Pontianak  (Antara Kalbar) - Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Brigjen (Pol) Arief Sulistyanto mengajak masyarakat Kampung Beting, di Kecamatan Pontianak Timur, untuk bersama-sama memerangi narkoba agar Beting tidak dijadikan tempat transaksi barang haram tersebut.

"Untuk memberantas narkoba di Kampung Beting, kami memerlukan kerja sama masyarakat di sana. Apa mereka mau kampung mereka dijadikan sarang narkoba sehingga stigma negatif selalu menempel di sana," kata Kapolda Arief Sulistyanto di Pontianak, Senin.

Arief menjelaskan, pihaknya pernah ketika melakukan razia di kawasan Kampung Beting, menemukan ada rumah penginapan dijadikan tempat untuk pembuatan bong alat pengisap sabu-sabu yang dilakukan oleh ibu-ibu di sana.

"Untuk itulah perlu kerja sama semua pihak dalam mengubah stigma Kampung Beting yang selama ini selalu negatif," ujarnya.

Bila perlu, menurut Kapolda Kalbar pemerintah membangun ulang kawasan Kampung Beting agar tidak kumuh, sehingga tidak memungkinkan lagi dalam memudahkan aktivitas seperti tempat dijadikannya transaksi narkoba atau hal-hal negatif lainnya.

Sebelumnya, Kamis (5/11), tim Ditresnarkoba Polda Kalbar, mengamankan 10,75 kilogram sabu-sabu jaringan internasional, yang masuk dari Malaysia melalui PPLB Entikong dengan tujuan Kampung Beting, Kecamatan Pontianak Timur dari tersangka DK (36).

Dari pengakuan tersangka DK sabu-sabu itu akan dibawanya ke kawasan Kampung Beting, yang akan disimpannya sesuai perintah pemesan di atas meja seng dekat parkiran Masjid Jami, dalam hal ini Tim Polda Kalbar tidak berhasil mengungkap bandar narkoba tersebut.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyatakan, Pemkot Pontianak saat ini sudah melakukan peningkatan pembangunan infrastruktur di kawasan Kampung Beting, seperti jalan gang, jamban, dan lainnya.

"Kami dalam waktu dekat juga akan membangun Pos Balai Kemitraan Polisi dan masyarakat (BKPM) di sana, guna memudahkan dalam mengawasi keluar masuknya orang di kawasan Kampung Beting. Karena di sana masyarakatnya heterogen dan sangat terbuka, sehingga dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab seperti untuk transaksi narkoba," ujarnya.

Edi menambahkan, kalau untuk merelokasi masyarakat di Kampung Beting, menurutnya perlu dilakukan kajian, karena di sana ada kawasan budaya, yakni Keraton Kadriah dan Masjid Jami, serta memerlukan biaya yang sangat besar.


(U.A057/I006)

Pewarta: Andilala

Editor : Andilala


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2015