Bioteknologi tengah menjadi tren di sektor pertanian sebagai solusi menghadapi cuaca buruk yang terjadi akhir-akhir ini, seperti kemarau berkepanjangan maupun hujan terus menerus.

Kondisi cuaca ekstrem ini membuat hama penyakit juga kian beragam yang berpotensi mengancam panen pertanian, bahkan juga berpotensi mengancam ketahanan pangan.

Seperti Jakarta yang sedang menggalakkan pertanian perkotaan juga menghadapi persoalan akibat iklim ekstrem tersebut. Sebagai provinsi dengan lahan pertanian terbatas maka penggunaan teknologi menjadi syarat utama.

Luas lahan pertanian Jakarta sendiri diperkirakan hanya 414 hektare pada 2023 atau kurang dari empat persen lahan pertanian provinsi terluas di Indonesia, yakni Jawa Timur sekitar 1,2 juta hektare.

Dengan demikian, lahan yang terbatas ini harus dikelola sedemikian rupa menggunakan pendekatan teknologi untuk mendapat hasil maksimal.

Pertanian dengan bioteknologi juga membuat lahan pertanian tidak mengalami kerusakan sehingga tetap memberikan hasil meski sudah beberapa kali panen atau dikenal sebagai pertanian berkelanjutan.

Namun untuk mengadopsi teknologi pertanian, tentunya sangat bergantung kepada petani selaku pengguna. Petani yang pada akhirnya harus memutuskan untuk menggunakan bibit dan teknologi yang dipakai.

Petani adalah kelompok terdepan yang paling merasakan dampak perubahan iklim. Mereka bisa mengalami penurunan produksi bahkan kegagalan panen.

Peran konsumen

Konsumen memegang peranan penting untuk mengembangkan pertanian berbasis lingkungan. Masyarakat harus diberikan edukasi bahwa di belakang produk pangan terdapat teknologi.

Teknologi ada yang ramah lingkungan sehingga sesuai dengan konsep pertanian berkelanjutan, tetapi ada juga teknologi  yang tidak ramah lingkungan.

Fadlilla Dewi Rachmawati dari Croplife Indonesia menjelaskan bahwa rekayasa genetika benih tanaman merupakan hal lazim di pertanian saat ini. Benih harus mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global yang dibutuhkan untuk menjaga stabilitas pangan

Rekayasa benih pangan dengan bioteknologi, salah satu solusi bagi dunia pertanian dalam menghadapi perubahan iklim dan pemanasan global. Pengembangan benih tanaman bioteknologi telah melalui proses penelitian yang panjang dan tak mudah.

Satu benih hasil rekayasa genetika bisa menempuh hingga belasan tahun sampai lolos berbagai ujicoba dan dinyatakan layak dan diproduksi massal dan kemudian dikonsumsi sebagai bahan pangan dan pakan.

Melengkapi keterangan Fadlilla, Ibnu Wiyono selaku Country Director USSEC (U.S Soybean Export Council) Indonesia, juga memberikan informasi terkait pertanian di Amerika Serikat yang dengan sangat ketat menerapkan praktik pertanian yang berkelanjutan.

Hasilnya, kedelai AS mendapatkan sertifikasi Sustainable US Soy (SUSS logo). Pertanian kedelai yang menghasilkan emisi karbon paling rendah dibandingkan kedelai yang diproduksi oleh negara produsen utama lainnya seperti Brasil dan Argentina.

SUSS logo merupakan label lingkungan atau sertifikasi ramah lingkungan yang disematkan pada kemasan pangan yang menggunakan kedelai Amerika sebagai bahan baku utamanya.

Industri kedelai Amerika ingin berbagi manfaat pertanian berkelanjutan dengan konsumen. Diharapkan produk pangan olahan kedelai yang menggunakan SUSS logo dapat lebih dihargai oleh konsumen lokal dan luar negeri karena diproduksi dengan memperhatikan aspek-aspek keberlanjutan.

Sebagai penghasil kedelai terbesar di dunia, praktik pertanian kedelai berkelanjutan di Amerika telah membantu petani menaikkan produksi kedelai hingga 130 persen selama kurun waktu 40 tahun, dengan menggunakan lebih sedikit input dan dampak lingkungan yang sejalan dengan indikator pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Langkah yang dilakukan bisa ditiru sektor pertanian di Ibu Kota yakni menurunkan emisi rumah kaca hingga 43 persen per gantang (bushel), meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi hingga 60 persen, meningkatkan efisiensi penggunaan lahan hingga 48 persen, meningkatkan efisiensi energi hingga 46 persen, dan meningkatkan konservasi lahan pertanian hingga 34 persen

Hingga 2025, pertanian kedelai Amerika menargetkan penurunan emisi rumah kaca sebesar 10 persen, mengurangi dampak penggunaan 10 persen, meningkatkan efisiensi energi hingga 10 persen dan mengurangi erosi tanah hingga 25 persen. Jadi ini komitmen mereka dalam menjaga bumi agar terus lestari. 
 
Pertanian berbasis lingkungan menjadi tren ke depan. ANTARA/ HO-Syngenta

Sebuah jurnal berjudul "Label Eko, Perilaku Pembelian Berbasis Lingkungan Dan Alam Dari Perspektif Generasi Z" menyebutkan beberapa hasil penelitian yang secara garis besar menunjukkan bahwa Generasi-Z lebih tertarik untuk mengikuti tren pembelian produk ramah lingkungan. Di tengah tren gaya hidup sehat, pilihan untuk menggunakan produk-produk yang ramah lingkungan juga meningkat.

Label lingkungan

Khusus di Indonesia, belum banyak yang mengetahui mengenai label lingkungan (eco-labels) atau sertifikasi produk ramah lingkungan. Perilaku konsumen dalam memilih produk yang memiliki eco-labels dipastikan akan memberikan dampak secara luas.

Memilih produk yang menyematkan eco-labels adalah langkah paling mudah namun berdampak kuat yang dapat dilakukan konsumen. Kesadaran Gen Z menjadi harapan besar kita semua bahwa ke depan produk-produk ramah lingkungan akan semakin mendapatkan prioritas, kata Made Astawan, Ketua Pembina Forum Tempe Indonesia.

Sebagai produk pangan asli Indonesia, Made mengatakan tempe juga memiliki sejarah. Leluhur bangsa Indonesia sejak beberapa abad yang lalu ternyata sudah menerapkan konsep zero waste dalam memproduksi tempe. Walaupun nilai-nilai berkelanjutan (sustainable) baru lahir abad ini dari dunia barat, nenek moyang bangsa Indonesia ternyata sudah sejak lama menerapkannya.
Walaupun saat ini tidak banyak rumah tangga yang memproduksi tempe sekaligus memiliki hewan ternak, bukan berarti  tidak bisa meneruskan ajaran-ajaran para leluhur tersebut.

Saat ini soal pertanian ramah lingkungan justru memperoleh pendapatan lebih, sebagai contoh kerajinan tempe karena limbah dari produksi tempe ternyata bisa dijual dan dimanfaatkan oleh peternak sebagai pakan.

Kebetulan untuk produk tempe atau tahu ini, sudah menjadi produk pangan yang dikenal masyarakat, dengan demikian secara langsung masyarakat Indonesia juga sudah memberikan kontribusi terhadap perbaikan lingkungan baik di Indonesia maupun di tingkat global.

Harapannya tidak sekadar tahu dan tempe, tetapi seluruh produk pertanian seperti padi serta jagung yang juga populer di masyarakat juga mengadopsi teknologi ramah lingkungan.

 

Pewarta: Ganet Dirgantara

Editor : Admin Antarakalbar


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2023