Ada yang karena virus corona sudah hilang penularannya, ada juga karena alasan ekonomi. Reaksi masyarakat dunia juga beragam dalam menyikapi kebijakan lockdown. WHO terakhir sudah melansir bahwa tidak ada jaminan kapan virus mematikan ini akan berakhir atau benar benar hilang. Bahkan WHO mengajak dunia untuk berdamai/beradaptasi dengan virus corona, dengan memulai hidup baru pasca corona.
Di Indonesia, menurut informasi BIN, diperkirakan penularan COVID-19 akan cenderung melemah/melandai grafiknya kira - kira bulan Juli 2020. Akan tetapi kecenderungannya Pemerintah Indonesia akan mengambil langkah dengan melonggarkan PSBB, lockdown di beberapa daerah, meski masih dalam kajian intensif.
Akan tetapi setelah BPIP, Presiden, MPR, DPR menyelenggarakan konser amal untuk menanggulangi COVID-19, tanggal 17 Mei 2020, kecenderungannya Indonesia akan berdamai dan hidup berdampingan dengan COVID-19, hal ini dipertegas melalui pidato Presiden RI. Meski mendapat protes dari kalangan tenaga medis.
Ada dua kondisi alamiah masyarakat dalam melawan virus; kondisi pertama yang kuat akan menang melawan virus, dan kondisi kedua ada yang kalah melawan wabah penyakit.
Lalu, bagaimana sikap kita jika berdamai dan hidup berdampingan dengan virus corona.
Sikapi kasus wabah COVID-19 dengan biasa -biasa saja, tenang (usahakan jangan panik, apalagi stress) jaga kesehatan. Virus corona sama dengan virus lain seperti flu burung, SARS, influenza biasa, akan hilang sendiri. Karena pada tubuh kita ada kekebalan (imunitas tubuh) yang akan menyerang dan membunuh virus. Budayakan hidup bersih. Mencegah datangnya penyakit lebih berharga dari pada mengobati penyakit. Menjaga kesehatan merupakan obat mujarab yang tiada duanya.
Rasulullah bersabda “...Annadzofatu Syathrun minal iman kebersihan itu sebahagian dari iman memiliki dimensi yang luas. Jadi, ada dua pola menjaga kesehatan, pertama hidup sehat dan kedua senantiasa merawat kebersihan. Sehat terkait dengan istirahat yang cukup, makanan, asupan gizi, dan olahraga. Bersih terkait dengan gaya (kebiasaan) hidup bersih, seperti selalu menjaga kebersihan badan dan lingkungan sekitar kita.
Memulai dengan pola hidup baru
Penyebaran virus apa saja termasuk COVID-19 dapat dihentikan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Hidup bersih dan sehat tidak harus dengan biaya mahal. Beberapa langkah yang mau tidak mau harus kita ambil dan budayakan adalah dengan membiasakan hidup bersih dan sehat: Makanlah makanan yang alamiah, tanpa pengawet, makan buah dan sayuran organik.
Orang di kampung dan desa sudah biasa makan makanan dan sayuran yang alami, mereka mengambil sayur dari hutan dan masih segar. Hindarkan minuman kaleng dan minuman beralkohol, berhenti atau kurangi merokok.
Setelah beraktivitas selalu mencuci tangan pakai sabun. Hindarkan menggunakan perabot alat rumah tangga dari bahan plastik (ada unsur kimia). Gunakan bahan kaca atau tembaga. Usahakan olahraga rutin minimal satu hari setengah jam, seperti jalan kaki, bersepeda, atau aktivitas ringan di rumah sehingga mengeluarkan keringat.
Jika ini kita lakukan secara bersama sama, maka segala penyakit termasuk virus corona akan hilang dalam waktu singkat. Mari kita cegah diri kita dan orang lain dari virus corona, dengan membudayakan hidup bersih dan sehat, seraya tetap ikhtiar dan berdoa kepada Allah SWT. Dengan kata lain, kita harus memantapkan perilaku hidup yang sesuai perintah Agama seperti hanya memakan makanan yang halal dan baik (halalan thoyiban), mempertebal iman dan taqwa kepada Allah.
Peranan orang tua sebagai penentu kesehatan anak-anaknya, mempunyai tanggungjawab yang sangat besar dalam menangkal COVID-19. Ajarkanlah pendidikan kesehatan, biasakan pola hidup bersih sedini dan secepat mungkin kepada anak-anak di rumah. Guru di Sekolah, paling kurang 5 menit guru menyampaikan kepada siswa arti penting kebersihan dan kesehatan, sebelum menyampaikan materi pelajaran.
Untuk menciptakan lingkungan dan masyarakat yang damai cinta hidup bersih dan sehat, Islam telah mengajarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
Pertama, menjaga diri dan keluarga termasuk masyarakat dari api neraka. Dalam Qur’an Surat At Tahrim ayat 6 disebutkan;... Wahai orang yang beriman Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ...Memelihara diri dan keluarga dari api neraka bermakna luas, termasuk menghindari penyakit, menjauhkan diri dari kemaksiatan dan kejahatan lainnya.
Dengan kata lain, kita harus memantapkan perilaku hidup yang sesuai perintah Agama seperti hanya memakan makanan yang halal dan baik (halalan thoyiban), mempertebal iman dan taqwa kepada Allah. Islam juga memiliki cara mencegah bala dan wabah dengan memperbanyak sedekah, Infaq, perbanyak istighfar, zikir dan taubatan nasuha agar virus ini segera berlalu.
Kedua, dalam menjaga kesehatan, Rasulullah telah memberikan konsep dan sekaligus resep bagaimana hidup sehat cara Rasul. Resep yang pertama, bangun pagi menjelang subuh, setelah subuh tidak tidur lagi.
Kedua, makan pada saat lapar, berhenti sebelum kenyang. Ketiga selalu optimis (istiqamah) dan yang terakhir adalah menjaga tali silaturrahmi. Jadi dikisahkan dalam tarekh Rasul, bahwa dalam hidupnya Rasulullah hanya tiga kali sakit selama memanfaatkan fasilitas umur
Ketiga. Untuk meraih hidup damai dalam kondisi sehat, baik sehat jasmani maupun sehat rohani, seseorang harus mencari karunia Allah dengan cara yang halal dan memakan dari rezeki yang halal, bersyukur atas nikmat yang ada (qanaah).
Keempat, Islam juga memiliki cara mencegah bala dan wabah dengan memperbanyak sedekah, infaq, perbanyak istighfar, zikir dan taubatan nasuha termasuk menjauhkan diri dari kemaksiatan dan kejahatan lainnya agar virus ini segera berlalu.
Kelima, untuk membangun masyarakat yang damai, kita harus lebih mengutamakan kepentingan bersama (kesalehan sosial) daripada kepentingan pribadi atau kelompok. Sesuai firman Allah dalam surat As Syu’ara, 183,
“Janganlah kamu mengurangi hak-hak orang lain”. Senantiasa menggunakan akal sehat dan sesuai dengan panggilan hati nurani yang luhur dan semata-mata untuk mencari kebenaran yang hakiki. Seperti yang difirmankan Allah SWT dalam surat Az Zumar ayat 18, “Yaitu orang-orang yang mendengarkan pendapat orang lain, lalu menyepakati mana yang paling baik di antaranya”. Dan apabila kamu menetapkan keputusan yang akan diberlakukan diantara manusia, hendaknya berlaku adil”. (Q. S. An¬Nisa 58).
Keenam, menghindari perasaan curiga. Dalam pergaulan sosial, kita hendaknya menghindari rasa curiga mencurigai dan berburuk sangka. Untuk itu perlu kita perhatikan firman Allah sebagai berikut, “Hai-hai orang-orang yang beriman, hindarilah sikap prasangka, karena sesungguhnya perbuatan prasangka itu dosa. Dan jangan mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain”. (Q. S. A1Hujurat12). Semoga kita selalu
*Penulis adalah dosen senior IAIN Pontianak
Pewarta: *Dr. H. Munawar, M.SiUploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.