Ahli Ilmu Jiwa dari University of Canterbury Dr. Joana Arantes pada Senin mengatakan persepsi mengenai "waktu melambat ketika seseorang untuk pertama kali melihat orang yang menarik dan berpotensi jadi pasangannya bisa berkembang sebagai mekanisme reproduksi".
Para peneliti itu menguji beberapa perempuan dengan memperlihatkan kepada mereka gambar pria yang menarik dan tidak menarik dan perempuan yang secara singkat muncul di layar komputer. Mereka harus memperkirakan rentang waktu mereka dengan menekan tombol tetikus.
"Kami mendapati bahwa perkiraan rentang waktu mengenai pria yang menarik lebih lama dibandingkan dengan pada lelaki yang tidak menarik, sementara tak ada perbedaan pada perkiraan rentang waktu mengenai perempuan yang menarik dan tidak menarik. Hasil ini mendukung perkiraan kami bahwa sistem waktu sensitif dengan kebugaran reproduksi," kata Arantes di dalam satu pernyataan, sebagaimana dilaporkan Xinhua.
Gagasan awal bagi penelitian tersebut muncul dari kepercayaan umum bahwa "waktu terasa jadi lambat atau bahkan berhenti ketika orang jatuh cinta pada pandangan pertama sebagaimana digambarkan di dalam berbagai film seperti film Tim Burton "Big Fish" dan lagu Taylor Swift "Time Slows Down Whenever You're Around".
"Kami mengetahui dari beberapa penelitian terdahulu bahwa perkiraan waktu dapat melambat dalam situasi kehidupan nyata yang mengancam, seperti kecelakaan mobil, bungee jumping, atau melalui contoh yang tidak terlalu ekstrem yang telah dipelajari di laboratorium, yaitu melihat gambar ular," kata wanita dokter itu.
"Dari perspektif evolusionari, masuk akal bahwa perubahan serupa pada persepsi waktu akan muncul dalam situasi yang berkaitan dengan kebugaran reproduksi, seperti secara tak sengaja orang melihat orang yang menarik dan berpotensi menjadi pasangan untuk pertama kali," katanya.
Tim itu melakukan penelitian lebih lanjut guna meneliti apa yang terjadi secara otomatis dan secara insting dalam sistem kognitif selama ketertarikan antar-manusia.
Editor : Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.