Satgas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan diturunkan ke tujuh desa rawan karhutla di wilayah Kapuas Hulu Kalimantan Barat.
 
Satgas karhutla tersebut terdiri atas personel TNI, Polri, Sat Pol PP, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kapuas Hulu, Tagana, elemen masyarakat dan sejumlah pihak terkait yang terlibat dalam penanggulangan dan pemadaman karhutla.
 
" Pasukan patroli pemadaman darat yang tergabung dalam Satgas itu ditempatkan di tujuh desa rawan Karhutla  di wilayah Kapuas Hulu," kata Wakil Bupati Kapuas Hulu, Antonius L Ain Pamero, ketika memimpin gelar pasukan terkait karhutla di Putussibau, Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Sabtu.
 
Dijelaskan Anotnius, tiap-tiap desa di tujuh desa rawan Karhutla akan mendapatkan 14 personel, yang terdiri atas sembilan orang anggota TNI, dua personel Polri, satu orang unsur BPBD dan dua orang unsur masyarakat.
 
Menurut dia, berdasarkan pantauan satelit sejak Januari - Juli 2019 terdapat 63 titik panas atau hotspot yang tersebar di sejumlah wilayah  di Kapuas Hulu.
 
" Hotspot itu terlihat sebelum puncak musim kemarau, jadi bisa di pastikan hotspot di Kapuas Hulu akan mengalami peningkatan," ucap Antonius.
 
Ia berharap dalam mengatasi persoalan karhutla di Kapuas Hulu dapat terbangun sinergi dari semua pihak, sebab karhutla itu tanggung jawab bersama.
 
Sementara itu, berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kapuas Hulu, tujuh desa yang rawan terjadi karhutla, yaitu pulau bergerak Desa Penai dan Bangkong Kecamatan Silat Hilir, Desa Ranyai Hilir Kecamatan Seberuang, Desa Madang Permai Kecamatan Suhaid, Daerah Dalam dan Sekulat Kecamatan Selimbau dan Desa Sepandan Kecamatan Batang Lupar yang memiliki lahan gambut cukup luas.
 

Pewarta: Teofilusianto Timotius

Editor : Teguh Imam Wibowo


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2019