Beras merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia, tidak hanya di konsumsi secara langsung namun dapat pula diolah menjadi berbagai makanan turunan yang memiliki nilai tambah dan berasa nikmat.

Salah satunya untuk pembuatan mie putih seperti yang dilakukan sejumlah pelaku usaha di Kota Singkawang. Penikmat mie putih di Kalbar umumnya dan Kota Singkawang khususnya cukup tinggi mengingat penganan tersebut diolah kembali menjadi makanan siap saji seperti mie tiau goreng (kwee tiau goreng), mie rebus, bakso dan sebagainya. Penganan ini gampang ditemui di berbagai sudut Kota Singkawang dalam skala pinggir jalan atau menyewa lokasi yang lumayan mewah.

Di Kota Singkawang, tercatat ada sekitar 10 pelaku usaha pengolahan mie putih. Industri pengolahan tersebut memiliki dampak yang luas mulai dari hulu hingga ke hilir.

Dari sisi hulu, mie putih yang berbahan baku utama dari beras sehingga membutuhkan pasokan yang cukup yang tentu saja akan menyerap produksi petani.

Sedangkan di sisi hilir, hadirnya industri pengolahan mie juga membuka lapangan kerja di mana setiap industri membutuhkan sekitar 5 - 10 pekerja. Selanjutnya juga akan ada distributor, hingga ke penjual panganan yang berbahan baku mie putih tadi.

Ratusan kilogram per hari

Salah satu industri pengolahan mie putih yang cukup terkenal di Kota Singkawang yakni dengan merek dagang Mie Putih Asli. Letaknya di Pasar Turi, kawasan Kota Singkawang. Saat ini produksi Mie Putih Asli mencapai 400 kilogram per hari. Pada momen tertentu, produksinya bisa meningkat hampir dua kali lipat menjadi 700 kilogram per hari.
 
Mengecek mesin industri pengolahan mie putih di Singakawang.

Akiang, salah seorang pekerja di Mie Putih Asli menyebutkan bahwa untuk pasar mie putih tersebut tersebar di 14 kabupaten dan kota di Kalbar. Sejumlah distributor atau agen yang langsung sendiri mengambil hasil produksinya.

Ia menyebutkan untuk bahan baku pihaknya membutuhkan beras dengan jenis tertentu. Sebagian besar menurutnya di pasok dari Kabupaten Sambas yang merupakan tetangga dari Kota Singkawang.

"Untuk mie putih membutuhkan beras khusus agar hasilnya baik seperti tahan lama dan tidak lengket. Beras yang cocok di antaranya dari Kabupaten Sambas seperti jenis lingkak cundong dan lainnya," ungkap Akiang.

Mie Putih Asli diolah tanpa bahan pengawet. Menurut Akiang, saat ini mayoritas industri pengolahan mie putih yang ada di Kota Singkawang sudah aman dikonsumsi dan terhindar dari pengawet yang tidak baik bagi manusia.

"Ketahanan mie putih kita tiga hari. Hal itu mie yang diproduksi sesuai standar kesehatan tanpa pengawet. Untuk pasar saat ini tidak sulit dan lancar - lancar," jelas dia.

Penyerapan beras lokal yang tak terlacak
Hadirnya industri pengolahan mie putih tentu berdampak pada penyerapan beras dan otomatis membantu petani di Kalbar. Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar, Heronimus Hero mengatakan produksi beras di Kalbar surplus sebagaimana tercatat pada 2018 lalu sebesar 400 ribu ton. Hasil produksi petani di Kalbar 1 juta ton lebih. Sedangkan kebutuhan hanya 600 ribu ton.

Dengan produksi beras yang surplus tentu membutuhkan pasar yang luas lagi. Selain memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat juga untuk industri pengolahan seperti mie putih.

Hero menyebutkan di Kota Singkawang ada 10 pelaku industri pengolahan dengan produksi minimal 400 kilogram per hari maka ada 4 ton mie yang dihasilkan. Kemudian dalam sebulan ada 120 ton mie putih yang diproduksi.

"Artinya penyerapan beras selama ini untuk mie yang sebagian tidak diketahui masyarakat umum sangat besar. Itu menjadi peluang besar terutama bagi petani yang memproduksi beras yang dibutuhkan," jelas dia.

Ia menjelaskan saat ini meski Kalbar sudah surplus, jejak pasar beras atau sirkulasi nya sulit ditemukan. Hal itu karena beras yang dijual polos oleh petani atau tanpa pengemasan dengan merek dagang tertentu.

Dengan masih minim nya kemasan beras lokal mengakibatkan jejak beras produksi petani Kalbar di pasar hilang. Selama ini beras lokal hanya dikemas dengan karung polos tanpa kemasan khusus dengan merek lokal.

"Kembali, kita surplus namun di pasar banyak merek luar masuk. Kenapa bisa begitu karena beras kita dikemas ulang dikasih merek nasional atau tanpa identitas kita. Setelah kita cek juga ke instansi terkait yang mengurus atau mendata beras masuk ke Kalbar, memang sangat sedikit. Jadi dikemas ulang beras kita sangat betul adanya," jelas dia.

Pastikan Penyerapan
Untuk memastikan penyerapan beras Kalbar dan jejaknya di masyarakat, Komisi II DPRD Kalbar yang didampingi Kadistan TPH Kalbar serta Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Singkawang melakukan kunjungan. Termasuk ke pelaku usaha mie putih, Mie Putih Asli.

Sebanyak 15 anggota dewan Kalbar tersebut melihat langsung produksi mie putih sekaligus menggali informasi tentang bahan baku dan pasar mie putih.

Wakil Ketua DPRD Kalbar, Suriansyah yang turut serta mengaku baru tahu bahwa beras lokal sangat baik dan cocok untuk mie putih. Dengan hal itu menurutnya perlu dimaksimalkan lagi beras lokal karena permintaan untuk industri pengolahan mie putih sangat besar.

"Kita melihat langsung seperti apa pengolahannya hingga produk mie putihnya. Setelah melakukan kunjungan itu kita baru tahu beras lokal kita sangat cocok untuk industri mie. Pasar nya luas dan ini menjadi perhatian," kata dia. Sementara itu Ketua Komisi II DPRD Kalbar, asal Dapil Sambas, Guntur menyebutkan bahwa hasil pertanian Kabupaten Sambas 2018 sebanyak 270 ribu ton. Hanya 15 persen diolah jadi beras oleh petani.

Sedangkan 85 persen dibawa ke Kota Singkawang untuk mengisi Bulog dan pabrik mie. Menurutnya beras Sambas menjadi primadona di luar, tetapi tidak berimbas kepada kenaikan harga gabah petani. Hal itu satu di antaranya beras dari Sambas tidak mempunyai merek, jadi bisa saja beras tersebut diolah di luar dan dikemas kemudian dijual kembali ke Sambas lagi.

"Saatnya mulai sekarang kita bicara kualitas, tentu akan dikemas di Sambas dan memberi merek dagang. Pasar beras kita luas terutama untuk industri mie dan lainnya. Namun soal harga belum signifikan terutama yang dirasakan petani. Itu harus menjadi perhatian," kata dia.

Pewarta: Dedi

Editor : Admin Antarakalbar


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2019