Tripoli (Antaranews Kalbar) - Nigeria memulai penerbangan untuk mengevakuasi ribuan warganya dari Libya yang akan berlanjut sampai semua yang ingin pulang kembali ke rumah, kata menteri luar negerinya, Sabtu.

Warga Nigeria baru-baru ini menjadi kelompok bangsa terbesar di antara migran Afrika yang bepergian ke Libya dan mencoba menyeberang dari sana ke Italia melalui laut.

Sejak faksi-faksi bersenjata lokal dan patroli pantai Libya mulai menghalangi lebih banyak migran meninggalkan Libya pada Juli tahun lalu, sejumlah besar warga Nigeria telah terjebak di Libya, di mana mereka sering menghadapi kondisi mengerikan dan pelecehan, termasuk kerja paksa.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dalam beberapa bulan terakhir mempercepat program "pengembalian sukarela" untuk memulangkan para migran dari sejumlah negara. Nigeria sekarang bergabung dengan Niger dalam mengatur pengembalian warga secara bilateral.

"Tujuan utama, dan kami sangat fokus pada tujuan itu, adalah agar warga Nigeria ini kembali ke rumah secepat mungkin, "kata Menteri Luar Negeri Nigeria Geoffrey Onyema kepada wartawan saat berkunjung ke Tripoli.

"Presiden kami telah menyediakan semua sumber daya yang diperlukan untuk memulangkan semua orang Nigeria di sini.

"Kami memiliki dua pesawat yang tiba hari ini dan atas izin Tuhan kami berharap bisa mengevakuasi sampai 800 orang Nigeria hari ini." Nigeria telah memperkirakan akan menerbangkan sekitar 5.500 migran, kata Onyema, namun situasi di lapangan membuat jumlah sebenarnya sulit dipastikan.

"Sejumlah kesulitan untuk mendapatkan jumlah yang tepat adalah beberapa di antaranya berada dalam kendali pemerintah pusat di tempat penampungan, ada yang jelas-jelas berada di luar tempat penampungan, beberapa juga berada di daerah yang tidak mudah dijangkau dimana mungkin tidak ada kendali penuh dan wewenang pemerintah pusat, "katanya.

Memfasilitasi pemulangan sukarela juga bisa dipersulit karena kurangnya akses, kata Onyema.

Penjahat yang terlibat dalam penyelundupan dan perdagangan migran "juga (memiliki) suatu kepentingan agar mereka seharusnya tidak dipulangkan, karena ini mewakili aset ekonomi untuk mereka ".

Libya telah mengalami gejolak sejak sebuah pemberontakan pada tahun 2011, dengan sejumlah pemerintahan dan faksi bersenjata saling bersaing untuk mendapatkan kekuasaan.

Onyema diterima oleh pemerintah pusat yang memang begitu diakui secara internasional di Tripoli, yang telah berjuang untuk menegakkan kewenangannya di lapangan.

Kurang dari separuh jumlah migran yang sampai ke Eropa melalui laut pada 2017 dari pada 2016, kata IOM pada Jumat, sebagian besar disebabkan oleh penurunan jumlah migran yang melintas dari Libya.

Pewarta: -

Editor : Admin Antarakalbar


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2018