Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan pengembangan ekosistem syariah harus berbasis pada teknologi digital dan mengutamakan kearifan lokal di berbagai daerah.

“Perlu ada terobosan pengembangan ekosistem syariah berbasis digital yang terintegrasi dan diselaraskan dengan kearifan lokal,” kata Wapres Ma’ruf Amin saat menghadiri acara Silaturahmi dengan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) di Gedung The Tower Jakarta, Jumat.

Penerapan kearifan lokal tersebut, lanjut Wapres, perlu dilakukan karena kondisi perekonomian dan sosial masyarakat di setiap daerah berbeda-beda.

Wapres juga mengingatkan MES untuk memberikan pendampingan dan bimbingan kepada pondok pesantren, sehingga para santrinya dapat menjadi terampil berwirausaha selain juga pintar mengaji.

“Pesantren ini tentu masih memerlukan pendampingan termasuk pembekalan bagi para santri, sehingga terbentuk lebih banyak santripreneur. Disebutnya namanya itu Gus Iwan, santri bagus, pintar mengaji dan usahawan,” jelasnya.

Dengan pendampingan tersebut, maka pemberdayaan ekonomi tidak hanya berguna bagi para santri, melainkan juga bermanfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar pondok pesantren.

Oleh karena itu, upaya inklusi dan edukasi keuangan syariah berbasis pesantren harus diakselerasi dengan melibatkan partisipasi aktif seluruh pihak, katanya.

Wapres juga berpesan agar kolaborasi dan inovasi yang telah dilakukan dapat berkembang, sehingga kontribusi ekonomi dan keuangan syariah pada pemulihan ekonomi nasional dapat terwujud.

“Mari bersama-sama kita mengupayakan inovasi dan kolaborasi secara nyata, demi mewujudkan visi ekonomi dan keuangan syariah yang semakin memajukan dan menyejahterakan masyarakat Indonesia,” ujar Wapres.

Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa turut menghadiri acara halal bihalal Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) di Gedung BSI tersebut. Hadir pula Ketua Dewan Penggerak Mahfud MD, Ketua Umum MES Erick Thohir, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, serta Direktur Utama Bak Syariah Indonesia Hery Gunadi.

Pada kesempatan yang sama, dilaksanakan penandatanganan MoU antara Pertamina, MES, dan BSI. Ifan mengatakan, kesepakatan itu sekaligus melanjutkan sinergitas bersama Kementerian BUMN yang dimulai dengan peresmian Pertashop di Cilacap pada April silam, dilanjutkan pertemuan dengan pimpinan pondok pesantren se-Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

Fanshurullah Asa mengatakan, sesuai UU Migas pasal 8 dan 46, kehadiran Pertashop ditegaskan sebagai bentuk Penyalur Skala Kecil yang menjamin ketersediaan dan distribusi BBM, yaitu mini SPBU nonsubsidi. Menurut Ifan, pihaknya tengah menjalin kolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada dalam upaya membuat peraturan Penyalur Skala Kecil yang memiliki ketentuan jarak antara penyalur mini, juga terhadap SPBU selaku penyalur utama.

"Saat ini sudah ada Pertamina dengan Pertashop, juga Exxon Mobil dengan microsite-nya dan yang sudah jalan dengan total sekitar 1.750 lokasi tersebar di NKRI. Dalam waktu singkat kami dapat tembusan surat pemain baru juga akan masuk ke mini SPBU atau microsite BBM ini, yaitu grup British Petrolium (BP) dengan AKR," ungkap Ifan, panggilan akrabnya.

Ifan menilai hal ini positif karena memberi alternatif pilihan BBM nonsubsidi dan berkualitas kepada masyarakat, sekaligus membantu pemerintah untuk mengubah konsumsi BBM dari premium atau pertalite ke RON 92 yang ramah lingkungan.

Sementara, Erick Thohir menyampaikan bahwa sistem pendukung dan kontinuitas penting untuk menciptakan keseimbangan dalam perekonomian. Untuk itu, MES diharapkan dapat menjadi lokomotif penggerak ekonomi berbasis syariah yang unggul dan berkelanjutan, mendorong sinergi atau kemitraan antara pengusaha besar dan pelaku UMKM.

Erick kemudian mencontohkan pencanangan kerja sama 1.000 Pertashop antara Pertamina dengan pesantren yang didukung Bank Syariah Indonesia sebagai salah satu langkah konkrit pemberdayaan ekonomi syariah di lingkungan pesantren.

"Harapan saya kerjasama antara MES dan BUMN bisa diperluas cakupannya," katanya Erick. Menurut Erick, iklim investasi diciptakan untuk kepentingan semua kalangan demi menciptakan keseimbangan dalam kehidupan perekonomian,

"Tidak hanya investor asing, tapi juga lokal. Tidak hanya memajukan ekonomi perkotaan tapi juga desa, tidak hanya mendorong startup, tapi juga bagaimana koperasi dan warung bisa berkembang," kata Erick.


 

Pewarta: Fransiska Ninditya

Editor : Teguh Imam Wibowo


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2021