Namun pengembangan objek wisata alternatif itu memerlukan sentuhan kreativitas dan terobosan baru, sehingga kehadirannya bisa menarik dari objek yang ada selama ini.
Denpasar (ANTARA Kalbar) - Hamparan lahan sawah yang menghijau, dengan lokasi yang berundag-undag (terasering) di Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, memiliki pemandangan dan keindahan panorama alam.

Perpaduan lembah dan perbukitan di bagian hulu Gunung Batukaru itu dikitari lingkungan dan kawasan hutan yang lestari, menjadi satu kesatuan hamparan lahan sawah yang cukup luas.

Kecamatan Penebel, dikenal sebagai daerah "gudang beras" di Kabupaten Tabanan.

Kondisi sawah yang demikian masih bisa ditemui secara mudah di berbagai lokasi di Bali, meskipun secara fisik sejumlah subak di tempat-tempat strategis, khususnya di Kota Denpasar,  Badung dan Kabupaten Gianyar mulai beralih fungsi ke non-pertanian.

Lahan pertanian yang beralih fungsi untuk berbagai lokasi pembangunan, termasuk sektor pariwisata setiap tahunnya tidak kurang dari 1.000 hektare, tutur Guru Besar Universitas Udayana Prof Dr I Wayan Windia, baru-baru ini.

Di balik alih fungsi lahan yang didukung sistem pengairan tradisional bidang pertanian (subak) di Pulau Dewata masih ada alam dan potensi budaya yang bisa dikembangkan lebih intensifkan menjadi atraksi wisata yang unik dan menarik, sebagai upaya meningkatkan kunjungan turis, meskipun wisman sudah berulang kali ke daeah ini.

Namun pengembangan objek wisata alternatif itu memerlukan sentuhan kreativitas dan terobosan baru, sehingga kehadirannya bisa menarik dari objek yang ada selama ini.

Windia yang juga ketua tim penelitian model pengembangan agrowisata  alam wilayah  subak menjelaskan, pengembangan objek wisata alternatif itu tetap berbasis pada budaya lokal.

Sawah dan petani menjadi salah satu aset pariwisata. Dari kehidupan pertanian lahir nilai-nilai budaya agraris yang sangat luhur yang dapat dijadikan aset pariwisata, tutur Prof Windia yang juga ketua badan penjaminan mutu Unud.

Sistem subak  yang diwarisi secara turun temurun di Bali juga menjadi penyangga kebudayaan Bali, sekaligus  salah satu daya tarik wisatawan, tidak kalah dengan objek wisata buatan baru yang menanam investasi triliun rupiah.

Dalam aktivitas subak terdapat kegiatan kebudayaan seperti halnya yang  terjadi di desa adat (desa Pekraman). Subak sejak kelahirannya terus mengalami proses transformasi hingga dimanfaatkan untuk menopang pembangunan nasional dalam bidang pertanian.

Padahal subak sebelumnya hanya berfungsi teknologis, yakni mendistribusikan air irigasi secara adil kepada petani yang terhimpun dalam wadah subak, untuk mengairi lahan  garapan secara teratur.

Lahan pertanian yang mendapat pengairan secara teratur di Bali hingga kini tercatat 82.644 hektare yang terbagi dalam 2.710 subak berkurang 5.206 hektare dibandung tahun 2005 atau tujuh tahun silam yang tercatat 87.850 hektare.

Subak dalam perkembangan mengalami proses transformasi dengan melakukan aktivitas budaya dan ritual, tercermin dari adanya tempat suci (pura) dalam setiap kawasan subak.

Meskipun demikian subak tetap menjadi sistem irigasi untuk mendistribusikan air secara adil kepada petani, disamping aktivitas ritual dan spiritual, sehingga sistem pengairan mempunyai ciri yang khas dan unik di antara sistem pertanian yang ada di berbagai negara di belahan dunia.

Dengan demikian subak ikut menjadi penyangga kebudayaan Bali, karena kebudayaan pada dasarnya dilandasi aktivitas ritual, ujar Prof Windia.

    Sesuai tuntutan
Penelitian  model pengembangan agrowisata  dalam wilayah  subak melibatkan sejumlah dosen dan puluhan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Udayana dan ratusan petani pada tiga subak, masing-masing subak Anganbaya, Penatih Kecamatan Denpasar Timur Kota Denpasar, Subak Lodtunduh Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar dan subak Guama di Kabupaten Tabanan.

Kawasan subak di Bali dari hasil penelitian itu menjadi salah satu alternatif dalam melakukan diversifikasi usaha sesuai tuntutan dan perkembangan pariwisata dunia.

Diversifikasi usaha, produk dan objek wisata yang berwawasan lingkungansekaligus solusi mensinergikan tiga sektor utama pembangunan Bali, yang meliputi pertanian, pariwisata serta pengembangan indstri kecil dan kerajinan rumah tangga.

Pengembangan objek wisata alternatif itu, selain meningkatkan kesejahteraan petani juga menjadikan sektor pertanian mendukung pengembangan sektor pariwisata secara berkelanjutan.

Dengan demikian manfaat ekonomi pariwisata akan mampu memberikan dampak kepada masyarakat luas, disamping penataan dan pengembangan objek wisata untuk penyebaran kunjungan turis di Bali.

Meskipun Bali setiap tahunnya menerima kunjungan sekitar 2,7 juta turis, namun selama di Bali hanya terfokus untuk mengunjungi objek wisata yang ada di Kabupaten Badung, Kota, Denpasar, Kabupaten Ginyar dan sebagian lainnya Kabupaten Tabanan.

Sementara Kabupaten Klungkung, Bangli, Karangasem, Jembrana dan Buleleng, meskipun menerima kunjungan wisman, namun prsentasenya relatif kecil. Melalui pengembangan kawasan subak sebagai objek wisata alternatif mampu meningkatkan pemerataan kunjungan wisman di Bali, tutur Prof Windia.

(I006)

Pewarta: I Ketut Sutika
: Nurul Hayat

COPYRIGHT © ANTARA 2026