Kiat pengusaha tenun ikat Kediri bertahan di tengah pandemi

Kiat pengusaha tenun ikat Kediri bertahan di tengah pandemi

Pekerja membuat tenun ikat di salah satu rumah produksi tenun ikat, Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. ANTARA/Dokumen.

Kediri (ANTARA) - Pandemi COVID-19 membuat semua sendi terimbas, baik sosial, pendidikan, pemerintahan, hingga ekonomi. Pandemi juga membuat semua sektor harus mengencangkan sabuk untuk mampu bertahan.

Sektor usaha juga mengalami pasang surut karena terimbas pandemi. Bahkan, tidak sedikit pengusaha yang gulung tikar, akibat tidak mampu lagi bertahan. Permintaan turun drastis, sedangkan pesanan tertunda dibayar, bahkan dibatalkan. Kondisi tersebut membuat pengusaha pun kelabakan.

Misalnya, kerajinan tenun ikat di Kota Kediri, Jawa Timur. Bisa tetap beroperasi adalah hal yang sangat luar biasa. Bukan hanya soal mendapatkan uang untuk usaha, tapi juga bisa tetap memberikan upah, sehingga pekerja pun juga dapat uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Siti Rukayah, pengusaha tenun ikat yang juga warga Kelurahan Bandar Kidul, Kota Kediri, masih ingat betul bagaimana ia dan suami terseok-seok usahanya awal pandemi COVID-19.

Dua pekan, tiga pekan pandemi terjadi, dirinya masih mampu bertahan. Namun, ternyata pasar semakin lesu.

Saking pasar lesu, guna menutupi operasional, ia terpaksa menjual satu petak tanah Rp85 juta untuk menutup biaya operasional.

"Pesanan banyak tinggal diambil. Dua pekan masih bertahan, tiga pekan sudah tidak bisa. Saya telepon yang pesan, ternyata dipending," kata Siti dengan wajah sedih, Rabu.

Bagi Siti, membuat usahanya terus beroperasi adalah tantangan tersendiri. Ia dan suami harus memutar otak, mencari solusi agar usahanya tetap jalan.

Tenun ikat hasil buatan para pekerjanya masih menumpuk hingga ratusan lembar. Belum lagi tumpukan kain yang belum diambil karena anggaran masih tersendat.

Baca juga: UMKM di Kediri buat masker dengan ritsleting

Berawal dari penjahit yang meminta pekerjaan padanya, Siti akhirnya dapat solusi membuat masker dari bahan tenun ikat. Masker itu sebagai alternatif di tengah harga masker medis yang melambung tinggi saat awal pandemi.

Kain tenun ikat akhirnya dipotong jadi ukuran kecil-kecil, dibentuk menjadi masker lapis. Beragam model juga dibuat agar masker jadi lebih bagus.

Berawal dari masker yang ditawarkan ke pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) di Kota Kediri, akhirnya masker juga diajukan ke wali kota untuk dikaji. Hingga kemudian dapat persetujuan wali kota, masker kain juga aman digunakan.

Bak gayung bersambut, dari awalnya sempat merasa resah karena pesanan yang sepi saat pandemi ini, ia dan suami bisa berkarya lagi. Para pekerja pun juga tetap dapat bekerja.

"Pekerja memohon agar jangan PHK, karena suaminya sudah di-PHK. Saya tidak tega. Tapi, dengan masker ada rejeki tidak terduga. Saya nangis awalnya, karena mau jual ke mana, akhirnya Dinsos pesan masker besar-besaran dibagi ke semua penjahit," kata mantan TKW ini.

Ia ingat betul orderan masker kain saat awal pandemi, 200 potong kain yang telah dibuat laku terjual. Bahkan, banyak warga yang meminta untuk menjualkan masker kain tenun ikat dan laku keras.

Saat Ramadhan pertama di tengah pandemi COVID-19, adalah hal yang sangat berarti baginya. Di tengah pandemi dan ekonomi yang sulit, dirinya masih diberi rejeki sehingga bisa tetap memberikan tunjangan hari raya (THR) kepada para pekerjanya.

Awal-awal pandemi adalah tahun yang berat bagi Siti dan suami. Bayangannya, pandemi bisa berakhir dalam satu tahun, sehingga tahun berikutnya usahanya bisa kembali lancar.

Namun, harapan itu nampaknya masih jauh. Hingga saat ini, pandemi COVID-19 masih terus terjadi. Yang dilakukan saat ini adalah terus berkarya serta tetap optimistis bahwa usaha tetap jalan.

Begitu juga dengan Eko, perajin tenun lainnya di Kelurahan Bandar Kidul, Kota Kediri. Pandemi COVID-19 membuatnya sempat kesulitan, karena barang tidak langsung terjual habis. Padahal, di sisi lain ia harus memberikan honor bagi para pekerjanya.

Baca juga: Masker berbahan tenun ikat Kediri ini banjir pesanan

Bagi Eko, pandemi COVID-19 bukan menjadikan patah semangat melainkan ajang kreativitas. Pandemi ini dibuatnya untuk terus mengasah kemampuan mencari inovasi baru guna menggaet pasar. Pasar bagi kalangan milenial tetap menarik.

"Anak muda ini tidak suka dengan motif yang terlalu mencolok. Mereka lebih suka dengan motif, motif yang sederhana," katanya.

Masih bertahan

Siti, pengusaha tenun ikat merek Medali Mas ini bersyukur di tengah pandemi COVID-19, usahanya masih bisa bertahan. Kini, pesanan juga sudah berdatangan dari berbagai instansi.

Kondisi itu pun membuat ia mempekerjakan kembali karyawannya yang sebelumnya sempat libur.

"Habis Lebaran (Idul Fitri) ada satu proyek. Saya mulai beli benang. Akhirnya pesanan berdatangan, dari dinas, Uniska," kata dia.

Siti mengakui hal yang tidak mudah harus memikirkan nasib 115 karyawannya. Mereka mayoritas tetangga sekitar yang memang dikaryakan. Dengan membuat tenun, mereka bisa dapat penghasilan untuk kehidupan sehari-hari.

Dirinya ingat betul awal-awal usahanya itu berdiri. Ia dan suami mengembangkan usaha yang turun-temurun ini. Tenun ikat adalah usaha keluarga yang juga dikelola keluarga. Sejak 27 Februari 1989, tenun ikat ini diberi nama "Medali Mas".

Perjalanan panjang dirintis ia dan suami. Mulai punya empat karyawan yang membantunya dengan bermodalkan dua alat tenun bukan mesin (ATBM) dan usahanya semakin maju.

Namun, cobaan kembali hadir saat krisis moneter yang melanda negeri ini. Dua tahun lamanya tidak ada produksi sama sekali. Kain yang sudah jadi pun tak laku. Pembeli tak datang, karena uang pilih digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Baca juga: Ketua DPD LaNYalla: Tenun khas NTT bakal semakin diminati pasar

Dua tahun tak produksi, membuat Siti akhirnya banting setir menjadi sales obat. Lima tahun lamanya, dirinya jualan obat dan hasilnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Demi masa depan yang lebih baik, akhirnya Siti nekat menjadi tenaga kerja wanita (TKW) ke Arab Saudi. Di negeri orang, ia bekerja mati-matian mengumpulkan uang untuk modal.

Dua tahun bekerja di negeri orang, membuat Siti ingin pulang ke Tanah Air. Sempat tidak diizinkan pulang, Siti akhirnya mencoba trik agar diizinkan pulang. Gayung bersambut, triknya berhasil sehingga ia bisa pulang bertemu dengan keluarga.

"Saya dua tahun sampai 2000. Akhir tahun 2000 suami kirim surat, katanya tenun mau dimulai. Presiden saat itu kebetulan Gus Dur, dan sarungnya yang masih sisa (belum terjual, red.) diborong. Itu buat modal lagi," kata Siti yang pernah menjadi guru ini.

Dua tahun bekerja, Siti bisa membawa uang sekitar Rp25 juta. Jumlah yang tak sedikit saat itu. Hasil uangnya dibelikan beberapa alat rumah tangga dan sisanya untuk modal usaha.

Sisa alat-alat untuk membuat tenun dikumpulkan jadi satu. Dengan sisa uang hasil bekerja di luar negeri, ia membeli sekitar 12 alat tenun ikat.

Keputusan itu pun diamini suaminya. Dengan modal yang ada, kini usahanya mulai berjalan. Dalam sehari, satu alat bisa menghasilkan satu tenun ikat.

Satu per satu, alat kembali dibeli. Hingga kini, total sudah sekitar 60 mesin ada di gudang kerjanya. Dengan dibantu 115 karyawannya, Siti dan suami memenuhi permintaan pelanggan tenun ikat.

Eko, pengusaha tenun ikat ini juga mengaku pesanan kini sudah mulai berangsur ada. Ia mengakui modal adalah salah satu poin penting agar usahanya terus berkembang.

Namun, ia lebih banyak memanfaatkan modal usaha sendiri dan keluarga. Jika pun harus mengajukan pinjaman, dengan perhitungan yang sangat matang.

Siti juga mengakui modal adalah hal yang cukup penting. Ia juga mengajukan kredit untuk pengembangan usahanya.

Baca juga: Gernas BBI, 960 tenun NTT dipamerkan pada Festival Exotic Tenun 2021

Pengajuan kreditnya pun diterima bank. Namun, bukan berarti tanpa kendala. Ia pun pernah mengajukan keringanan untuk pembayaran angsuran kala pandemi awal terjadi.

"Saya ajukan kelonggaran dan akhirnya membayar bunga saja. Jadi, sama perbankan pun juga terus terang," kata dia.

Kendati saat ini usahanya cukup sukses, Siti dan suami tetap berprinsip hidup sederhana. Ia memegang prinsip agar tidak besar pasak daripada tiang.

"Jadi, sebesar apapun (pendapatan, red.), jangan besar pasak daripada tiang. Misal satu hari dapat Rp5 juta, pengeluaran Rp7 juta, itu kolaps. itu prinsipnya. Alhamdulillah kerjaan lancar," kata dia.

Perbankan dukung

Sementara itu, Branch Manager BNI Kantor Cabang Kediri Enrico Annas mengatakan sebagai perbankan, pihaknya mendukung penuh sektor UMKM dan industri di Kota Kediri agar terus berkembang.

Pihaknya turut serta memberikan layanan berupa akses pembiayaan bagi pemilik usaha dengan fasilitas bunga yang terjangkau.

Tenun ikat "Medali Mas" adalah salah satu mitra dalam program UMKM padat karya BNI. Dari hasil evaluasi yang dilakukan BNI setelah melakukan survei, usaha tersebut berpotensi berkembang. Survei itu mulai dari alamat, tahun berdiri, karyawan, jumlah alat produksi, lokasi produksi, sistem gaji, pemasaran, omzet, hingga sistem pembayaran.

"Untuk akses pembiayaan di BNI, kami salurkan untuk kredit mikro ini adalah BNI KUR, dengan bunga subsidi dari pemerintah," katanya saat seminar daring dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri, Juli 2021.

Pihaknya menilai usaha ini berpotensi untuk berkembang, terlebih lagi pemilik usaha, Siti Rukayah, juga sosok wirausahawan yang cukup sukses.

"Bu Siti ajak mitra dan karyawan dari lingkungan setempat. Dari warga yang belum memiliki pekerjaan, jadi berdayakan masyarakat sekitar. Ini ada efeknya, di kampung jadi terkenal kerajinan tenun ikat," kata dia.

Selain itu, pemasaran juga sudah cukup bagus, dengan kolaborasi dengan beberapa orang, termasuk agen travel hingga desainer sekelas Ivan Gunawan dan Didit Maulana. Dengan omzet rata-rata Rp80 juta per bulan, di luar order, UMKM tenun ikat "Medali Mas" laik didukung, termasuk untuk permodalan.

Pasang surut

Pasang surut usaha kerajinan tenun ikat yang dikelola Siti dan suami ada pasang surutnya. Namun, sebagai pengusaha yang kini sukses dirinya berharap agar warga lainnya juga bisa sukses.

Siti mengakui sedih jika ada tetangga yang nekat menjadi TKW untuk bekerja. Di negeri orang, godaan juga sangat banyak, apalagi seorang perempuan.

Baca juga: Tenun ikat motif sepe dapat sertifikat HKI

Untuk itu, ia sangat berharap usahanya ini terus berkembang. Ia tidak ingin ada tetangga yang kesulitan mencari pekerjaan, sehingga ketika ada yang meminta pekerjaan padanya selalu diberi kesempatan.

Usaha kerajinan tenun ikat milik Siti menjadi salah satu tujuan edukasi bagi pengunjung. Beragam proses pembuatan tenun ikat dilakukan, mulai dari mengenyam pola, hingga membuat tenun ikat. Pengunjung bisa melihat langsung tahapan membuat tenun ikat.

Bagi Siti, berbagi ilmu adalah hal yang sangat membahagikan hatinya. Ia tak menolak siapapun yang ingin belajar membuat tenun ikat. Dengan latar belakang apapun, setiap orang juga bisa membuat tenun ikat. Mau berusaha adalah satu-satunya cara bisa membuat kerajinan ini.

Karena dipercaya, pihaknya diberi amanat untuk ikut melakukan pelatihan dan pendampingan pada mitra kerja di Pondok Pesantren Al Falah Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri dan Lapas Kelas II/A Kediri.

Di Pesantren Al Falah, ada 10 alat, sedangkan di Lapas Kediri ada lima alat. Semua alat itu juga masih beroperasi.

"Ada 15 di mitra kerja. Dia punya alat dan setor (kain, red.) ke saya. Saya didik, ajari. Anak-anak pesantren setelah lulus bisa berkarya," kata dia.

Harapan besar juga ia ungkapkan ketika mendidik penghuni lapas. Dari penghuni itu, masih banyak yang usia produktif, sehingga saat di lapas, diberi keterampilan dan ketika keluar nantinya mereka punya bekal dan bisa berkarya.

Siti tak khawatir rejekinya diambil orang. Ia yakin bahwa rejeki setiap orang sudah diatur dan sebagai manusia harus pandai bersyukur.

"Tidak khawatir. Terbukti ada orang yang mau cari kerjaan. Omzet seluruh Indonesia, alhamdulillah," kata dia.

Tak diam

Pemerintah Kota Kediri juga tak tinggal diam dengan kondisi yang dihadapi pemilik usaha di daerah ini dan membuat beragam langkah strategis guna pemulihan ekonomi setelah lesu imbas pandemi COVID-19.

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar mengemukakan isu strategis RKPD Kota Kediri 2022 yakni pemulihan ekonomi dan kesehatan masyarakat akibat dampak COVID-19.

"Cara yang dilakukan dengan pemulihan usaha mikro dari dampak COVID-19, peningkatan jumlah wirausaha baru," katanya.

Baca juga: Perajin tenun di Sintang Kalbar tetap bertahan di tengah Pandemi

Pemkot Kediri juga sudah mengeluarkan kebijakan penyertaan modal bergulir. Melalui program pemberdayaan modal bergulir, pemilik UMKM bisa mendapatkan modal dengan bunga dua persen per tahun.

Sasaran program itu adalah UMKM di Kota Kediri dengan plafon maksimal Rp25 juta. Dengan program itu, diharapkan bisa menekan ruang gerak rentenir.

Di Kota Kediri telah terbentuk Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) sejak 2016 melalui keputusan Wali Kota Kediri. Bersama dengan OJK Kediri, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kediri, lembaga keuangan, serta dinas terkait lainnya, beragam masalah serta solusi dibicarakan bersama.

Program yang "ramah" bagi UMKM tentu sangat dibutuhkan. Bukan hanya kredit lunak dan pendampingan, dukungan juga sangat dibutuhkan agar UMKM terus berkembang.

Pemkot Kediri juga menjadikan kampung tenun ikat menjadi kampung wisata. Pemkot mengangkat kerajinan tenun menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik yang akan belanja maupun mengunjungi.

Bahkan, mereka bisa melihat secara langsung proses pembuatan tenun ikat. Namun, karena pandemi, kunjungan relatif sepi.

Perajin tenun ikat di Kediri sekitar 14 orang. Selain itu, terdapat sekitar 26 unit usaha yang terkait dengan kerajinan itu dengan melibatkan sekitar 350 tenaga kerja lokal. 

Mereka memiliki ketangguhan dalam bertahan menghadapi dampak pandemi COVID-19.

Agar warisan secara turun-temurun itu tetap lestari dan bisa diproduksi secara kreatif, inovatif, dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Baca juga: Timor Leste harapkan impor benang tenun dari Indonesia
Baca juga: Pebisnis tenun jeli cari strategi hadapi pandemi
Baca juga: Kisah tenun Watubo di Paviliun Indonesia

 
Pewarta : Asmaul Chusna
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021