Yogyakarta, 6/4 (ANTARA) - Erupsi Gunung Merapi 2010 bukan semata-mata "peristiwa alam", tetapi juga menjadi "peristiwa media", kata Koordinator Tim Peneliti Merapi Laboratorium Antropologi Untuk Riset dan Aksi Bambang Hudayana.
"Menjadi 'peristiwa media' karena jumlah dan bentuk media massa yang berperan dan bersaing dalam meliput peristiwa erupsi Merapi 2010 cukup banyak," katanya di Yogyakarta, Jumat.
Menurut dia, dalam peristiwa erupsi Merapi 2010, peran media massa memiliki arti penting dalam peliputan, pemberitaan, dan pembentukan narasi mengenai bencana tersebut.
Ia mengatakan peran positif media massa dalam keterkaitannya dengan bencana erupsi Merapi itu antara lain pemberitaan media massa bisa memicu dan memperluas solidaritas yang berakibat pada meningkatnya jumlah bantuan dan relawan.
Media massa juga bisa menjadi alat kontrol dan pengawas proses penanggulangan bencana oleh berbagai pihak terkait, serta bisa menjadi alat artikulasi dari korban bencana.
Selain itu, menurut dia, juga bisa mendesiminasikan kisah-kisah kemandirian masyarakat dalam pengurangan risiko bencana, sehingga memicu komunitas lain untuk melakukan hal yang sama.
Namun, kata dia, media massa juga mendapat sorotan dan kritikan, karena dianggap lebih banyak mendramatisasi peristiwa bencana dan kondisi korban untuk kepentingan bisnis media itu sendiri, mendistorsi informasi agar mendapat perhatian penonton.
(B015)
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2012
"Menjadi 'peristiwa media' karena jumlah dan bentuk media massa yang berperan dan bersaing dalam meliput peristiwa erupsi Merapi 2010 cukup banyak," katanya di Yogyakarta, Jumat.
Menurut dia, dalam peristiwa erupsi Merapi 2010, peran media massa memiliki arti penting dalam peliputan, pemberitaan, dan pembentukan narasi mengenai bencana tersebut.
Ia mengatakan peran positif media massa dalam keterkaitannya dengan bencana erupsi Merapi itu antara lain pemberitaan media massa bisa memicu dan memperluas solidaritas yang berakibat pada meningkatnya jumlah bantuan dan relawan.
Media massa juga bisa menjadi alat kontrol dan pengawas proses penanggulangan bencana oleh berbagai pihak terkait, serta bisa menjadi alat artikulasi dari korban bencana.
Selain itu, menurut dia, juga bisa mendesiminasikan kisah-kisah kemandirian masyarakat dalam pengurangan risiko bencana, sehingga memicu komunitas lain untuk melakukan hal yang sama.
Namun, kata dia, media massa juga mendapat sorotan dan kritikan, karena dianggap lebih banyak mendramatisasi peristiwa bencana dan kondisi korban untuk kepentingan bisnis media itu sendiri, mendistorsi informasi agar mendapat perhatian penonton.
(B015)
Editor : Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2012