Sudah menjadi aktivitas harian bagi Baam, warga Desa Sungai Itik, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat menyadap nira di kebun kelapa warisan dari orang tuanya untuk dijadikan gula merah. Dengan cekatan dan tanpa ragu, ayah dua anak tersebut memanjat kelapa yang tingginya belasan meter. 

Satu hari sebelumnya, mayang muda yang sudah diiris dan ditampung ia panen dan diiris kembali agar keesokan harinya bisa dipanen lagi. Kecuali saat hujan dan angin kencang, Baam dan  warga lainnya yang mayoritas petani kelapa dalam tersebut  terpaksa berhenti produksi menyadap mayang.

Ketika kondisi cuaca mendukung baru aktivitas yang ia kerjakan selama belasan tahun atau saat lajang kembali dijalankan.

Setiap harinya, ia menyadap sekitar 27 batang pohon kelapa dalam yang memang sudah dipilih dari total ratusan pohon kelapa yang ada. Dari 27 batang tersebut air nira yang dihasilkan mencapai 50 liter.

Nira hasil panen sekitar pukul 09.00 WIB langsung ia masak di tungku yang telah disediakan secara khusus. Dengan kuali yang menganga berdiameter sekitar 1 meter, 50 liter nira ia masak.

Api melahap kayu, pelepah, kulit kelapa dan mendidihkan air nira kurang lebih 1 jam. Sambil menunggu air nira mengental dan berubah menjadi kecoklatan, Baam yang biasa dibantu istrinya menyiapkan cetakan gula merah dengan plastik gelas yang di dalamnya sudah dilapisi kantong plastik transparan. Untuk berat gula merah yang dicetak berbentuk batangan bulat tersebut sekitar 3 ons per buah.
 
Nira berubah warna dan mengental menandakan proses memasak berakhir dan selanjutnya dituangkan ke wajan lainnya. Setelah itu diaduk rata hingga lebih mengental dan baru dituangkan ke dalam cetakan. Tunggu waktu berselang 3 jam, gula merah batangan siap dikemas, dijual atau dikonsumsi. 

"Membuat gula merah pekerjaan rutin dan utama saya setiap harinya kecuali hujan atau angin kencang. Produksi dalam sehari dari 50 liter nira menghasilkan sekitar 13 kilogram gula merah. Itu lah sumber pendapatan dan ekonomi keluarga saya," ujar Baam saat ditemui di Desa Sungai Itik, Kecamatan Sungai Kakap, Kamis (18/2).

Meski di tengah pandemi COVID-19, permintaan dan harga gula masih stabil. Sehingga komoditas tersebut sebagai penyokong utama ekonomi Baam serta warga sekitar yang berprofesi sama.

Untuk menjual gula merah juga  tidak lah terlalu sulit. Terdapat 10 agen di desanya siap menampung kapan saja.  Harga gula merah lebih stabil dibanding kelapa dalam bentuk bulat. Saat ini harga gula merah diambil agen sekitar Rp12.500 per kilogram. Artinya dengan harga saat ini pendapatan per hari dari produksi gula merah saja mencapai Rp165.000 per hari. Belum lagi untuk kelapa bulat yang bisa dipanen setiap tiga bulan sekali.

Transaksi miliaran rupiah
Petani lainnya Rahmat yang juga merupakan Ketua Kelompok Karya Bersama Desa Sungai Itik menyebutkan bahwa saat ini total produksi gula merah berdasarkan data pembelian dari agen yang ada di desanya sekitar 30 ton per hari. Dengan asumsi harga saat ini maka transaksi jual beli gula merah di daerah itu mencapai Rp375.000.00 juta/hari.

"Dengan kata lain, di daerah kami transaksi jual beli gula merah yang langsung dirasakan petani atau mayoritas masyarakat di sini belasan miliar rupiah selama sebulan," kata dia.

Dalam kelompoknya terdapat 27 anggota dan semua memproduksi gula merah. Dengan kondisi pasar yang mudah dan jelas membuat agrobisnis ini sangat digemari dan menjadi sumber pendapatan utama masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa di kelompoknya selain memproduksi gula merah juga ada produk turunan dari kelapa dalam yakni brown sugar atau gula cokelat. Warga setempat menyebutnya gula semut.

Nilai tambah yang didapat petani untuk produk gula semut bisa mencapai 300 persen dibandingkan gula merah. Hanya saja butuh kemampuan khusus sepertinya dan keuletan dalam membuat gula tersebut.

Faktor kualitas nira sangat diperhatikan dalam membuat gula semut. Selanjutnya proses produksi menjadi produk siap konsumsi butuh waktu dan proses panjang.

Untung saja, sejak 2012 lalu hingga kini program pemerintah melalui APBN dan APBD Provinsi yang didampingi Dinas Perkebunan Kalbar untuk pengelolaan bisa membantu kelompoknya baik berupa fasilitas tempat, peralatan atau mesin produksi, pengemasan hingga pasar. Pendampingan dan bantuan pemerintah menambah semangat masyarakat dalam agrobisnis kelapa dalam tersebut.

Saat ini harga gula semut yang dijual dengan berat bersih 100 gram dijual Rp10.000 per kemasan. Produksi untuk gula coklat tersebut masih menyesuaikan permintaan yang datang dari pemerintah, mini market, pelaku usaha dan pihak lainnya.

"Terkendala cuaca dan butuh kemampuan khusus yang tidak semua bisa ini menjadi tantangan ke depan. Namun demikian kami tetap memaksimalkan potensi dan nilai tambah produk. Bantuan pemerintah yang ada sangat membantu kami dan diharapkan terus mendampingi melalui program - program," kata dia.
 
Kepala Disbun Provinsi Kalbar, Heronimus Hero (kiri) bersama tim dan Ketua Kelompok Karya Bersama Sungai Itik (kanan) menunjukan produk brown suger atau gula semut. Gula semut tersebut saat ini sudah menjadi produk khas daerah Kabupaten Kubu Raya. (ANTARA/Dedi)


Dukungan pemerintah
Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan agrobisnis masyarakat baik untuk menghasilkan produk mentah maupun produk jadi  seperti di Desa Sungai Itik tersebut.

Terkait luas tanam kelapa dalam, ia menyebutkan di Kalbar terdapat 100 ribuan hektare termasuk di dalamnya ada di Sungai Itik, Kabupaten Kubu Raya yang menjadi  satu di antara sentra.

Menurutnya kelapa dalam sudah menjadi komoditas ekspor dan memberikan kontribusi yang cukup besar setelah CPO, karet dan lainnya. Orang yang terlibat di sektor perkebunan kelapa dalam terutama masyarakat cukup luas dan dampak dari budidaya tersebut kini mulai semakin membaik. 

Dari sisi pemerintah menurutnya di tengah tumbuhnya perusahaan untuk industri pengolahan produk turunan kelapa dalam dan petani kelapa itu sendiri perlu kebijaksanaan agar semua seimbang dan berjalan. Sehingga solusi dari pemerintah bisa mendorong kedua pihak tetap tumbuh dan merasakan manfaat luar dari komoditas yang semua bernilai jual tersebut.

Perusahaan pengelolaan untuk VCO dan lainnya contohnya, dari sisi bahan baku tentu butuh suplai bahan baku dan harga stabil. Kemudian harga maksimal Rp1.800 per butir dan di atas tersebut margin yang didapat perusahaan dari produk yang dihasilkan kecil dan bahkan tidak masuk hitungan bisnis.

Sebaliknya, saat ini di tengah banyaknya permintaan kelapa bulat atau tanpa proses hilirisasi untuk ekspor semakin tinggi. Harga yang beli ke petani juga semakin membaik dan bahkan untuk saat ini penampung mengambil di depan rumah petani seperti di Sungai Itik Rp2.300 per butir.

"Perusahaan butuh bahan baku murah dan petani tentu mau menjual mahal. Apalagi pasar jelas dan harga tinggi. Di sini dilema, harapan kita industri tumbuh dan petani tetap sejahtera," kata dia.

Dari potret tantangan di lapangan tersebut, pemerintah mendorong industri untuk membuat produknya lebih efisien dan memikirkan perluasan tanam kelapa dalam. Sehingga kebutuhan industri pengolahan bisa cukup dan permintaan untuk ekspor juga terpenuhi.

Terkait produksi gula merah dan gula semut di Sungai Itik menurutnya sudah menjanjikan bagi masyarakat. Agrobisnis tersebut menjadi sumber pendapatan masyarakat. Pendampingan di daerah tersebut akan dilakukan dan bahkan dirinya turun langsung yang didampingi PPL pertanian setempat untuk melihat geliat ekonomi masyarakat dalam menggarap potensi lokal.

"Untuk gula semut kita maksimalkan lagi pendampingan. Bantuan fasilitas yang ada harus dimaksimalkan karena nilai tambah produk itu sangat tinggi. Pemerintah juga akan bantu memaksimalkan pemasaran terutama oleh instansi terkait. Agrobisnis untuk gula merah dan semut di sini sudah semanis gulanya karena saat ini harga sudah membaik termasuk dalam bentuk kelapa bulat," kata Hero.
 

Pewarta: Dedi

Editor : Admin Antarakalbar


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2021