Media adalah oase di tengah gempuran hoaks COVID-19 di Indonesia

Media adalah oase di tengah gempuran hoaks COVID-19 di Indonesia

Tenaga Ahli Menkominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa Devie Rahmawati dalam acara media gathering bersama Kementerian Kominfo, Kamis (2/12/2021). ANTARA/Livia Kristianti/pri.

Bogor (ANTARA) - Media massa di Indonesia berperan menjadi oase yang meredam efek negatif gempuran hoaks selama pandemi COVID-19, demikian Tenaga Ahli Menkominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa Devie Rahmawati

“Kita perlu bersyukur dan bangga pada media-media di Tanah Air ini, karena bisa berperan menjadi oase di tengah masifnya hoaks ya. Bertindak dengan tepat, layaknya memilih menu makanan itu membantu Kementerian Kominfo memilihkan menu sehat terkait informasi dan berita yang benar dan bisa dikonsumsi,” ujar Devie pada Jumat, menambahkan bahwa media menjaga pemulihan nasional dari COVID-19 dapat berjalan dengan optimal.

Baca juga: Satgas COVID-19: media berperan ubah perilaku publik di masa pandemi

Dalam data yang dihimpun Kementerian Kominfo sejak 2018 hingga November 2021 total isu hoaks jika dibagi ke dalam beberapa bidang spesifik mencapai 9.265 isu dengan hoaks mengenai masalah kesehatan menempati posisi pertama berjumlah 1.962 isu.

Posisi kedua ditempati oleh hoaks mengenai isu pemerintahan sejumlah 1.804 isu, lalu disusul oleh isu politik pada posisi ketiga mencapai 1.265 isu.

Ribuan isu- isu itu jika diakumulasikan dalam bentuk konten maka diprediksi bisa menyentuh angka jutaan dan tentunya apabila tidak ditangani dengan baik maka konten- konten bermuatan negatif itu berpotensi besar merusak persatuan dan juga program- program pembangunan Indonesia.

Dengan berita- berita dari media massa yang telah terverifikasi di Dewan Pers, Kementerian Kominfo menjadikan berita-berita itu sebagai salah satu sumber rujukan dalam menangani laporan hoaks memastikan informasi itu benar atau tidak.

Untuk itu Kementerian Kominfo merasa beruntung dan mengapresiasi media massa di Indonesia yang masih banyak menerapkan etika jurnalistik sehingga setiap informasi yang menjadi konsumsi publik dapat bermanfaat.

“Kami berterimakasih teman-teman (media) punya kebesaran hati mendukung pemerintah dalam penanganan hoaks ini ya. Karena teman- teman masih bekerja mengikuti garis besar haluan media yaitu tetap objektif dan terus melakukan verifikasi dalam mencari informasi,” kata Devie.

Ia berharap media massa di Indonesia tetap dapat menjaga fungsinya sebagai penyejuk menghadirkan informasi yang edukatif mengikuti koridor sehingga persebaran hoaks dapat ditangani dengan baik dan ruang publik Tanah Air dapat berfungsi dengan maksimal.

Baca juga: Media massa dinilai punya peran penting sukseskan PON Papua

Baca juga: Menkominfo ajak media massa tangkas hadapi perubahan era digital

Baca juga: KSP: Media massa jembatan kebebasan berekspresi publik

Pewarta : Livia Kristianti
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2021