Pontiana (ANTARA) - Petani tanaman aloevera atau lidah buaya di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mulai kesulitan memenuhi permintaan yang terus meningkat selama setahun terakhir.

"Kami kesulitan dan hanya mampu menyediakan sesuai kemampuan lahan yang ada," kata Su Achai, (33), petani aloevera di Sungai Selamat, Siantan, Pontianak Utara, Minggu.

Menurut dia, dalam seminggu dirinya hanya mampu menyediakan aloevera sebanyak 500 kilogram. "Sedangkan permintaan jauh lebih banyak dari itu," kata Su Achai yang sudah delapan tahun bertani.

Ia menambahkan, beberapa tahun lalu banyak petani yang menanam lidah buaya di kawasan itu.

Namun, lanjut dia, petani kurang mendapat hasil karena permintaan masih didominasi satu perusahaan pengolahan air minum dari lidah buaya.

"Terkadang tiga bulan sekali operasional. Harga jadi rendah," kata dia.

Ia mengungkapkan, harga pada masa itu berkisar antara Rp800 - Rp1.000 per kilogram.

Saat ini harganya lebih baik. "Sudah sekitar Rp1.200 per kilogram," kata Su Achai.

Menurut dia, industri rumahan pengolah lidah buaya yang semakin marak di Kota Pontianak dan sekitarnya ikut mendorong tingginya permintaan.

"Mulai dari manisan, dodol, air minuman, permen dan sebagainya. Ini ikut mempengaruhi permintaan aloevera," kata Su Achai.

(T011)

Pewarta:

Editor : Zaenal A.


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2012