Pontianak (Antara Kalbar) - Gerakan Ekonomi Syariah, Gres! sudah diluncurkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan harapan ekonomi syariah bisa menjadi gaya hidup masyarakat sekaligus mampu mendorong misi Indonesia menjadi pusat Ekonomi Syariah dunia.

Peluncuran Gres! juga berlanjut ke daerah, salah satunya di Kalimantan Barat (Kalbar). Bank Indonesia sebagai institusi pembina dan pendorong pengembangan ekonomi syariah di Tanah Air, menggelar serangkaian kegiatan hingga ke tingkat daerah.

Khusus untuk Kalbar, kegiatan itu dimulai dengan Bazar dan Expo yang diselingi dengan hiburan dan lomba-lomba yang melibatkan masyarakat umum. Kemudian seminar bertema serupa dengan judul "Asyiknya Berekonomi Syariah", dan disusul dengan kegiatan olahraga berupa "funbike".

Lantas, bagaimana sambutan masyarakat dengan ajakan untuk berekonomi secara syariah itu?

Menanggapi ajakan berekonomi syariah itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalbar, Andreas Acui Simanjaya mengatakan, ekonomi syariah termasuk sistem ekonomi yang diterima oleh masyarakat Indonesia termasuk di Kota Pontianak sehingga perkembangannya beberapa tahun terakhir ini cukup pesat.

"Itu menandakan bahwa sistem ini dibutuhkan dan diterima sebagian masyarakat Indonesia," katanya.

Ekonomi Syariah, menurutnya bertujuan memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, memberikan rasa adil, kebersamaan dan kekeluargaan serta mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha.

Keuntungan ekonomi syariah jika diterapkan di pasar Indonesia dibandingkan ekonomi umumnya, atau sistem kapitalis dan sosialis (komunis) -- ekonomi syariah berada di tengah-tengah -- selama ini menunjukkan daya tahan terhadap gejolak ekonomi dunia yang berpijak pada sistem kapitalis sebagai dasarnya.

Walaupun diakuinya masing masing sistem ekonomi ada keunggulannya, ada kultur dan kearifan lokal di masyarakat yang membutuhkannya.

Namun jika dibandingkan dengan sistem ekonomi konvensional, yang mengedepankan sistem bunga sebagai instrumen profitnya, maka yang ditawarkan sistem ekonomi syariah yaitu sistem bagi hasil.

Perbedaan lain ekonomi syariah dibandingkan ekonomi kapitalisme, yakni mempunyai perspektif menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan.

Selain itu, ekonomi dalam kaca mata syariah merupakan tuntutan kehidupan sekaligus anjuran yang memiliki dimensi ibadah yang teraplikasi dalam etika dan moral dalam mengembangkan kekayaan.

Karena itu menurut dia, Ekonomi Syariah harus menjadi pintu yang terbuka bagi semua golongan dan pelaku ekonomi sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan.

Sementara Gubernur Kalbar, Cornelis mengatakan praktik ekonomi syariah belum tersosialisasi dengan baik di daerah, khususnya Kalbar.

"Sebagian besar masyarakat cenderung apriori dengan sistem syariah karena cenderung untuk umat Islam. Ekonomi syariah untuk umat Islam adalah hal yang wajar untuk diterapkan dengan sistem bagi hasil," katanya, saat Peluncuran Gres di gedung perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalbar, di Pontianak beberapa waktu lalu.

Padahal menurut Cornelis lagi, bank syariah ataupun berekonomi secara syariah, tidak eksklusif untuk umat Islam saja. "Kalau bagus bisa dipakai siapa saja," katanya lagi.

Karena itu ia menganjurkan, Bank Indonesia dan perbankan syariah, bersama alim ulama terus mendorong dan mengembangkan sistem ekonomi syariah di Kalbar. "Sehingga tidak ada lagi yang riba-riba itu," katanya lagi.

Sistem syariah, dalam beberapa tahun belakangan ini berkembang cukup besar di Indonesia. Perkembangan lembaga keuangan syariah itu tidak terlepas dari sikap moderat dari sistem ekonomi konvensional.

Menurut Cornelis, penerapan syariah dalam sistem perbankan sesungguhnya sudah dilakukan Bank Pembangunan Daerah (Bank Kalbar) yang disertai dengan pengawas. Sehingga masyarakat tidak perlu takut atau pun khawatir bermitra dengan BPD.

Adanya Gres! menurut dia sangat penting untuk menunjukkan ketangguhan dengan sistem ekonomi syariah. Sehingga masyarakat menjadi semakin tahu dan paham.



Berlaku Universal

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalbar, Hilman Tisnawan mengatakan, perbankan syariah sudah lama berkembang di Indonesia. Walaupun bila dibandingkan dengan bank konvensional, masih baru. Namun dari perkembangannya diakui pemerintah masih belum optimal. Dari sisi aset bank syariah masih di bawah lima persen, jauh dari total aset nasional.

Potensi yang besar dari masyarakat Indonesia, menurut dia harusnya dapat dimanfaatkan untuk pengembangan bank syariah yang selama ini ternyata tidak terpikirkan.

Ia mengatakan, ekonomi syariah di Indonesia diharapkan bisa menjadi rujukan ekonomi syariah dunia. Seperti harapan Presiden SBY saat peluncuran Gres! di Jakarta, 17 November 2013.

Gerakan ekonomi syariah atau Gres!, menurut dia, bukanlah gerakan yang eksklusif dalam artian karena dipakai umat Muslim. "Justru kita menginginkan jadi gerakan yang inklusif," imbuhnya.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Tanjungpura Pontianak, DR Dian Patria, SE MA, menambahkan berekonomi secara syariah bukan hanya milik umat Muslim, tetapi berlaku universal untuk mereka yang ingin menjalankannya karena berlandaskan rasa keadilan.

"Ekonomi syariah adalah ekonomi yang mengutamakan keadilan, sehingga orang di luar Muslim pun dapat menerapkannya," katanya.

Non-muslim, menurut dia lagi, bisa bergabung karena prinsip keadilan yang berlaku di sini untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik. Berkembangnya ekonomi syariah akan meruntuhkan ekonomi kapitalis yang selama ini merugikan banyak orang.

Prinsip kapitalis adalah dimana ada 20 (pelaku) yang memiliki kekayaan, sementara yang menumpukkan kekayaan itu adalah 80 (pelaku) persen.

Ia menjelaskan, saat ini terjadi proses pemiskinan yang luar biasa di Amerika dan Eropa barat. Ada ketidakadilan yang begitu dahsyat yang dilakukan dengan sistem kapitalis. Sistem perbankan kebanyakan, menerapkan sistem kapitalis (memperkaya golong) yang membungakan uang, artinya menerapkan sistem riba atau rente.

"Padahal, seluruh agama sesungguhnya melarang yang namanya riba. Silakan cek kebenarannya," kata dosen pada Fakultas Ekonomi Untan itu.

Sementara Ketua Jurusan Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak, DR Ichsan Iqbal Attamimi, SE, MM menambahkan, agama Islam adalah agama universal sehingga siapa pun dapat menerapkan ekonomi syariah yakni ekonomi rakyat yang berlandaskan nilai-nilai Islam tersebut.

"Tanpa melihat Muslim atau tidak. Islam berlaku universal," katanya.

Bahkan dewasa ini banyak pihak atau pengusaha yang meningkatkan produk yang dihasilkan menjadi produk halal, menunjukkan banyak orang ingin menikmati produk yang halal tanpa melihat agama apapun dia.

Ia menyebut, ekonomi Islam ada "win win solution" (sama-sama untung).

Ekonomi Islam, menerapkan persamaan kompensasi, persamaan hukum dan proporsional. "Jadi masyarakat umum dapat menjadi bagian dari ekonomi syariah karena adanya `win win solution` itu," katanya lagi.

Menurut Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kalbar, Sirwan Fahruddin, Syariah di satu sisi adalah mendorong mencari rezeki, di sisi lain masyarakat diingatkan untuk membantu orang lain.Ada infaq, zakat dan sedekah, disinilah letak keseimbangannya. Sistem syariah membangun sistem ekonomi Indonesia yang kuat.

"Universal untuk seluruh pelaku ekonomi," katanya.

Peluncuran Gres! secara nasional yang bersamaan dengan pergantian tahun 1435 Hijriyah, menurut dia, bukan tanpa sebab. Karena manusia dituntut untuk berlaku lebih baik lagi dari tahun sebelumnya.

Namun diakuinya, Gres! yang sudah tampak saat ini baru di dunia perbankan dan asuransi.Diharapkan tidak hanya itu saja, tetapi berlaku di semua lini kehidupan masyarakat, seperti untuk kontraktor hotel, nelayan, petani, hingga pedagang kecil, dapat mengaplikasikan prinsip ekonomi syariah di semua kehidupan dan pelaksanaan ekonomi.

Kampanye Gres! di Kalbar, diikuti delapan perbankan syariah, meliputi Bank Muamalat, Bank Kalbar Syariah, BRI Syariah, Mandiri Syariah, BNI syariah, Sinar Mas Syariah, Mega Syariah, dan Permata Syariah.

Adanya kampanye yang melibatkan bank-bank tersebut, diharapkan bisa memberikan kesadaran kolektif dalam membangun ekonomi syariah sehingga lebih maju, sekaligus momentum bahwa edukasi ekonomi syariah perlu ditingkatkan, sehingga terus berlanjut ke sekolah dan masyarakat luas.

Pemahaman masyarakat semakin luas. Pada akhirnya, semoga Ekonomi Syariah terus tumbuh dan berkembang di masyarakat, dengan adanya Gres!

Pewarta: Nurul Hayat

Editor : Zaenal A.


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2013