Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyatakan kawasan dataran tinggi lebih baik menjadi hutan daripada ditanami tanaman jenis palawija atau hortikultura untuk menghindari ancaman bencana, seperti tanah longsor.
"Bagian yang tinggi selalu lebih baik menjadi hutan daripada menjadi tanaman palawija karena bahayanya lebih tinggi," katanya menanggapi masalah longsor Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, setelah meninjau pengelolaan sampah di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Minggu.
Ia menjelaskan kecenderungan dataran tinggi saat ini ditanami jenis tanaman subtropis, seperti kentang, kol, dan paprika yang membutuhkan lahan dengan ketinggian 800-2.000 meter di atas permukaan laut.
Penanaman jenis hortikultura di dataran tinggi itu, kata dia, dampak kebutuhan pangan masyarakat terhadap jenis pangan tersebut sehingga perlu memikirkan pola makan yang mengurangi jenis tanaman subtropis.
"Ini imbauan saya tentu mau enggak mau juga kita harus memikirkan ulang pola makan kita, mengurangi, mohon maaf ya, mengurangi tanaman-tanaman subtropis semisal kentang, kol, paprika," katanya.
Ia mengatakan jenis tanaman hortikultura itu sebenarnya bukan endemi tanaman Indonesia.
Untuk itu, katanya, sebaiknya lahan dataran tinggi ditanami dengan jenis tanaman sesuai dengan khas Indonesia.
"Kita kembalikan sama tanaman asli Indonesia yang kemudian tidak memerlukan tempat tumbuh yang tinggi," katanya.
Ia menjelaskan tentang pandangan tersebut melihat dari adanya tanah longsor di Bukit Burangrang, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat yang diketahui batasan antara hutan dengan pemukiman warga terdapat lahan ditanami jenis tanaman semusim atau hortikultura.
Jika lahan dataran tinggi diubah menjadi kawasan hutan, kata dia, tentu dapat menghindari risiko besar terjadinya bencana alam, seperti tanah longsor.
"Jika seandainya menjadi hutan tentu akan mampu mencegah sesuatu yang tidak kita inginkan," katanya.
Editor : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2026