Pontianak (Antara Kalbar) - Ketua Komisi Pemilihan Umum Provinsi Kalimantan Barat Umi Rifdiyawati menutup rapat pleno terbuka rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara partai politik dan calon anggota DPD tingkat Provinsi Kalbar pada Pemilu 2014 di Pontianak, Jumat (25/4) malam.


Meski saat itu belum ditetapkan oleh KPU Pusat, namun gambaran siapa wakil-wakil rakyat dari Kalbar di Senayan, sudah terlihat. Yang menarik adalah di DPD RI. Nama-nama baru akan mendominasi calon anggota Dewan Perwakilan Daerah RI dari Provinsi Kalimantan Barat untuk periode 2014 - 2019.


Dari tiga petahana, hanya satu yang bertahan. Yakni atas nama Maria Goreti. Ia juga memperoleh dukungan terbanyak, yakni 246.329 suara. Ini merupakan periode ketiga bagi sosok yang sederhana tersebut.


Figur lain yang lolos adalah Oesman Sapta. Pengusaha nasional yang berkibar dengan OSO Grup itu sangat terkenal di Kalbar. Pria kelahiran Sukadana, Kabupaten Kayong Utara itu mendapat 188.528 suara. Bagi Oesman Sapta, Senayan bukanlah hal baru. Pada 1999-2004, ia pernah menjadi anggota MPR dari Fraksi Utusan Daerah.


Kemudian ada sosok Abdul Rahmi. Pria yang sebagian rambutnya sudah memutih ini pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Kalbar sebelum periode 2009 - 2014 dari Partai Keadilan Sejahtera. Ia memperoleh suara ketiga terbanyak, yakni 185.625 suara.


Di posisi terakhir dari empat besar calon terpilih anggota DPD RI asal Kalbar, ada Rubaeti Erlita. Ia adalah istri dari Wakil Ketua DPD Provinsi Kalbar dari Partai Golkar, Prabasa Ananta Tur. Rubaeti mendapat 139.856 suara.


Ia dikenal melalui beragam aktivitas yang berkaitan dengan perempuan, seperti Ketua Gerakan Organisasi Wanita dan Wakil Ketua Tim Penggerak PKK di Kabupaten Sambas saat Prabasa menjabat sebagai wakil bupati tahun 2001-2006. Kemudian menjadi Ketua Perempuan Ormas Musyawarah Kerja Gotong Royong (MKGR), aktif di Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), serta kerap berceramah di berbagai daerah di Kalbar.


Dua petahana lain, yakni Hairiah dan Ishaq Saleh, masing-masing mendapat 131.492 suara dan 58.262 suara.


Calon DPD RI asal Kalbar yang bertarung pada Pemilu 2014 sebanyak 34 orang. Satu petahana atas nama Erma S Ranik bertarung melalui jalur partai politik, Partai Demokrat untuk DPR RI.


Mereka nantinya akan disebar di empat komite. Yakni komite I (membidangi otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah), Komite II (pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya manusia), Komite III (pendidikan dan agama), dan Komite IV (RAPBN, perimbangan keuangan pusat dan daerah, memberikan pertimbangan hasil pemeriksaan keuangan negara dan pemilihan anggota BPK, serta pajak).





Partai Bervariatif


Sementara untuk DPR RI, sebanyak delapan partai akan menempatkan wakilnya dari daerah pemilihan Kalbar yang memperebutkan 10 kursi. Ini lebih banyak dibanding periode 2009 - 2014 yang menempatkan enam partai. PDI Perjuangan, Partai Demokrat, Golkar, PPP, PAN dan PKS.


Kali ini, PDI Perjuangan tetap mempertahankan tiga orang wakilnya di Senayan. PDI Perjuangan sekaligus yang paling banyak menempatkan kadernya di tingkat DPR RI dari Kalbar.


Ketiganya yakni Karolin Margret Natasa, Lasarus dan Michel Jenno. Karolin bahkan mendapat 397.481 suara, hampir 50 persen dari suara yang diperoleh PDI Perjuangan. Secara keseluruhan, PDI Perjuangan mendapat 817.770 suara atau 33 persen dari 2.478.622 suara sah.


Bilangan pokok pembagi untuk mendapat satu kursi di DPR RI dari Kalbar yakni 247.863 suara karena jumlah kursi yang diperebutkan 10 buah.


Tujuh partai lain masing-masing menempatkan satu orang wakilnya di DPR RI.


Yakni Partai Golkar atas nama Zulfahdli, Partai Gerindra atas nama Katherine A O Ondoen, Partai Demokrat atas nama Erma S Ranik.


Kemudian Partai Amanat Nasional atas nama Sukiman, Partai Nasional Demokrat atas nama Syarif Abdullah Alkadrie, Partai Persatuan Pembangunan atas nama Usman Ja`far, dan Partai Kebangkitan Bangsa atas nama Daniel Johan.


Nama-nama tersebut berdasarkan jumlah suara yang diperoleh partai dan suara terbanyak di partai masing-masing.


Total suara Partai Golkar 348.986 suara, dibagi BPP 247.683 mendapat satu kursi, sisa 108.123 suara.


Partai Gerindra, mendapat 236.281 suara, lebih kecil dibanding BPP dan mendapat satu kursi.


Penentuan jumlah kursi selanjutnya berdasarkan suara terbanyak karena tidak ada yang mampu melewati BPP.


Partai Demokrat mendapat 196.890 suara, mendapat satu kursi. Partai Amanat Nasional mendapat 196.212 suara, mendapat satu kursi.


Partai Nasdem mendapat 168.741 suara, mendapat satu kursi. Partai Persatuan Pembangunan mendapat 136.564 suara, mendapat satu kursi. Partai Kebangkitan Bangsa mendapat 117.937 suara, mendapat satu kursi.


Sementara PKS, PKPI, PBB dan Hanura, tidak menempatkan wakilnya di DPR RI dari Kalbar. Periode 2009 - 2014, PKS menempatkan satu wakil di DPR RI, sedangkan PKB dan Gerindra tidak menempatkan wakilnya.





Masalah Bersama


Karolin Margret Natasa yang kini masih menjadi anggota DPR RI mengakui, infrastruktur, kesehatan dan pendidikan masih menjadi permasalahan utama di Kalbar.


Komisi IX, yang ia tangani saat ini, membidangi masalah kesehatan dan tenaga kerja. Sesuai dengan latar belakang Karolin sendiri adalah seorang dokter umum.


Ia berharap, dalam penempatan komisi pada periode berikutnya, tidak jauh-jauh dari pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. "Agar bisa memperjuangkannya untuk Kalbar," ucapnya.


Sementara Syarif Abdullah Alkadrie menilai, posisi Kalbar yang sangat strategis dengan kekayaan alam yang berlimpah belum dimanfaatkan secara maksimal.


"Persoalan lain di Kalbar adalah indeks pembangunan manusia yang masih tertinggal dibanding provinsi lain di Kalimantan, serta secara nasional," kata Syarif Abdullah. Kemudian, permasalahan infrastruktur yang belum menjangkau hingga daerah terpencil serta kerusakan yang membuat biaya operasional meningkat yang akhirnya dibebankan ke masyarakat.


Sedangkan Daniel Johan, yang juga Staf Khusus Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, punya tekad untuk mendorong penguatan desa sekaligus memajukan potensi lokal guna mencapai kesejahteraan masyarakat dan pemerataan pembangunan secara luas.


Sementara untuk Provinsi Kalbar, ia menilai sektor pertanian dan perikanan sangat potensial. Menurut dia, dukungan untuk kedua sektor tersebut hingga ke industri kecil sangat penting guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


"Misalnya dengan membangun jalan-jalan tani dan desa. Ini sangat penting agar akses produk ke pasar menjadi tidak mahal," kata Daniel Johan.


Semua sepatutnya sepakat bahwa ketika sudah duduk mewakili Kalbar di kancah nasional, sepatutnya tidak perlu ada egoisme kepartaian serta pribadi. "Jangan lagi terkotak-kotak karena beda partai, semua harus kompak atas nama Kalbar," kata Syarif Abdullah menegaskan.


Daniel Johan menambahkan, perlu dibangun komunikasi yang efektif sesama wakil rakyat asal Kalbar di tingkat pusat. "Ayo bersama bangun Kalbar. Ini sesuai dengan semangat kita saat menemui konstituen," ajak Daniel Johan.

Pada Minggu (27/4), KPU Pusat telah menggelar rapat pleno untuk daerah pemilihan Kalbar. Semoga mereka yang terpilih, mampu membawa amanah masyarakat Kalbar di tingkat Nasional.


(T011/Z003)

Pewarta: Teguh Imam Wibowo

Editor : Teguh Imam Wibowo


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2014