Warga Trenggalek lempar kepala kerbau ke dasar Sungai Bagong

Warga Trenggalek lempar kepala kerbau ke dasar Sungai Bagong

Panitia nyadaran melempar kepala kerbau ke dasar sungai Bagong dari atas bendung/dan Bagong, Trenggalek, Jumat (19/7) (Destyan Handri Sujarwoko)

Trenggalek, Jatim (ANTARA) - Puluhan warga di Kota Trenggalek mengarak dan melempar kepala kerbau ke dasar Sungai Bagong dalam ritual "nyadranan" (larungan/labuhan) yang menjadi tradisi tahunan setiap Jumat Kliwon Bulan Selo dalam penanggalan Jawa, Jumat.

Ritual adat itu menjadi tontonan ratusan warga sekitar, terutama saat kepala dan bagian tubuh lain seperti kaki-kaki dan kulit kerbau dijatuhkan panitia nyadranan dari bibir Dan atau bendung irigasi ke dasar sungai.

Tradisi ini unik dan menarik perhatian warga dan sejumlah wisatawan karena kepala kerbau yang dilempar diperebutkan warga yang sudah menunggu di bawah dengan cara menyelam ke dasar sungai.

"Ini wujud syukur petani di sini dalam bentuk sedekah bumi. Keberadaan dan irigasi ini telah membantu pengairan sawah petani yang tersebar, terutama di dua kecamatan di Trenggalek dan Pogalan," kata Ketua Panitia Pelaksana Nyadranan Dan Bagong, Gunarji.

Tradisi ini sudah berlangsung turun temurun yang melibatkan ratusan petani yang tinggal di aliran Sungai Bagong.

Dulu, cerita Gunarji, Nyadranan di dam Bagong yang diinisiasi oleh Ki Ageng Menak Sopal, seorang Adipati di awal babad kabupaten Trenggalek yang kemudian ditasbihkan sebagai tokoh pahlawan pertanian di Trenggalek karena berjasa membangunkan bendung irigasi Dam Bagong pada abad XVI.

"Karena jasa beliau membuat Dam Bagong ini bisa mengairi sawah lebih dari 800 hektare," kata dia.

Dulu Ki Ageng Menak Sopal mengejar nyadranan dengan tumbal kepala gajah berwarna putih. Tapi sekarang langka, kini tumbal diganti kepala kerbau.

Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin yang turut hadir dan mengikuti prosesi Nyadranan mulai wayangan, nyekar di makam Ki Ageng Menak Sopal hingga prosesi larungan di Dam Bagong, sangat mengapresiasi kegiatan adat tersebut.

Ia berharap ritual adat itu tidak perlu lagi diperdebatkan atau dibenturkan dengan urusan keagamaan karena menurutnya tradisi petani semacam Nyadranan di Dam Bagong pada esensinya adalah wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Ritual ini juga sebagai bentuk syukur dan penghormatan terhadap jasa leluhur, terutama Ki Ageng Menak Sopal yang telah membangunkan jaringan irigasi Dam Bagong untuk petani di Trenggalek ini," kata Bupati Arifin.

Arifin menegaskan kegiatan Nyadranan ini terselenggara berkat sedekah dan zakat para petani yang tergabung dalam Gapoktan-gapoktan di sekitar Trenggalek yang bersyukur karena pertanian di daerahnya subur sepanjang musim berkat keberadaan dan Bagong tersebut.

Selain dari sumbangsih ratusan petani dan warga sekitar, upacara adat bersih Dam Bagong memperingati jasa Pahlawan Tani Ki Ageng Menak Sopal juga di suport oleh Pemerintah Kabupaten Trenggalek melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dengan kegiatan pagelaran seni budaya. 

Baca juga: Pengrajin Batik Gelar Ritual Sedekah Bumi

Baca juga: Festival Tangerang libatkan 1.500 seniman

 
Pewarta : Destyan H. Sujarwoko
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019