Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengimbau masyarakat atau pelanggan PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak agar tidak menggunakan air PDAM untuk konsumsi karena kadar garamnya sudah di ambang batas normal.

"Air baku PDAM dari Sungai Kapuas saat ini sudah terintrusi air laut, sehingga kadar garam pada intake PDAM di Imam Bonjol dan Komodor Yos Sudarso sudah mencapai 3.000 miligram/liter atau sudah jauh di atas ambang batas, yakni 600 mg/liter," kata Edi Rusdi Kamtono di Pontianak, Selasa.

Ia menjelaskan, pihak PDAM tetap akan mengolah air tersebut, tetapi tidak untuk konsumsi, artinya hanya untuk kebutuhan mandi atau mencuci saja.

Belakangan ini, air PDAM terasa payau akibat meningkatnya kadar garam, hal serupa juga pernah terjadi tahun lalu. Kendati demikian, PDAM tetap memproduksi air bersih untuk memenuhi kebutuhan mandi dan cuci para pelanggannya.

"Saya juga sudah memerintahkan kepada PDAM untuk mengambil air baku di Sungai Penepat supaya bisa diolah untuk mengurangi kadar garam dari air baku di Sungai Kapuas tersebut," katanya.

Diakuinya, memang untuk mengolah air payau menjadi air tawar, membutuhkan biaya yang tidak sedikit serta harus kontinu. Saat ini, pihaknya tengah mengkaji memproduksi air minum dalam kemasan nonmineral bersumber dari Sungai Kapuas. "Kami sedang mengkajinya apakah layak untuk diproduksi menjadi air minum dalam kemasan," katanya.

Sementara itu, Indra (48), salah satu pelanggan PDAM Pontianak, mengaku bahwa air ledeng yang disalurkan ke rumahnya rasanya tidak seperti biasa. "Rasanya agak payau, kalau normal biasa rasanya tawar," ujarnya.

Mengetahui hal itu, ia pun memutuskan untuk tidak menggunakan air PDAM untuk masak atau sebagai air minum. Sebagai gantinya, ia menggunakan air mineral isi ulang. "Air ledeng hanya digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian saja, semoga kondisi air PDAM segera kembali normal," ujarnya.

Pewarta: Andilala

Editor : Andilala


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2019