Padang (Antara Kalbar) - Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan pengembangan tanaman sengon di luar Pulau Jawa cukup prospektif karena ketersediaan lahan yang masih luas.

"Indonesia bisa panen kayu dalam jangka waktu lima tahun, seperti tanaman sengon yang punya nilai ekonomis tinggi," kata Zulkifli Hasan ketika memberikan orasi ilmiah pada acara wisuda di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) Padang, Sabtu.

Ia menyebutkan tanaman sengon tidak dapat dikembangkan negara lain seperti Singapura, Korea, China dan Amerika. Sementara untuk di Pulau Jawa, lahan diprioritaskan untuk tanaman pangan.

Menurut dia, sumber daya hutan di Indonesia merupakan sumber daya terbarukan sehingga mutlak bagi pemerintah dan masyarakat untuk melakukan pemanfaatan diiringi kegiatan pengelolaan secara berkelanjutan.

Sayangnya, tambah dia, belum banyak masyarakat di luar Pulau Jawa yang memanfaatkan potensi usaha tanaman sengon.

Menteri Kehutanan menceritakan, ada seorang peneliti yang tidak setuju dengan prinsip bahwa "pontensi alam terbatas", tapi malah ia menyatakan sebaliknya kebutuhan yang mesti dibatasi.

Jika manusia dapat membatasi kebutuhannya maka tidak mungkin seseorang memakai pakaian berlebihan karena yang dipakai tetap satu.

Ia mengatakan sumber daya hutan Indonesia mempunyai arti penting bagi kelangsungan pembangunan ekonomi, sosial, lingkungan, bahkan dapat menentukan posisi geopolitik di tataran internasional.

Hal tersebut sangat dirasakan pada dekade 1980-an ketika hutan menjadi penyumbang devisa negara terbesar kedua setelah minyak dan gas, namun masa kejayaan itu turun drastis mulai 1999 hingga 2000-an.

Menurut dia, turunnya nilai ekonomi hutan berdampak langsung terhadap penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya hutan akibat eksploitasi yang berlebihan.

Ia menyebutkan, laju degradasi hutan yang mencapai 3,8 juta hektare per tahun harus segera diatasi namun diupayakan hutan tetap memberikan hasil ekonomis bagi masyarakat.

"Pola yang bisa dilakukan yaitu dengan membuat hutan kemasyarakatan, hutan rakyat, hutan nagari di Sumbar, dimana masyarakat sekitar hutan diizinkan memanfaatkan hutan dengan syarat harus menanam pohon terlebih dahulu," katanya.

Zulkifli mengungkapkan pembangunan hutan tanaman hingga 2025 diperkirakan membutuhkan investasi swasta Rp1.500 trilliun, dengan proyeksi devisa yang bisa didapat sebesar Rp690 trilliun.

Sedangkan pembangunan taman nasional membutuhkan investasi pihak swasta dan publik sebesar Rp27,1 trilliun dengan devisa yang dapat diperoleh sebesar Rp39,97 trilliun.

Pewarta: Siri Antoni
Editor : Zaenal A.

COPYRIGHT © ANTARA 2026