Oleh Rendra Oxtora

Pontianak (Antara Kalbar) - Ratusan warga Tionghoa melaksanakan sembahyang "Ceng Beng" di Komplek Pemakaman Tionghoa di Dusun Padang Pasir, Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan.

"Ceng Beng atau sembahyang kubur ini dilakukan adalah semata-mata untuk menghormati dan mengungkapkan pernyataan bakti kepada leluhur, orangtua maupun keluarga yang telah pergi lebih dulu," kata Wali Kota Singkawang terpilih, Tjhai Chui Mie, Kamis.

Menurutnya, Ceng Beng merupakan budaya turun temurun yang sekaligus merupakan suatu moment untuk berkumpul bersama sanak saudara yang mana untuk hari biasa kadang hari raya Imlek sekalipun jarang bisa berkumpul dan bersilaturami.

"Jadi melalui Ceng Beng inilah bisa mempertemukan kita dengan sanak saudara yang tinggalnya berjauhan," tuturnya.

Dia berharap, budaya Ceng Beng tetap bisa dipertahankan untuk generasi penerus dikemudian hari. "Karena Ceng Beng merupakan kegiatan yang positip untuk mendekatkan diri antara kita dan leluhur maupun Tuhan Yang Maha Kuasa," ujarnya.

Menurutnya pula, ada cara yang sangat baik untuk mewujudkan rasa bakti kepada orangtua dan leluhur, yaitu dengan melakukan perbuatan baik dan melimpahkan jasa kebajikan.

"Karena jasa dan kebajikan kedua orangtua dan leluhur begitu besar, untuk itu kita harus senantiasa membalas jasa-jasa mereka setiap saat," pintanya.

Chui Mie menambahkan, dalam kebudayaan Tionghoa, ada dua kali moment sembahyang yang ditujukan untuk menghormati dan mengungkapkan pernyataan bakti kepada leluhur, orangtua, maupun kerabat keluarga yang telah meninggal.

"Yaitu, sembahyang bulan 3 yang dikenal Ceng Beng dan sembahyang dibulan 7 yang dikenal Chau Tu atau sembahyang yang ditujukan kepada arwah terlantar," jelasnya.

Dikatakan dia, bakti kepada leluhur dan orangtua, menjadi sesuatu yang sangat dipegang teguh oleh warga Tionghoa dimanapun mereka berada, termasuklah di Kota Singkawang.
(U.KR-RDO/B008)

Pewarta: Rudi

Editor : Andilala


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2017