Pontianak (ANTARA Kalbar) - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari daerah pemilihan Kalimantan Barat, Hairiah menyatakan prihatin terhadap adanya iklan promosi mengenai tenaga kerja Indonesia di Malaysia dan meminta agar pelakunya segera diusut.

"Iklan itu harus diusut siapa pelakunya, karena sangat melukai rasa kebangsaan kita sebagai negara yang merdeka dan berdaulat," kata Hairiah saat dihubungi dari Pontianak, Senin.

Hairiah mengatakan sangat menyayangkan iklan tersebut bisa ditayangkan di media elektronik dan cetak di Malaysia.

Menurut aktivis perempuan yang memiliki pengalaman menangani kasus perdagangan manusia itu, bangsa Indonesia selama ini sebagai buruh migran, memberikan kontribusi pembangunan dimana buruh migran itu bekerja.

"Kita tunggu saja Pemerintah Malaysia mengusut iklan tersebut dan apa motivasi di balik iklannya," kata mantan Direktur LBH PIK Kalbar tersebut.

Hairiah juga sempat mengutip pernyataan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Datuk Syed Munshe Aldzaruddin Syed Hassan yang menegaskan bahwa promosi "TKI on Sale" di negaranya disebar tanpa sepengetahuan pemerintah. Promosi itu tidak memiliki izin dari pemerintah.

"Tapi walaupun tidak ada izin, apakah tidak ada kontrol dari negara terhadap iklan tersebut?" kata Hairiah setengah bertanya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Lembaga Swadaya Masyarakat Migrant Care, Anis Hidayah, mengungkapkan adanya brosur yang menawarkan penyediaan jasa Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) di Malaysia yang disebarkan di tempat-tempat umum. Iklan yang beredar di Kuala Lumpur itu bertuliskan "Indonesian maids now on sale" yang dapat diartikan sebagai obral pekerja domestik asal Indonesia.

Di brosur iklan tersebut terdapat tulisan potongan harga 40 persen yang menawarkan jasa TKI seharga 7.500 Ringgit Malaysia dengan uang deposit 3.500 ringgit.

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat juga mengecam keras promosi atau iklan "TKI on Sale" oleh Malaysia. 



 




Editor : Nurul Hayat

COPYRIGHT © ANTARA 2026