Pontianak (Antara Kalbar) - Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Kalimantan Barat mendukung penuh pemerintah dalam menerapkan Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) karena memicu kenaikan harga karet di pasar dunia.
    "Karena harga karet dunia naik, ini tentu berimbas pada harga karet di Kalimantan Barat. Kebijakan tersebut secara otomatis memberikan angin segar bagi petani karet di Kalbar, karena pendapatan mereka akan meningkat," kata Ketua Gapkindo Kalbar Jusdar Sutan di Pontianak, Minggu.
    Dia menjelaskan, melalui AETS pemerintah berupaya untuk mengurangi ekspor karet dari tiga negara ITRC sebanyak 615 ribu ton dari bulan Maret sampai Agustus 2016.
    "Dengan pengurangan pasok sehingga pasokan karet di pasar internasional berkurang dan bisa menaikkan harga," tuturnya.
    Jusdar mengatakan tiga negara International Tripartite Rubber Council (ITRC) yang mengurangi ekspor yaitu Thailand, Indonesia dan Malaysia. Khusus untuk Indonesia, jelas Jusdar, mengurangi ekspor sebanyak 238 ribu ton dari Maret hingga Agustus 2016.
    "Semua anggota Gapkindo diberikan alokasi ekspor supaya AETS ini bisa berjalan dengan baik," katanya.
    Dipaparkan Jusdar pula, harga karet pada awal Maret 2016 saat AETS diberlakukan mencapai 1,08 dolar AS perkilogram SIR di pasar Internasional. Sementara untuk saat ini harga sudah menjadi 1,50 dolar AS per kilogram atau naik sekitar 39 persen.
    "Kalau hitung di tingkat petani sebelum naik harga sekitar Rp5 ribu/kilogram. Sekarang sudah sekitar Rp7 ribu/kilogram," kata Jusdar.
    Harga tersebut untuk karet dengan K3 sekitar 45 persen. Namun, harga tergantung kepada kadar karet keringnya (K3). "Semakin tinggi K3, semakin tinggi harganya," katanya.

Pewarta: Rendra Oxtora

Editor : Teguh Imam Wibowo


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2016