Pontianak (Antaranews Kalbar) - Sebanyak 13 reflika naga menjalani ritual "buka mata" di Kelenteng Kwan Tie Bio di Jalan Diponegoro, Kota Pontianak, dalam mengawali Perayaan Cap Go Meh tahun 2018 di kota itu.

"Ritual naga 'buka mata' dimulai pukul 07.30 WIB hingga selesai siang ini, yang diikuti oleh sekitar 13 reflika naga, yang didoakan oleh seorang dukun, dengan ditandai warna merah di bagian mata tersebut," kata Ketua Panitia Cap Go Meh 2018, Sugioto di Pontianak, Rabu.

Sugioto menambahakan, dalam proses ritual naga buka mata tersebut, secara bergiliran reflika naga tersebut masuk ke Kelenteng Kwan Tie Bio Pontianak untuk dilakukan ritual naga buka mata oleh seorang suhu atau dukun yang sudah kemasukan roh para dewa dari kayangan.

"Reflika naga tersebut, pada ritual itu dimasukkan roh naga dari kayangan sehingga naga-naga tersebut nantinya mempunyai kekuatan untuk mengusir roh-roh jahat saat keliling Kota Pontianak," ungkapnya.

Ia menambahkan, pada puncak Perayaan Cap Go Meh nantinya akan dimeriahkan oleh 28 reflika naga, 13 diantaranya menjalani rituan buka mata di Kelenteng Kwan Tie Bio di Jalan Diponegoro Pontianak, kemudian sisanya di kelenteng masing-masing yang ada di Pontianak, yang pesertanya sebagian besar dari yayasan pemadam kebakaran swasta.







"Untuk tahun ini, ada dua reflika naga yang panjang, yakni satu dari Pontianak sepanjang 118 meter, dan satu lagi dari Sungai Pinyuh dengan nama 'naga langit' yang akan memeriahkan puncak Perayaan Cap Go Meh di Pontianak," katanya.

Ia menambahkan, antusias warga Tionghoa yang menurunkan naga untuk dimainkan pada Perayaan Cap Go Meh mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, yang biasanya hanya diikuti oleh belasan reflika naga saja.

"Seperti tahun-tahun sebelumnya, rute pawai naga tahun 2018, yakni dipusatkan di sepanjang Jalan Gajahmada, kemudian Tanjungpura dan berakhir di Jalan Diponegoro, kemudian malam harinya kembali dimeriahkan dengan naga bersinar atau naga yang dihiasi oleh lampu," katanya.

Sugioto menambahkan, ritual naga buka mata dimaksudkan agar naga memberikan keajaiban untuk mengundang naga turun dari kayangan untuk memberikan berkah, dalam membantu masyarakat Kalbar, terhindar dari malapetaka, sehingga diberikan keselamatan dan kebaikan di dunia.

Menurut kepercayaan warga Tionghoa ritual buka mata berawal dari cerita dahulu kala di kalangan masyarakat Tionghoa bahwa ada naga yang pernah berkelahi dengan seorang manusia dan terkena panah di bagian mata. Beruntung ada biksu yang mengobati dengan berbagai mantra sehingga mata naga dapat sembuh kembali.

Kemudian, setiap naga yang melakukan ritual buka mata, pada hari ke-16 Imlek harus dibakar agar tidak membahayakan keselamatan para pemain naga tersebut, katanya.

Kemudian bagi replika naga yang telah menjalani ritual naga buka mata, pada hari ke-16 Imlek, atau pada Sabtu (3/3) mendatang, juga harus menjalani ritual naga tutup mata di Kelenteng Kwan Tie Bio, kemudian dilanjutkan kembali dengan menjalani ritual bakar naga di Kompleks Pemakaman YBS, Sungai Raya kilometer delapan, Kabupaten Kubu Raya. "Untuk tahun ini, ada dua reflika naga yang panjang, yakni satu dari Pontianak sepanjang 118 meter, dan satu lagi dari Sungai Pinyuh dengan nama 'naga langit' yang akan memeriahkan puncak Perayaan Cap Go Meh di Pontianak," katanya.

Baca juga: Ritual "Naga Buka Mata" Awali Perayaan CGM Pontianak


Ia menambahkan, antusias warga Tionghoa yang menurunkan naga untuk dimainkan pada Perayaan Cap Go Meh mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, yang biasanya hanya diikuti oleh belasan reflika naga saja.

"Seperti tahun-tahun sebelumnya, rute pawai naga tahun 2018, yakni dipusatkan di sepanjang Jalan Gajahmada, kemudian Tanjungpura dan berakhir di Jalan Diponegoro, kemudian malam harinya kembali dimeriahkan dengan naga bersinar atau naga yang dihiasi oleh lampu," katanya.

Sugioto menambahkan, ritual naga buka mata dimaksudkan agar naga memberikan keajaiban untuk mengundang naga turun dari kayangan untuk memberikan berkah, dalam membantu masyarakat Kalbar, terhindar dari malapetaka, sehingga diberikan keselamatan dan kebaikan di dunia.

Menurut kepercayaan warga Tionghoa ritual buka mata berawal dari cerita dahulu kala di kalangan masyarakat Tionghoa bahwa ada naga yang pernah berkelahi dengan seorang manusia dan terkena panah di bagian mata. Beruntung ada biksu yang mengobati dengan berbagai mantra sehingga mata naga dapat sembuh kembali.

Kemudian, setiap naga yang melakukan ritual buka mata, pada hari ke-16 Imlek harus dibakar agar tidak membahayakan keselamatan para pemain naga tersebut, katanya.

Kemudian bagi replika naga yang telah menjalani ritual naga buka mata, pada hari ke-16 Imlek, atau pada Sabtu (3/3) mendatang, juga harus menjalani ritual naga tutup mata di Kelenteng Kwan Tie Bio, kemudian dilanjutkan kembali dengan menjalani ritual bakar naga di Kompleks Pemakaman YBS, Sungai Raya kilometer delapan, Kabupaten Kubu Raya.

Pewarta: Andilala

Editor : Andilala


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2018