Beirut (Antara Kalbar/AFP) - Hampir 20.000 pengungsi di kamp pengungsi Palestina Yarmuk, Damaskus yang dikepung sangat kekurangan pangan dan banyak memakan binatang yang tersesat untuk bertahan hidup, bahkan sejumlah wanita terpaksa menjadi tuna susila.

"Saya sedang mencari seekor kucing di jalan, dan apabila diperoleh kemudian membunuhnya untuk dimakan dagingnya, kata warga pengungsi Yarmuk Ali, yang adalah seorang mahasiswa ketika pemberontakan Suriah meletus tahun 2011.

"Banyak yang membunuh dan memakan kucing dan anjing, dan bahkan keledai.

"Apa yang tidak terbayangkan dalam beberapa bulan lalu kini merupakan hal yang biasa."
     
Kamp pengungsi Yarmuk pada masa lalu pernah berkembang menjadi distrik komersial dan permukiman, di mana para warga Suriah dan Palestina tinggal.

Pada tahun 2011, kamp itu menampung sekitar 150.000 warga Palestina yang terdaftar di Suriah setelah gelombang pengusiran secara paksa dari tanah leluhur mereka untuk mencari tempat tinggal  setelah negara Israel terbentuk.

Ketika perang meluas ke daerah-daerah Damaskus pada musim panas tahun 2012, ribuan orang dari daerah-daerah lain ibu kota Damaskus lari ke Yarmuk, menyebabkan penghuni kamp itu penuh sesak.

Tetapi Yarmuk segera menjadi zona perang, sementara para warga Suriah yang mengangkat senjata melawan pemerintah Presiden Bashar al-Assad memasuki kamp itu.

Sejumlah warga Palestina bergabung dengan pemberontak, sebagian lainnya mendukung kelompok-kelompok pro-Suriah, terutama Front Rakyat untuk Komando Umum Pembebasan Palestina. (PFLP-GC).

Pada Juni, militer memberlakukan blokade total terhadap Yarmuk, yang mencakup satu daerah seluas sekitar dua kilometer persegi.

Sebagian besar penduduk melarikan diri sejak itu, tetapi, menurut PBB, 18.000 orang masih tetap tinggal ditempat tersebut.

Tujuh bulan kemudian pasokan pangan dan medis habis, dengan harga meroket mencapai 100 dolar AS untuk satu kilogram beras, kata penduduk.

"Situasi sangat menyedihkan,  para wanita menjual tubuh-tubuh mereka kepada para pria yang memiliki persediaan pangan sebelum pengepungan itu dilakukan, untuk hanya satu mangkok  beras atau bulgur," kata Ali.

Sejumlah 78 orang, termasuk 25 wanita dan tiga anak-anak, meninggal sebagai akibat kekurangan pangan, kata kelomok pemantau Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR).

Dengan tugas untuk memenuhi kebutuhan para warga Palestin di kamp itu , Badan PBB yang mengurus kepentingan pengungsi Palestina UNRWA  berjuang untuk mendapat akses ke kamp itu.

Hanya dua konvoi yang telah memasuki Yarmuk dalam beberapa bulan belakangan ini, membawa  138 parsel bantuan pangan.

Menurut juru bicara UNRWA Chris Gunness," bantuan  yang diizinkan  masuk itu  tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan mendesak bagi 18.000 warga sipil."
     
Kebutuhan itu termasuk susu tepung untuk bayi, vaksin polio  untuk anak-anak dan bahan makanan," kata Gunness.

Pada 18 Januari, pemerintah mengatakan pihaknya akan membantu bagi akses bantuan.

"Akan tetapi, badan itu sangat kecewa bahwa jaminan-jaminan yang diberikan pihak berwenang tidak didukung oleh tindakan di lapangan untuk memudahkan masuk Yarmuk pasokan bantuan dalam jumlah besar yang dibutuhkan oleh  ribuan warga sipil dari berbagai kelompok," kata Gunness kepada AFP.

Sementara wakil-wakil pemerintah dan oposisi sedang berada di Jenewa untuk perundingan perdamaian dan merundingkan akses bantuan bagi Homs di Suriah tengah, tampaknya nasib Yarmuk tidak ditangani.

Juru bicara PFLP-GC Anwar Raja menyalahkan pemberontak, yang ia sebut sebagai "teroris" atas penderitaan para penghuni kamp itu.

"Ada satu perjanjian bagi para pria-pria Palestina yang bersenjata di dalam kamp itu untuk mendesak pria bersenjata non-Palestina meninggalkan kamp itu," kata Raja mengacu pada pemberontak.

(R. Nurdin)

Pewarta:

Editor : Nurul Hayat


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2014