Pontianak (Antara Kalbar) - Memasuki ruang pamer di galeri Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Kalimantan Barat di Jalan Ahmad Yani Pontianak, terpampang bermacam-macam produk khas lokal, termasuk di antaranya batik hasil warga lokal, mulai dari motif etnis Melayu, Dayak, Tionghoa atau campuran etnis.

Pengunjung bisa memilih apa saja yang berciri khas lokal. Harganya pun bervariasi dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

"Pengunjung banyak dari luar kota, mereka mencari yang khas lokal, termasuk batik," kata seorang bapak yang menjadi penjaga galeri.

Untuk motif batik khas Kalbar, sungguh sebuah kekayaan yang melimpah. Inspirasi motif dari berbagai budaya etnis yang ada seperti tak ada habisnya.

"Yang kurang di sini, jumlah pembatiknya," kata Wiro Sarwanto, seorang pendesain motif batik Kalbar juga pemilik galeri Wahyu Art.

Wiro, yang berasal dari Laweyan Solo dan sudah menetap di Pontianak sejak tahun 1970-an, mengungkapkan penjelajahannya di berbagai tempat di Kalbar menunjukkan inspirasi motif batik di provinsi ini sungguh melimpah. Apalagi dari etnis Dayak, yang memiliki ratusan subetnis menunjukkan kekhasannya masing-masing.

"Motif dari subetnis ini perlu ditampilkan. Tapi sayang pembatik masih sedikit," ungkapnya. Ia dan isterinya, Angky Karyati, yang seorang wirausahawati, telah berusaha mendidik beberapa orang, tapi sangat sedikit yang konsisten menekuninya.

Angky, yang berasal dari Sintang Kalbar itu mengungkapkan, batik- batik khas Kalbar yang ada di galeri Wahyu Art Jalan M Sohor Pontianak diminati pembeli, khususnya luar kota. Bahkan ada di antaranya dari Brunei Darussalam dan Malaysia.

"Minat beli ini terus meningkat seiring dengan makin banyaknya wisatawan datang ke Kalbar. Nah ini potensi yang harus terus dikembangkan," katanya.

Hal sama juga diungkapkan pemilik galeri batik Lenik di Jalan Purnama Agung Pontianak. Galeri yang banyak menyediakan batik khas etnis Dayak ini mengaku permintaan batik khas kalbar meningkat, baik dari warga setempat atau luar provinsi.

"Makin banyak perorangan atau instansi memesan kain batik dengan motif daerahnya. Ini membanggakan, karena makin berkembang kesadaran untuk menjaga kekayaan motif daerah atau etnis setempat," ujar Nartie, pemilik galeri Lenik.

Nartie yang bersuamikan orang Dayak Kayan ini mengaku, motif Dayak sangat banyak ragam, namun ada di antaranya yang tidak boleh sembarangan membuatnya.

"Harus minta izin dulu denga kepala Adat setempat," katanya.

Pemberian nama Lenik , untuk galerinya yang dibuka beberapa tahun lalu itu juga sudah disahkan dari Kepala Suku Kayan Ine Tipung. Lenik memiliki makna pintar dan bisa itu diambil dari bahasa Suku Kayan.

Pembinaan
Instansi pemerintah, khususnya Unit Pelatihan Industri Kecil Menengah (UPT IKM), Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalbar, merupakan instansi yang terus mendorong berkembangnya industri perbatikan di provinsi ini.

"Industri batik di sini terus dibangkitkan dan didorong berkembang. Dan kita bekerja sama dengan Dekranasda Provinsi, terus membina orang-orang yang mau mmebatik atau mengembangkan usaha batik khas Kalbar," kata Kepala UPT -IKM Disperindag Kalbar,Subaidi.

Sebagai upaya sinergi dengan Dekranasda Kalbar, Subaidi juga ditunjuk menjadi Sekretaris Dekranasda Kalbar.

Menurut Subaidi, perbatikan di Kalbar ini sebenarnya sudah melalui sejarah panjang. Pembinaan perajin batik sudah sejak 1990-an, namun baru benar-benar bangkit mulai 2008-2009 seiring sinergi dengan Dekranasda Kalbar yang dipimpin Ny. Frederika Cornelis.

"Ibu Frederika banyak turun ke lapangan, dan mendorong Dekranasda kota atau kabupaten ituk aktif," katanya.

Saat ini perajin batik di Kalbar masih banyak dalam bentuk industri rumahan (home industry) dan tercatat sudah ada lima sentra batik yang menonjol, yaitu dua sentra batik di Pontianak, satu di Mempawah, satu di Sintang dan satu di Ketapang. Setiap sentra ada lima hingga enam rumah perajin batik.

Subaidi mengakui kerajinan membatik bukan asli warga Kalbar, namun ketika mengerjakan batik mulai dikembangkan mengikuti usaha tenun yang sudah lama ada, maka menjadi lebih mudah. Motif-motif batik bisa diambil darii motif tenun.

Inspirasi motif batik Kalbar, menurut dia, secara garis besar berasal dari motif tenun, flora-fauna, dan bangunan rumah khas Kalbar. Sementara coraknya bisa dari etnis Dayak, Melayu atau Tionghoa, yang komunitasnya cukup besar di provinsi ini.

Motif batik Kalbar, yang sudah beredar di masyarakat, di antaranya yang berasal dari ide bangunan rumah, seperti motif "mahkota" dari rumah melayu Ketapang, yang bermakna ketinggian derajat; motif "Kembang Sekaki" sebagai hiasan pagar teras bangunan tradisional Melayu, bermakna adanya perkawinan antar keluarga; dan motif "cengkrama" dari rumah Melayu yang bermakna keakraban dan rasa kekeluargaan.

Yang berasal dari flora-fauna umumnya juga sudah digunakan di motif tenun, di antaranya pucuk rebung bunga pasak (bermakna keindahan dan kesuburan), burung merak ekor bersambung (bermakna keterikatan pria dan wanita yang sudah menikah), buaya (dari etnis Dayak yang bemakna keperkasaan), babi imak/ hutan (dari etnis Dayak yang bermakna hubungan kekeluargaan masyarakat yang saling terkait), dan mayang murang (agar diberi kemudahan dalam segala hal).

Corak batik Kalbar yang belakangan berkembang seperti motif ikan arwana dan motif Paku Kapuas, melambangkan kesuburan tanah Kalimantan Barat. Di Pontianak yang kerap digunakan di kegiatan beramai-ramai yaitu corak insang, sedang di Singkawang dikembangkan batik motif Tidayu, yang merupakan campuran Tionghoa, Dayak dan Melayu.

Kendala
Kerajinan batik yang sudah menasional, terlebih setelah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia, membuat pelaku IKM di Kalbar menyadari untuk turut serta mengembangkan batik khas lokal.

Untuk diferensiasi, sudah terbukti Kalbar kaya inspirasi motif khas lokal. Namun untuk produksi atau pembatikannya, karena terkait dengan batik tulis, bahan baku masih didatangkan dari Jawa, khususnya kota Pekalongan, Yogyakarta atau Surakarta. Bahan baku itu seperti kain batik, parafin (lilin lebah), dan gondorukem.

"Sayangnya bahan `water glass` yang gunanya untuk mengunci warna di kain batik, tidak bisa didatangkan, karena pihak penerbangan ataukapal, tak mau mengangkutnya. Mereka khawatir terkait ramainya terorisme ini," kata Wiro Sarwanto.

Kemudian sumber daya manusia yang mau konsisten menjadi pembatik masih terbatas jumlahnya.

"Saya sudah mengumpulkan berbagai kalangan untuk belajar membatik. Tapi yang tekun dan berlangsung lama, masih sedikit," kata Wiro.

Hal senada juga dikatakan Nartie, mengenalkan batik ke warga sekitar atau anak didiknya di PKBM ( Pusat Kegiatan Belajar masyarakat) sejak 2009 butuh kesabaran. Segala hal pelatihan harus dengan persuasif, namun hanya sekitar delapan orang yang bertahan di tempatnya tetap menjadi pembatik.

Subaidi mengakui bahwa kerajinan batik di masyarakat Kalbar secara umum masih terbilang baru dan pihaknya, khususnya UPT -IKM Disperindag dan Dekranasda, terus berupaya memfasilitasi pertumbuhannya, baik dengan pelatihan, pembinaan,dan pemasaran.

Beberapa lomba membuat motif atau desain batik juga digelar.

"Pesertanya lebih 100 orang dan pemenangnya ada 10 desain motif batik yang kemudian dipatenkan," kata Subaidi.

Selain itu berbagai pameran, baik di lokal kalbar atau di luar provinsi, menurut Subaidi, selalu pelaku IKM batik Kalbar diajaknya berpartisipasi.

"Bahkan saat pameran Inacraft di Jakarta tahun 2012, saat itu Kalbar menjadi ikonnya, Bapak Presiden dan Ibu Negara juga mengenakan batik khas Kalbar," ungkapnya bangga.

Dengan segala keterbatasannya, batik khas Kalbar memang sudah wujud. Kini semua pihak perlu terus merawat agar perkembangannya bisa meningkat dan menjadi kebanggaan masyarakat Kalbar.

(Z004/Arnaz Firman)

Pewarta: Zaenal Abidin

Editor : Zaenal A.


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2013