Pontianak (Antara Kalbar) - Perayaan Qing Ming atau Ceng Beng bagi warga Tionghoa merupakan bentuk penghormatan dan bhakti terhadap orang yang lebih tua atau leluhur yang sudah meninggal, kata Ketua Umum Kaum Muda Tionghoa Kalimantan Barat, Steven Greatness.

"Kalau di Indonesia, dikenal juga sebagai Sembahyang Kubur," kata Steven di Pontianak, Rabu.

Ia menjelaskan, ada banyak penyebutan dari Qing Ming seperti Chin Min atau Chiang Miang dalam dialek Hakka, Cheng Meng dialek Tew Ciu, dan Ceng Beng dialek Hokkian.

Secara harfiah berarti jelas terang, merupakan waktu atau periode ke-5 atau 15 hari sesudah periode Chun Fen (periode ke-4) di antara 24 Jie Qi dalam tiap tahun Imlek.

Dalam sejarahnya, di negeri Tiongkok pada umumnya 15 hari ini cuaca terang benderang dan kesempatan ini dimanfaatkan warga Tionghoa untuk sembahyang kubur atau Ching Ming.

Kegiatan tersebut sudah ada sejak Dinasti Qin (221 SM - 206 SM) dan meluas pada Dinasti Shui (581 - 618). Saat Dinasti Tang (618 - 907) berkembang dan menyebar merata ke seluruh daratan Tiongkok.

"Bahkan terbawa oleh para perantau Tionghoa di mana mereka tinggal, termasuk di Indonesia, khususnya di Kalbar yang kemudian disebut tradisi budaya leluhur," kata Steven.

Ia menambahkan, warga Tionghoa melaksanakan sembahyang kubur sesuai situasi dan kondisi atau memperhatikan kearifan lokal setempat.

Sebab yang menjadi utama dari sembahyang kubur adalah Xao Moh, yaitu membersihkan kuburan atau berziarah.

"Dengan melakukan Xao Moh, menandakan bahwa kuburan atau nisan tersebut memiliki keturunan yang masih hidup serta memeliharanya, mendoakan sanak keluarga yang sudah mendahului pergi ke alam baka serta mohon berkah," ujar Steven.

Bagi umat penganut Sam Kaw atau Tri Dharma, persembahan yang digunakan saat sembahyang kubur berupa dupa, lilin, pakaian atau uang kertas alam baka, serta tiga jenis daging, buah dan teh.

Uang kertas baka sebagian besar dibakar dan sebagian kecil disebarkan di sekeliling dan di atas kuburan yang dinamakan Kua Ci (Hakka), Kwe Coa (Tew Ciu dan Hokkian) yang berarti menyebar kertas sembahyang.

"Kegiatan tersebut menandakan barusan ada keturunan atau keluarga yang datang berziarah dan sembahyang," kata dia.

Sementara bagi penganut agama atau kepercayaan lainnya berziarah ke pemakaman leluhur dapat disesuaikan tata cara sembahyang menurut keyakinan masing-masing tanpa menghilangkan makna dan tujuan dari ziarah kubur tersebut.

Tahun ini, untuk April puncaknya pada Selasa (4/4).

Ia menambahkan, ada fenomena menarik yang terjadi terkait pelaksanaan Ceng Beng terutama dalam kurun dua atau tiga tahun terakhir di Sungai Pinyuh dan Singkawang. Mereka melaksanakan Ceng Beng ini pada sore hari, alasannya karena di dunia siang di alam baka sama dengan malam hari.

"Ada sedikit pergeseran, tetapi tidak mengurangi makna dari ritual tersebut yakni penghormatan dan tanda bhakti kepada leluhur," ujar dia.

Menurut Steven, ada sisi lain yang dapat dipetik dari ritual Ceng Beng yakni berkumpulnya sanak saudara dalam ziarah makam. "Karena biasanya setelah Ceng Beng, kita kumpul makan bersama keluarga," ujar dia.


Pewarta: Teguh

Editor : Teguh Imam Wibowo


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2017