Berlin (ANTARA News) - Perombakan manajemen Volkswagen kemungkinan gagal menghasilkan momentum perubahan bagi pabrikan mobil terbesar Eropa yang penjualannya tengah anjlok di Tiongkok akibat masalah struktural itu, demikian analisis ahli industri otomotif.

VW pekan ini memperpanjang masa jabatan Chief Executive Martin Winterkorn untuk durasi dua tahun ke depan hingga akhir 2018 dan menaikkan Chief Financial Officer Hans Dieter Poetsch ke kursi Presiden.

Hal itu menyudahi ketidakpastian manajemen yang sempat melanda VW semenjak mantan presiden Ferdinand Piech diberhentikan pada April setelah perseteruan strategi dengan Winterkorn.

Namun sejumlah pengamat menilai keputusan itu memperlihatkan kegagalan memanfaatkan kesempatan untuk talenta eksternal ke dalam grup otomotif Jerman itu, yang pertumbuhan penjualan dan pendapatan tahunannya telah menutupi ceruk keuntungan dengan para pesaing serta kecacatan struktural mereka.

Perusahaan berencana mengadopsi struktur baru guna mengatasi performa buruk di luar negeri serta membidik penghematan ongkos tahunan senilai 5 miliar euro (sekira 5,55 miliar dolar AS) di divisi-divisi yang bermasalah.

"Pilihan untuk melanjutkan (dengan memperpanjang kontrak CEO Winterkorn) ketimbang menyuntik darah segar tentunya bukan perubahan radikal yang diharapkan para investor," kata Pengamat dari Exane BNP Paribas, Stuart Pearson.

Meski telah melampaui Toyota sebagai pabrikan mobil dengan penjualan terbanyak, VW terbukti sebagai perusahaan yang sulit dikendalikan karena perubahan sangat mungkin dihalangi oleh perwakilan pekerja, yang menduduki separuh dari 20 kursi dewan pengawas dan keberadaan pemerintah negara bagian Lower Saxony yang memegang 20 persen kepemilikan perusahaan.

Pendapat para pengamat juga terbelah mengenai apakah keputusan pekan ini telah membuat posisi Winterkorn menjadi lebih kuat atau lemah, mengingat ia akan terus mendorong agenda perubahan serta membawa VW ke era baru yang kemungkinan didominasi oleh teknologi swakemudi.

Penunjukan Poetsch juga memastikan bahwa Winterkorn bukanlah sosok yang bakal dijadikan presiden dari luar perusahaan, sesuatu yang sebetulnya lebih disukai oleh Piech maupun sebagian investor yang kerap mengkritik praktik sentralisasi manajemen dalam delapan tahun kepemimpinan sang CEO.

Salah seorang sumber dekat perusahaan mengatakan bahwa keterlibatan personal Winterkorn dalam strategi produk dan kendali kualitas kerap menunda peluncuran model-model baru seperti VW Golf dan Lamborghini Aventador.

Mendapat angin dari perpanjangan kontraknya, Winterkorn mungkin akan meminta kepala merek VW Herbert Diess dan Poetsch untuk terus menerobos penyusutan yang terjadi dan menata ulang pabrik-pabrik mahal di Jerman yang dianggap penting untuk membangkitkan merek VW, kata pengamat.

Ini bisa mengancam posisi Diess, mantan pimpinan BMW yang baru bergabung dengan VW pada Juli, bakal terancam mengingat perwakilan pekerja VW punya rekam jejak menggulingkan para pemotong ongkos, termasuk yang terjadi dengan mantan CEO Bernd Pischetsrieder dan mantan kepala merek VW Wolfgang Bernhard.

Pun demikian, sejumlah pengamat menilai posisi Winterkorn melemah setelah ia kembali menerima wewenang terbatas dengan menyerahkan kepemimpinan merek ke Diess dan mungkin tidak akan bisa memenuhi ambisinya sebagai Presiden apabila Poetsch menjalani masa jabatannya secara penuh. Sementara jabatan yang ditinggalkan Poetsch bakal diisi orang pilihan dewan direksi pada November nanti.

Salah seorang sumber dekat VW sempat mengatakan sang CEO mungkin bakal meninggalkan jabatannya sebelum 2018, apabila pabrikan telah mencapai efisiensi target dan menerapkan perubahan struktural, dengan sosok pengganti potensial seperti Diess dan CEO Porsche Matthias Mueller.

"VW tengah berusaha mencari ketenangan di masa-masa sulit demi mengatasi masalah struktural mereka. Kita tinggal menunggu apakah perombakan bakal membantu VW lebih maju," kata kepala lembaga konsultan Center of Automotive Management, Stefan Bratzel, yang bermarkas di Cologne, demikian Reuters.


Penerjemah: Gilang Galiartha
Copyright © ANTARA 2015