Pemerintah Kabupaten Paser, Kalimantan Timur menertibkan harga gas elpiji ukuran 3 kilogram di tingkat pengecer yang dinilai telah melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Pemkab Paser sebesar Rp35.000.

"Saat ini sedang dibuat regulasi terkait hal itu dalam bentuk Surat Keputusan (SK) Bupati Paser, sudah dibahas dan disepakati pihak agen,” kata Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Paser, Paulus Margita, di Tanah Grogot, Paser, Selasa.

Ia mengatakan sebelum SK tersebut dikeluarkan, terlebih dahulu akan disosialisasikan kepada para pengecer.

Menurutnya, dengan SK Bupati tersebut para pengecer tidak bisa lagi menjual di atas harga yang tercantum dalam SK yaitu harga tertinggi RP35.000.

Paulus menegaskan gas elpiji 3 kilogram ini merupakan bantuan subsidi pemerintah dengan distribusi terbatas dan hanya diperuntukkan kepada masyarakat tidak mampu atau untuk masyarakat miskin.

Ia menjelaskan saat ini Pemerintah Kabupaten Paser mengupayakan penambahan kuota gas elpiji 3 kilogram kepada Pertamina. Guna menekan kenaikan harga dan kelangkaan, organisasi perangkat daerah terkait yakni Disperindagkop UKM telah menggelar operasi pasar di sejumlah wilayah.

Menurut Paulus, upaya menurunkan harga gas elpiji 3 kilogram yang merupakan subsidi pemerintah, sudah dikomunikasikan dengan pihak agen, mengingat saat ini pengambilan gas elpiji tersebut tidak lagi di Balikpapan, melainkan sudah bisa diambil di Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara.

“Kami minta harga diturunkan, tapi mereka bilang ada kenaikan upah buruh,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Paser, kata Paulus, mengingatkan kepada para agen resmi penyalur gas elpiji untuk menjalankan kewajiban untuk menyalurkan ke pangkalan-pangkalan.

“Kami dapat laporan agen tidak mau menyalurkan, malah pangkalan yang disuruh ambil ke agen,” ujarnya.

Paulus menuturkan penertiban harga gas elpiji bersubsidi tersebut juga bisa dengan cara menyalurkannya berdasarkan Daftar Penerima Tetap (DPT) yang sudah ada. DPT tersebut muncul dari data yang disampaikan kepala desa melalui RT.

“Karena pihak RT lebih mengerti warganya yang tidak mampu yang membutuhkan bantuan ini,” ujar Paulus.

Baca juga: Rusia ingatkan Eropa harga minyak dapat mencapai 300 dolar per barel
 

Sejumlah warga di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, mengeluhkan masih tingginya harga elpiji 3 kg atau gas bersubsidi di tingkat pedagang pengecer yang saat ini menembus Rp29.000 per tabung.

"Harga elpiji 3 kilogram bersubsidi di warung atau pengecer ini jauh dari harga eceran tertinggi (HET). Harga saat ini ada yang menjual Rp26.000 ada juga Rp29.000 per tabung. Jauh dari HET di tingkat pangkalan senilai Rp17.500 per tabung," kata Ika, warga Palangka Raya, Sabtu.

Ibu satu anak ini pun mengaku bingung dengan masih tingginya harga jual gas bersubsidi di wilayah ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah itu.

"Entah kenapa harga gas bersubsidi tetap mahal dan sulit sekali turun. Kondisi ini juga semakin mempersulit kami memenuhi kebutuhan di tengah wabah virus Corona atau COVID-19," katanya.

Dia pun berharap kinerja pemerintah kota semakin membaik yang salah satunya dibuktikan dengan mampunya menstabilkan harga gas yang diperuntukkan bagi warga kurang mampu itu.

Yuliana warga Palangka Raya lainnya juga mengatakan hal yang serupa bahwa harga elpiji di tingkat pengecer jauh dari harga eceran tertinggi yang dikeluarkan pemerintah.

"Memang di pangkalan masih ada yang jual sesuai HET. Namun itu pun kami harus mengantre cukup panjang dan menggunakan foto kopi KTP yang berlaku satu tabung gas," katanya.

Untuk itu, agar menghindari antrean dia mengaku terpaksa membeli elpiji di pengecer meski harus diperoleh dengan harga yang jauh lebih mahal. Baca selengkapnya: Harga gas bersubsidi tembus Rp29.000, warga Palangka Raya mengeluh

Pewarta: Arumanto

Editor : Admin Antarakalbar


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2023