KPPPA: Pemberdayaan ekonomi perempuan perlu sinergi banyak pihak

KPPPA: Pemberdayaan ekonomi perempuan perlu sinergi banyak pihak

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga. (ANTARA/ Anita Permata Dewi)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga mengatakan untuk mencapai pemberdayaan ekonomi perempuan yang optimal dibutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga masyarakat, dunia usaha dan media.

"Sinergi ini tidak hanya terbatas pada sinergi tingkat nasional namun juga internasional melalui pertemuan-pertemuan seperti pertemuan tingkat menteri urusan perempuan ASEAN ini," kata Bintang dalam webinar bertajuk Women Empowering Women in Pandemic Situation: Indonesia's Experience" yang diikuti di Jakarta, Kamis.

Namun upaya memberdayakan ekonomi perempuan masih terganjal ketimpangan gender.

Baca juga: Menteri PPPA: Pandemi COVID-19 perburuk kesenjangan gender di ekonomi

Salah satu upaya pemerintah Indonesia mengatasi hal ini adalah dengan menerbitkan strategi nasional keuangan inklusi perempuan pada tahun 2020 yang mendapat pengakuan dari Asian Development Bank sebagai kebijakan pertama dan satu-satunya di dunia.

Kementerian PPPA juga melakukan beberapa strategi seperti melakukan advokasi gender secara masif dan terstruktur dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan inklusi keuangan, menggelar pelatihan-pelatihan kewirausahaan yang berperspektif gender dan mendukung perempuan UMKM agar tumbuh dan berkembang pada masa pandemi termasuk melalui pelatihan literasi digital serta memberikan asistensi kepada perempuan pelaku usaha agar dapat mendapatkan akses pada layanan keuangan mikro.

"Dengan ketimpangan gender yang masih nyata, kita perlu memastikan perempuan mendapatkan hak akses terhadap faktor-faktor penunjang pemberdayaan ekonomi termasuk akses terhadap pembiayaan dan peningkatan literasi digital yang menjadi kunci kemajuan bisnis di masa kini dan nanti," papar Bintang.

Hal ini penting karena berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan tahun 2019, persentase perempuan dalam mengakses produk dan layanan keuangan masih lebih rendah yakni 75,15 persen dibandingkan dengan laki-laki yang sebesar 77,24 persen.

Begitu juga dengan pengguna internet perempuan lebih sedikit yaitu 46,87 persen dibandingkan laki-laki yang mencapai 53,13 persen.

Baca juga: Menteri PPPA: Fesyen batik tumbuh stabil di masa pandemi
Baca juga: Papua jadi percontohan pembentukan desa ramah perempuan-peduli anak
Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021