Pada dasarnya yang dicari oleh manusia dalam hidup dan kehidupannya adalah kebahagiaan, yakni kebahagiaan lahir batin, dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Menurut ulama ternama, Al Qurtubi, menerangkan bahwa ada lima unsur kehidupan yang baik, antara lain; bahagia, rezeki yang halal, qanaah, taufiq, dan syurga.

Untuk meraih bahagia, seseorang harus dalam kondisi sehat, baik sehat jasmani maupun sehat rohani (mental).

Kesehatan merupakan mahkota bagi kehidupan umat manusia yang harus dirawat, dan dijaga.

Mencegah datangnya penyakit lebih berharga dari pada mengobati penyakit. Menjaga kesehatan merupakan obat mujarab yang tiada duanya. Rasulullah bersabda

“...Annadzofatu Syathrun minal iman…” kebersihan itu sebahagian dari iman memiliki dimensi yang luas. Hadits ini masih diperdebatkan tingkat kesohehannya.

Jadi, ada dua pola menjaga kesehatan, pertama hidup sehat dan kedua senantiasa merawat kebersihan.

Sehat terkait dengan istirahat yang cukup, makanan, asupan gizi, dan olahraga. Bersih terkait dengan gaya (kebiasaan) hidup bersih, seperti selalu menjaga kebersihan badan dan lingkungan. Manakala konsep dasar tersebut dapat dilaksanakan secara nyata, maka kebahagiaan yang diidamkan akan dapat diperoleh.

Dalam menjaga kesehatan, Rasul telah memberikan konsep dan sekaligus resep bagaimana hidup sehat cara Rasul.

Resep yang pertama, bangun pagi menjelang subuh, setelah subuh tidak tidur lagi. Kedua, makan pada saat lapar, berhenti sebelum kenyang.

Ketiga selalu optimis (istiqamah) dan yang terakhir adalah menjaga tali silaturrahmi. Jadi dikisahkan dalam tarekh rasul, bahwa dalam hidupnya Rasulullah hanya tiga kali sakit selama memanfaatkan fasilitas umur.

Puasa adalah ibadah yang sarat dengan nilai-nilai kesehatan terutama kesehatan mental.

Kesehatan mental seseorang dikatakan sehat apabila kondisi jasmani dalam keadaan sempurna dan hadirnya kondisi harmoni antara fungsi-fungsi jiwa (adaptasi) dan sanggup menghadapi problema hidup.

Indikasi apakah seseorang mentalnya sehat atau ada penyakit, dapat dilihat dari aspek harmonisasi.

Keharmonisan adalah bagian dari kesehatan mental yang perlu ditumbuh-suburkan dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab tujuan diutusnya Rasulullah adalah dalam kerangka membangun kehidupan yang harmonis di tengah-tengah masyarakat.

Rasulullah hadir di tengah-tengah umat manusia membawa misi akhlak. Beliau tidak hanya pandai bicara, tapi mengamalkan dengan baik apa yang Beliau ajarkan kepada umatnya. Ali bin Abi Thalib pernah berkata;

"Muhammad adalah orang yang paling lapang dada, paling benar lidahnya, paling lembut perangainya dan paling mulia dalam pergaulan".

Betapa agung dan mulia budi Rasul, hampir tidak ada kata yang dapat mewakili kejernihan dan ketulusan perilaku Rasulullah.

Sudah banyak bukti sejarah betapa Muhammad selaku agen pembawa moral di tengah-tengah umatnya, berhasil mengangkat harkat dan derajat manusia ke tingkat yang lebih tinggi.

Harmonisasi dapat diraih dengan beberapa langkah. antara lain ; Pertama, menghilangkan rasa curiga, cemburu dan selalu berprasangka baik. Kedua, meyakini nilai-nilai agama dan ketiga mengindahkan nilai-nilai dan norma sosial.

Salah satu nilai agama yang dapat menciptakan keharmonisan sosial adalah melalui ibadah puasa.

Sebab dengan berpuasa kita akan merasakan bagaimana kepahitan dan penderitaan orang lain manakala mereka dalam keadaan lapar dan tidak memperoleh makanan. Sehingga dengan demikian akan lahirlah kepedulian sosial pada diri seseorang yang berpuasa.

Rasulullah pernah bersabda, puasalah kamu, insya Allah kamu sehat. Sebab melalui berpuasa di bulan Ramadhan segala penyakit dan dosa akan dibersihkan.

Sehingga manakala kita selesai melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh, dosa akan diampunkan dan bersih tanda noda bagaikan bayi yang baru lahir. Rasulullah bersabda;

“Barang siapa berpuasa dengan iman dan penuh perhitungan, maka akan diampunkan dosa dosa nya. Mudah Mudahan.

*Dosen IAIN Pontianak

Pewarta: *Dr. H. Munawar, M.Si

Editor : Andilala


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2020