Sebelumnya, kegiatan sail tersebut dilaksanakan pada 2009 dengan nama Sail Bunaken, dilanjutkan Sail Banda (2010), Sail Wakatobi-Belitong (2011), Sail Morotai (2012), Sail Komodo" (2013), Sail Rajampat (2014), dan Sail Tomini (2015).
Penamaan sail tersebut disesuaikan dengan nama daerah yang menjadi pusat tujuan utama atau puncak acara sail.
Namun, sebenarnya cikal bakal kegiatan sail telah berlangsung sejak 2001 dengan nama Sail Indonesia, berupa kegiatan "rally" perahu layar (yacht) dunia dari Darwin, Australia, ke perairan Indonesia, sebelum meneruskan pelayaran ke Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Sejak 2009, kegiatan Sail Indonesia tersebut melibatkan lintas kementerian dan lembaga pemerintahan. Pemerintah mendesain kegiatan sail-sail tersebut untuk membantu percepatan pembangunan di lokasi destinasi.
Di sisi lain, Presiden Joko Widodo telah menetapkan tahun 2016 sebagai tahun percepatan akselerasi sektor pariwisata, guna memenuhi target kenaikan jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia hingga 20 juta dalam kurun lima tahun sejak 2014.
Acara Sail Selat Karimata 2016 dilaksanakan secara berurutan di Kepulauan Riau, Provinsi Jambi, Provinsi Bangka Belitung, serta Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat.

Sail Selat Karimata merupakan gabungan dari kegiatan pelayaran, riset, seminar kemaritiman, pelayanan kesehatan, bakti sosial, festival seni dan budaya, festival kuliner serta kompetisi bahari.
Hampir sama dengan kegiatan sail sebelumnya, rangkaian kegiatan Sail Selat Karimata juga dimulai dengan upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-77 pada 17 Agustus 2016 yang dilaksanakan di Pulau Enggano, salah satu pulau terluar di Provinsi Bengkulu.
Guna menarik wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke provinsi dan kabupaten penyelenggara Sail Selat Karimata, pemerintah mengundang komunitas pengguna kapal pesiar/yachter dari luar negeri yang jumlahnya mencapai sekitar 30 yachter dari 14 negara.

Pemerintah melalui Kemenko Kemaritiman sebagai koordinator kegiatan Sail Selat Karimata 2016 menekankan pentingnya kegiatan pariwisata tahunan itu untuk menjadi penggerak roda perekonomian di kawasan Indonesia bagian barat.
Pemerintah pusat pun secara intensif melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah terkait agar Sail Selat Karimata dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat di Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Jambi, Provinsi Kalimantan Barat (khususnya Kabupaten Kayong Utara).
Oleh karena, sejumlah pembangunan infrastruktur telah dilakukan menjelang kegiatan sail ke-8 itu, khususnya di Kabupaten Kayong Utara maupun Bangka Belitung.
Pembangunan tersebut antara lain pembangunan dan pelebaran jalan, pembangunan drainase dan gorong-gorong, pemugaran dan penataan objek wisata sejarah dan purbakala, pembuatan trotoar, serta pemecah ombak di Pantai Pasir Padi.

Kegiatan ini melibatkan beberapa kementerian dan lembaga pemerintah diantaranya Kemenko Kemaritiman, Kemenko PMK, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Dekin (Dewan Kelautan Indonesia), Kemensos, Kementerian BUMN, Kemendes, Kemenristekdikti, Kemen-PUPR, Setkab, TNI AL, Pemprov Jambi, Kepri, Bangka Belitung dan Pemkab Kayong Utara.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B Pandjaitan menuturkan, banyak pembangunan infrastruktur di daerah tersebut yang disiapkan, seperti perbaikan jalan nasional yang kondisinya rusak, serta penyediaan air bersih.
"Sesuai dengan permintan Presiden, kita tidak ingin 'event' ini tidak ada manfaat sebelum dan sesudah kegiatannya. Kita harus tunjukkan pariwisata Indonesia tidak kalah dengan negara luar," ujar Luhut.
Sedangkan Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR mengungkapkan pembangunan pelataran acara puncak, penyediaan air bersih, penyediaan toilet dan pembangunan jalan akses menuju pelataran acara puncak telah selesai dikerjakan.
Menteri Pariwisata Arief Yahya pun menargetkan rangkaian acara Sail Selat Karimata 2016 akan dikunjungi tidak kurang dari 15.000 wisatawan, terdiri atas 5.000 wisatawan mancanegara dan 10.000 wisatawan dalam negeri.
Dengan "event" ini diharapkan mampu menggerakan perekonomian dan percepatan pembangunan daerah kepulauan serta daerah terpencil.

Promosi Pariwisata Gubernur Kalimantan Barat Cornelis berharap agar kegiatan Sail Selat Karimata 2016 yang diikuti oleh peserta mancanegara tersebut bisa dimanfaatkan oleh pemerintah setempat untuk dapat mempromosikan semua potensi pariwisata yang dimiliki.
"Yang dapat dipromosikan, mulai dari potensi budaya, flora dan fauna, kekayaan alam, kerajinan tangan dan lain sebagainya, sehingga Sail Selat Karimata 2016 dapat membawa efek positif dengan meningkatnya kunjungan wisatawan ke Kalbar atau peningkatan investasi di Kabupaten Kayong Utara," ujar Gubernur.
Pemprov Kalbar mengucurkan dana sebesar Rp82 miliar untuk Sail Selat Karimata 2016. Dananya bersumber dari APBN maupun dana APBD yang "digeser" untuk membantu terselenggaranya Sail Selat Karimata agar bisa berjalan sesuai yang diharapkan.

Sementara itu, Pulau Karimata --yang memiliki luas sekitar 77.000 hektare berstatus Suaka Alam Laut (SAL)-- menjanjikan keindahan bawah laut yang belum banyak dikenal oleh para pehobi kegiatan bawah laut di Indonesia.
Di samping eksotisme taman lautnya, potensi "landscape" kepulauan yang dihuni oleh lebih dari 1.400 jiwa ini menawarkan pesona yang tidak kalah menawan.
Secara geografis, kepulauan ini berada di selat perairan antara Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera. Gugusannya terdiri dari dua pulau besar, yaitu Pulau Karimata dan Pulau Serutu, serta beberapa pulau kecil nan memesona, di antaranya Pulau Kelumpang, Pulau Buluh, Pulau Belian, Pulau Busung, Pulau Segunung, Pulau Genting, Pulau Serungganing dan Pulau Kera.
Tentu tidak berlebihan jika Karimata dapat dijadikan salah satu alternatif daerah tujuan wisata laut di Indonesia, yang merupakan negara maritim besar dan amat kaya dengan beraneka ragam jenis biota laut dan panorama surgawi.

Berbagai agenda digelar pada Festival Karimata di antaranya journalist trip, lomba memancing, lomba foto, lomba sampan nelayan, serta wisata kuliner dengan total pesertanya sekitar 300 orang.
Puncak Sail Karimata akan berlangsung pada 15 Oktober 2016 yang akan dihadiri Presiden Jokowi di Pantai Pulau Datok, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat.
Dukungan terhadap pelaksanaan Sail Selat Karimata juga datang dari maskapai penerbangan Garuda Indonesia yang menambah "flight" (penerbangan) pada H-4 Sail Selat Karimata 2016.
General Manager Garuda Indonesia Pontianak, Siswanto HP, membenarkan adanya penerbangan ekstra dari Pontianak ke Ketapang. Ekstra flight dilakukan mengingat event internasional itu akan menyedot perhatian masyarakat dalam dan luar Kalbar.
Garuda Indonesia juga turut berpartisipasi memeriahkan Sail Selat Karimata 2016 dengan mengisi booth bersama beberapa instansi dan pengusaha travel.

TNI Angkatan Laut juga mengerahkan puluhan kapal perangnya dalam rangka mendukung kegiatan Sail Selat Karimata. Kegiatan yang dilakukan TNI AL itu bertajuk Ekspedisi Nusantara Jaya 2016, yang meliputi Satuan Tugas Surya Bhaskara Jaya (SBJ LXV) dengan menggunakan KRI Makassar-590 dan Satuan Tugas Pelayaran Lingkar Nusantara VI menggunakan KRI Surabaya 591.
Ekspedisi ini bertujuan untuk mendukung acara Puncak Sail Selat Karimata, pada 15 Oktober 2016.
Puncak acara Sail Selat Karimata juga akan dimeriahkan dengan tarian kolosal yang melibatkan sedikitnya 460 penari yang dikoordinir oleh Gencar Semarak Perkasa (GSP) pimpinan Guruh Sukarno Putra. Konsep tarian kolosal itu mengangkat tentang sejarah Sukadana, yang merupakan sebuah kerajaan yang cukup terkenal.
Dari sisi keamanan, Polda Kalimantan Barat menurunkan sebanyak 1.335 personel, yang penempatannya disesuaikan dengan tantangan tugas yang dihadapi di lapangan dan sifatnya dinamis, mengikuti dinamika organisasi.

Berbagai promosi pun telah dilakukan termasuk menggelar acara "Pre-event Gathering" di Singapura dengan harapan dapat menyedot wisatawan dari negara itu untuk mengunjungi acara Sail Karimata.
Dengan persiapan yang matang, promosi yang gencar, dan kerja sama tim yang solid, penyelenggaraan Sail Karimata diharapkan mampu memenuhi target kunjungan wisatawan sebanyak 15 ribu orang, dengan 5.000 orang di antaranya adalah wisatawan mancanegara.
Sebagaimana disampaikan Menteri Pariwisata Arief Yahya, jika dirupiahkan, pemasukan dari kunjungan wisatawan mancanegara itu diharapkan bisa mencapai 5 juta hingga 6 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp65 miliar.
Jika wisatawan nusantara mampu menghasilkan Rp10 miliar, maka dampak langsung penyelenggaraan Sail Selat Karimata 2016 diharapkan bisa menghasilkan Rp75 miliar.
Uploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.