Jakarta (ANTARA) - Manchester City hampir saja tersandung untuk kedua kalinya di tangan Bournemouth selama musim ini ketika mereka menang susah payah 2-1 dalam perempatfinal Piala FA pada 30 Maret kemarin.
Bournemouth adalah satu dari delapan tim yang mengalahkan Manchester City dalam pertandingan Liga Premier musim ini.
Tujuh tim lainnya adalah Brighton, Tottenham Hotspur, Liverpool, Manchester United, Aston Villa, Arsenal, dan Nottingham Forest.
Liverpool menjadi satu-satunya tim yang dua kali mengalahkan The Citizens dalam pertandingan liga, sedangkan Spurs dua kali mengalahkan City dalam dua kompetisi berbeda.
Kecuali Arsenal dan Tottenham, kedelapan tim yang pernah mengalahkan City itu memiliki pendekatan yang justru tengah menjadi kecenderungan di Liga Inggris saat ini.
Newcastle United, Crystal Palace, Everton, dan Brentford yang menjadi tim-tim yang menahan seri City musim ini, juga dimabuk oleh kecenderungan itu.
Kecenderungan itu adalah pendekatan yang menekankan counter-pressure dan counter-attack, atau menekan balik dan menyerang balik.
Di sini, mengoptimalkan transisi menjadi keharusan. Dalam sepak bola, "transisi" adalah keadaan yang merujuk perubahan cepat ketika satu tim kehilangan bola atau ketika mereka mendapatkan bola.
Dalam skenario kehilangan bola, tim akan secepat mungkin menyesuaikan taktik dengan bertahan serapat mungkin, bukan cuma dengan membentengi wilayah pertahanan, tapi juga dengan cara meneror lawan saat menguasai bola.
Sementara dalam skenario ketika sebuah tim menguasai kembali bola, sebuah tim akan secepat mungkin merangsek ke pertahanan lawan guna menciptakan peluang dan gol.
Kedua jenis transisi ini merupakan antitesis dari pendekatan penguasaan bola yang dirangkul Manchester City, terutama selama era Guardiola.
Antitesis untuk mazhab sepak bola menyerang yang dianut Guardiola, sebenarnya sudah ada di Liga Inggris baik sebelum maupun sejak Guardiola berlabuh di Liga Inggris pada 2016.
Ketika tika-taka yang menekankan penguasaan bola dibawa Guardiola ke Inggris, sistem permainan yang berbeda 180 derajat dari pendekatan Guardiola itu tengah menguasai Liga Inggris. Pembawanya adalah Jose Mourinho.
Jika Guardiola menekankan dominasi penguasaan bola, maka Mourinho malah beranggapan dominasi penguasaan bola bisa menjadi bumerang bagi sebuah tim.
Tak lagi dominan
Mourinho yang melatih Madrid pada 2010-2013 dalam periode Guardiola tengah melatih Barcelona, sangat mengutamakan pertahanan dan menekankan transisi.
Untuk beberapa hal Mourinho tak cukup berhasil dengan pendekatan ini, meski membuat Barcelona era Guardiola tak bisa menjuarai LaLiga pada 2012.
Pendekatan Mourinho juga hanya dirangkul oleh segelintir tim lain. Ini berbeda dengan pendekatan yang diadopsi Guardiola. Sistem Guardiola berpengaruh luas di Liga Spanyol, bahkan bisa dibilang merevolusi lingkungan sepak bola kompetitif di Spanyol.
Pengaruh besar Guardiola itu lalu menyeberang ke Jerman ketika mantan gelandang Barcelona melatih Bayern Muenchen selama dua musim, dan lalu Liga Inggris ketika dia menangani Manchester City sejak 2016, hingga sekarang.
Bisa dibilang Guardiola telah merevolusi sepak bola Inggris. Hal itu terutama semakin hebat setelah dia sukses mengantarkan City mendapatkan semua trofi yang didambakan oleh semua klub.
Bagian terbesar tim-tim Inggris, termasuk di divisi-divisi di bawah Liga Premier, meniru pendekatan Guardiola, merancang serangan dari bawah yang bertumpu pada penguasaan bola.
Kasarnya, selama hampir sembilan tahun di Liga Premier, Guardiola telah sangat mempengaruhi sepak bola Inggris.
Tetapi itu bukan berarti permainan yang menekankan transisi dan serangan balik, tidak lagi menjadi bagian penting dalam Liga Primer, karena memang selalu ada tim yang senang mengandalkan serangan balik.
Tim-tim itu tetap ada di tengah dominasi Manchester City yang memuja dominasi penguasaan bola. Dalam beberapa kasus, tim-tim yang antitesis dari City justru menjadi batu sandungan besar untuk tim-tim berorientasi menyerang seperti City.
Tim-tim seperti Liverpool yang menekankan counter-pressure dan transisi, malah sukses mengimbangi City, walau tak selalu berhasil.
Namun demikian, selama musim 2024-2025 ini, gaya bermain Liverpool sejak era Jurgen Klopp bersama gegenpressing-nya, menyebar luas ke mana-mana, termasuk Bournemouth, dan juga Nottingham Forest yang merupakan versi paling ekstrem dari pendekatan bermain yang menekankan transisi dan serangan balik.
Faktanya, gaya bermain seperti dimainkan Bournemouth dan Forest menjadi batu sandungan besar bagi City atau tim-tim lain yang menekankan penguasaan bola.
Tim-tim ini tak saja membuat City kalah dalam sembilan pertandingan liga, tapi juga membuat City menjadi salah satu dari tiga tim Liga Inggris yang paling banyak kebobolan akibat serangan balik.
Sudah umum
Total, 34 gol dari serangan balik bersarang di gawang The Citizens. Angka itu hanya sedikit lebih baik dari Southampton, West Ham dan Brentford yang kebobolan 35-38 gol dari serangan balik.
Bersama, Newcastle, Brighton, dan Liverpool, Bournemouth adalah tim yang kerap memporak porandakan City dari skema serangan balik, sampai Guardiola berkata bahwa "sepak bola modern saat ini adalah sepak bola yang dimainkan oleh Bournemouth, Newcastle, Brighton, dan Liverpool."
Sepak bola modern, kata Guardiola, tak lagi tergantung kepada posisi dan dominasi penguasaan bola.
Nyatanya, tim-tim seperti Bournemouth, sebagaimana terlihat dalam perempatfinal Piala FA melawan City pada 30 Maret, selalu memiliki cara dalam mengatasi kesenjangan dalam penguasaan bola.
Caranya, dengan bermain menekan dan berenergi tinggi yang dengan cara itu lawan yang menguasai bola terteror untuk kemudian kehilangan kontrol dan dipaksa untuk salah umpan.
Begitu tim-tim semacam ini balik mencuri bola, maka mereka akan serentak menyerang balik dengan memanfaatkan ketidaksiapan barisan pertahanan lawan yang sudah terlampau maju, akibat menerapkan garis pertahanan tinggi.
Fenomena semacam ini sudah menjadi warna umum Liga Inggris, paling tidak selama musim ini. Semakin banyak tim yang bertumpu pada serangan balik, yang kerap diawali dengan mengundang sebuah tim maju terlalu dalam ke pertahanan lawannya.
Hasilnya, berdasarkan statistik yang dikeluarkan Opta belum lama ini, selama musim 2024-2025 jumlah tembakan ke arah gawang yang bermula dari serangan balik yang cepat melebihi musim-musim lainnya.
Angkanya mencapai rata-rata 1,84 tembakan ke arah gawang per pertandingan, dengan rata-rata gol yang dihasilkan sebanyak 0,3 gol per pertandingan.
Proporsi tembakan ke gawang dari skema serangan balik juga menjadi yang terbesar dibandingkan dengan tembakan ke arah gawang dari skema-skema lain.
Angkanya mencapai 10,2 persen, dengan proporsi gol tercipta 7,1 persen.
Angka-angka ini menjadi menarik untuk didalami, karena menguakkan fakta mengenai suksesi besar dalam cara bagaimana sepak bola kompetitif didekati.
Masih ada 91 pertandingan Liga Inggris tersisa musim ini. Laga-laga itu bisa menjadi petunjuk lebih jauh mengenai tergugatnya pendekatan yang menekankan dominasi penguasaan bola.