulu melalui udara sekarang jauh menurun. Jadi ini kita lihat bahwa perbedaan pada April, mereka menggunakan kendaraan darat, terus dengan kendaraan laut, dan sekarang karena keterbatasan salah satunya dengan online,” kata Diah dalam talkshow virtual “Lindungi Anak Dari Penyalahgunaan NAPZA” secara daring di Jakarta, Jumat.

Menurut Diah, pandemi COVID-19 tidak membuat tingkat penggunaan narkoba mengalami penurunan. Para bandar dan pengedar hanya berganti cara untuk mendistribusikan barang tersebut.

Ia mengatakan melalui belanja daring tersebut anak-anak jadi lebih mudah untuk mendapatkan narkoba. Sehingga penggunaannya pada anak banyak digunakan dari rumah ke rumah, dan menjadi sangat sulit untuk dideteksi.

Baca juga: BNN: Nongkrong malam hari paling berisiko pelajar konsumsi narkotika
Baca juga: Nia Ramadhani: Seharusnya saya beri contoh baik buat anak saya

Menurut dia, para bandar memanfaatkan situasi pandemi ini sebagai peluang untuk tetap memproduksi dan mendistribusikan narkoba, mengingat banyak orang yang merasa tertekan akibat COVID-19.

“Justru mereka mengambil peluang bahwa dengan situasi pandemi COVID-19 ini, banyak membuat orang menjadi stres. tidak punya pekerjaan, tidak dapat sekolah dan sebagainya. Itu yang menimbulkan masalah dan itu menjadi peluang untuk para bandar lebih memasarkan lebih gencar,” kata Diah.

Kepala Pusat Penelitian, Data dan Informasi Badan Narkotika Nasional RI (BNN) Agus Irianto mengatakan rata-rata anak yang mengkonsumsi narkoba dikarenakan adanya tekanan pergaulan dari teman sebaya.

“Jadi dari hasil penelitian kenapa pelajar menggunakan narkotika rata-rata dari tahun ke tahun, dari tahun 2008 sampai 2019 itu karena pergaulan. Dianggap tidak hebat kalau tidak pakai narkoba,” kata Agus.

Selain karena tekanan pergaulan, Agus mengatakan keinginan coba-coba yang dimiliki oleh remaja menjadi penyebab awal seseorang dapat mengkonsumsi narkoba.

Agus mengimbau seluruh anak dan remaja Indonesia untuk tidak coba-coba apalagi menggunakan narkoba karena dapat membahayakan nyawa.

“Untuk adik-adik pelajar, kalau kamu beli narkoba kamu seperti beli tiket untuk mati. Jadi jangan main-main untuk mati. Mati adalah kehendak Tuhan, jadi jangan sekali-kali kamu pakai narkotika,” tegas Agus.

Baca juga: Empat anak di bawah umur jadi kurir narkoba ditangkap polisi
Baca juga: Kepala BNN sebut ada 74 narkoba jenis baru ancam anak bangsa

Pewarta : Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2021