Maarif Institute, Cameo Project, Peace Generation, Love Frankie dan Yayasan Ruang Guru menggelar Program Creator Muda Academy. Program ini
merupakan bagian dari Project Inspire yang diprakarsai oleh Google.org di Indonesia dengan tujuan mengaktivasi anak muda agar terlibat dalam pembuatan konten-konten positif yang keren.

"Anak muda diajarkan untuk menjadi creator muda yang menghasilkan suatu karya dalam menghadapi ancaman-ancaman, contohnya di lingkungan sekolah yaitu malasnya siswa untuk mengikuti upacara bendera, oleh sebab itu dibutuhkan remaja kreatif agar memberi pengaruh yang positif," ujar Abd Rohim Ghazali, selaku Direktur Eksekutif Maarif Institute, Kamis.

Ada sepuluh kota besar di Indonesia yang menjadi target program ini, yakni Jakarta, Yogyakarta, Malang, Semarang, Manado, Makassar, Pontianak, Padang, Mataram, dan Bandung. Pontianak merupakan kota ke tujuh. Acara ini juga didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Menkominfo, serta Cyber Kreasi.

Kegiatan tersebut digelar selama dua hari pada 15-16 Agustus 2019. Hari pertama membahas tentang Mading Talks, dan dilanjutkan dengan sesi Bootcamp hingga hari kedua, yang diikuti oleh 10 tim terbaik. Secara keseluruhan, acara tersebut diikuti oleh 155 pelajar SMA/Sederajat dari Singkawang dan Kota Pontianak.

Sementara Direktur Program Maarif Institute, Khelmy K Pribadi mengatakan ada tiga hal yang dibahas saat sesi Mading Talks, yaitu perbedaan, literasi, dan ancaman kekerasan. Semua hal tersebut menjurus untuk menciptakan pemuda memiliki toleransi yang tinggi.

"Anak-anak diharapkan untuk meningkatkan nilai toleransi yang di mana Indonesia memiliki beragam suku dan budaya, adapun hal mengenai nilai membaca baik melalui media buku ataupun gadget harus ditingkatkan supaya kita tidak menjadi penyebar berita hoaks, serta ancaman tentang kekerasan masih banyak terjadi di sini, bahkan di negara maju sekalipun," ujarnya.

Ia juga menambahkan umumnya seseorang bisa terpengaruh berita hoaks karena adanya rasa khawatir yang berlebih dan dapat menimbulkan ketakutan sehingga orang tersebut tidak bisa berfikir untuk mencari kebenarannya.

Literasi baik digital maupun non digital memiliki tujuan dalam meningkatkan pendidikan karakter yang melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

"Pentingnya literasi digital bukan berarti kita yang dikuasai oleh alat teknologi tersebut, tapi kita harus mengontrol penggunaannya," ungkapnya.

 

Pewarta: Teguh/Doranda (Magang)

Editor : Teguh Imam Wibowo


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2019