Pontianak (ANTARA Kalbar) - Direktur RSUD Sanggau, dr Fadly Persi mengatakan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sanggau hingga kini memang belum terjadi lonjakan sehingga statusnya belum menjadi kejadian luar biasa (KLB).

"Meski status DBD di Sanggau belum KLB, namun kita kejadiannya tidak seperti pada tahun 2009 yang lalu, dimana jumlah pasien melebihi kapasitas. Sehingga pasien terpaksa sampai ke luar-luar ruangan untuk perawatan," katanya di Sanggau, Jumat.

Fadli menuturkan, kepada orangtua maupun masyarakat agar dapat mengantisipasi sejak dini agar tidak terjadi DBD. Tentunya dengan upaya-upaya antisipasi agar nyamuk aedes aegypti tidak membesar.

Sementara itu, dokter spesialis anak (SPA), dr Harry Iskandar mengimbau orangtua untuk mengantisipasi sejak dini gejala atau tanda-tanda terutama pada anak-anak. Jika anak-anak sudah mengalami kondisi badan panas lebih dari 40 hingga 48 jam untuk segera diperiksakan ke pelayanan kesehatan terdekat.

"Jika ada gejala atau tanda-tanda pada anak-anak atau orang dewasa yang mengalami demam sekitar 40 sampai 48 jam atau dua hari itu harus segera diperiksakan ke tempat pelayanan kesehatan untuk memastikan gejala itu," tuturnya.

Harry mengatakan, antisipasi sejak dini diperlukan oleh orangtua agar anak tidak terkena penyakit DBD. Antisipasi paling penting menurutnya yakni jangan sampai anak-anak tergigit nyamuk aedes aegypti.

"Intinya jangan sampai digigit nyamuk DBD, biasanya paling sering itu sekitar pukul 10.00 hingga pukul 14.00," kata Harry.

Dia mengimbau, kepada orangtua untuk mengantisipasi agar anak-anaknya tidak tergigit nyamuk itu. Hal itu bisa dilakukan dengan cara menggunakan losion anti gigit nyamuk, minyak serai, pakai kelambu, racun nyamuk dan pengusir nyamuk lainnya.

"Pencegahan paling efektif dengan memotong transmisi kehidupan nyamuk melalui program 3M dengan menguras, mengubur dan menutup air yang berpotensi untuk dihinggapi nyamuk," kata Harry.

(pso-171)

Pewarta:

Editor : Nurul Hayat


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2012