Jakarta (Antara Kalbar) - Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menyatakan bahwa pertahanan dan ekonomi tak dapat dipisahkan, bahkan hubungan pertahanan dan ekonomi bagaikan sisi dua mata uang.

"Sebuah negara dengan pertumbuhan ekonomi baik, dapat dipastikan kekuatan militernya terbangun dengan baik. Contoh saja China," kata Panglima TNI saat membuka kuliah umum tentang ekonomi yang dipaparkan oleh guru besar Boston University, Profesor Gustav Papanek di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis.

Moeldoko pun mengajak seluruh jajaran anggota TNI untuk berusaha semaksimal mungkin menjaga ketenteraman wilayah Indonesia. Hal ini akan berdampak pada kesediaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia atau tidak.

"Dari awal saya telah berkata dengan lantang mengatakan bahwa panglima TNI akan menjamin kepada investor untuk datang ke Indonesia," ucapnya.

Kuliah yang mengambil tema "21 Million Good Jobs and Double Digit Growth" dengan judul makalah 'Economic Choices Facing the New President' (Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru) tersebut, dilaksanakan sejalan dengan dinamika perkembangan situasi saat ini yang menuntut adanya wawasan dalam berbagai disiplin ilmu bagi para perwira TNI, termasuk pengetahuan tentang perekonomian.

Disamping itu, hal ini juga sejalan dengan upaya peningkatan profesionalisme prajurit, salah satu langkah yang dilakukan adalah mendapatkan informasi sebanyak mungkin tentang perkembangan yang terjadi di luar TNI.

Kuliah umum ekonomi itu diikuti oleh 408 peserta berpangkat Kolonel ke atas di lingkungan Mabes TNI se-Jabodetabek, dengan rincian 107 orang berpangkat Perwira Tinggi dan 301 orang berpangkat Kolonel.

Profesor Gustav F. Papanek adalah Profesor Emiritus bidang Ekonomi di Universitas Boston, sekaligus Presiden Boston Institute for Developing Economies (BIDE).

Prof Papanek telah aktif di Indonesia sejak awal tahun 1960-an ketika menjabat sebagai Director of Harvard's Development Advisory Service, cikal bakal Harvard Institute for International Development (HIID).

Dari tahun 1969 hingga Desember 1973, pernah menjabat sebagai Ketua Kelompok Penasihat Harvard untuk Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kementerian Keuangan. Pada periode 1987 hingga 1988, menjabat sebagai Ketua Kelompok Penasihat BIDE untuk Bappenas.

Sebagai Profesor Ekonomi dan Ketua Departemen Ekonomi di Boston University, juga melatih beberapa generasi ahli ekonomi Indonesia, yang banyak di antaranya mempunyai karir cemerlang dalam bidang akademik dan pemerintahan.

Disamping itu, juga masih aktif memberikan nasihat kepada pemerintah dan organisasi internasional tentang strategi pembangunan, pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan pekerjaan, serta isu-isu ekonomi lainnya.

Pewarta: Syaiful Hakim

Editor : Zaenal A.


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2014