Semarang (Antara Kalbar) - Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa menilai penyalahgunaan narkoba tidak hanya menjadi bencana sosial, karena jika tidak segera diatasi bersama maka bisa jadi menjadi hal yang lebih besar yaitu bencana kemanusiaan.

"Narkoba saat ini sudah menjadi bencana sosial. Makanya kalau kita tidak segera mengambil langkah efektif dan bekerja sama dengan banyak pihak bisa saja menjadi bencana kemanusiaan," kata Khofifah di sela kunjungan kerja ke Semarang, Jawa Tengah, Sabtu.

Menurut dia, peredaran narkoba di Indonesia sudah dalam tahap mengkhawatirkan karena peredarannya tidak hanya di kota, namun saat ini sudah menyasar pengguna di pedesaan. Adapun sasarannya juga bertambah. Tidak hanya remaja dan dewasa, usia anak-anak juga menjadi sasaran.

"Banyak cara dilakukan pengedar. Bahkan melalui permen, perangko dan banyak lainnya. Makanya kita semua harus benar-benar waspada termasuk memantau pergerakan anak kita," katanya menambahkan.

Tidak hanya masyarakat umum, bandar narkoba juga mengincar orang-orang yang sebenarnya sudah mengetahui bahaya jika memakai narkoba. Bahkan, saat ini beberapa pejabat bahkan juga kedapatan memakai barang tersebut dan akhirnya harus berurusan dengan pihak berwajib.

"Ada bupati yang baru dilantik dua bulan ditangkap polisi. Jadi tidak hanya masyarakat umum yang menjadi sasaran. Semuanya bisa berpeluang," kata menteri asal Surabaya itu.

Dengan merebaknya penyalahgunaan narkoba, kata dia, peran serta masyarakat untuk menanggulanginya harus digalakkan. Cara paling mudah yang harus dilakukan adalah memantau aktifitas anggota keluarga. Selain itu juga melalui sosialisasi yang melibatkan pihak terkait.

Saat ini tidak hanya Badan Narkotika Nasional (BNN) saja yang melakukan sosialisasi, namun organisasi kemasyarakatan, sekolah-sekolah juga dilibatkan. Sasarannya tidak hanya masyarakat perkotaan, namun harus menyeluruh hingga tingkat desa.

Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan itu menjelaskan, sosialisasi sendiri harus dilakukan secara detail karena narkoba sendiri terus bertambah jumlahnya. Selain sosialisasi bahayanya, poin penting lainnya adalah bagaimana jika menemukan pencandu narkoba termasuk sistem rehabilitasinya.

"Ngelem yang cukup dikenal pada era 2000-an muncul lagi. Ini akan kembali menjadi sebuah fenomena karena merupakan bisnis yang menggiurkan. BNN saja mencatat dalam satu tahun belanja narkoba di Indonesia menembus angka Rp72 triliun," kata wanita yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU itu. 

(B016/Santoso)

Pewarta: Bayu Kuncahyo

Editor : Nurul Hayat


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2016