Pontianak (ANTARA) - "Dulu kami membabat hutan dan menjual kayunya ke Malaysia. Namun potensi wisata Temajuk mengubah pola pikir kami dan sekarang kami hidup dengan mengandalkan pariwisata," kata pria paruh baya yang biasa dipanggil Atong.

Atong  duduk di antara deretan kursi sebuah kantin di kawasan wisata Teluk Atong Bahari, Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, saat diwawancarai ANTARA. Ia  menyeruput kopi, kemudian meletakkan kembali gelasnya di meja. 

Pria yang namanya dijadikan nama kawasan wisata itu merupakan salah satu pelopor pariwisata di Desa Temajuk, Kabupaten Sambas. Dengan campuran bahasa Indonesia dan logat Melayu Sambas, dia bercerita bahwa dari tempat itu, kawasan pesisir Temajuk terbentang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang selama bertahun-tahun bergantung pada laut.

Namun, laut tidak selalu bisa diandalkan menjadi sumber penghidupan. Ketika cuaca buruk, nelayan tidak dapat melaut. Dalam kondisi seperti itu, sebagian nelayan mencari penghasilan dari pekerjaan lain, termasuk menebang dan mengirim kayu ke Malaysia.

"Sejak tahun 2008, pemikiran kami terbuka bahwa potensi utama Desa Temajuk, selain laut, adalah pariwisata. Sehingga saat ini wisata menjadi jalan keluar ekonomi bagi kami, warga perbatasan," kata Atong.

Kalimat itu menggambarkan perubahan besar yang perlahan berlangsung di desa paling ujung di utara Kalimantan Barat tersebut.

Dengan potensi pariwisata yang telah digarap masyarakat setempat, Temajuk tidak lagi hanya dipandang sebagai wilayah perbatasan yang berhadapan langsung dengan Sarawak, Malaysia. Di balik garis batas negara, masyarakat mulai melihat alam sebagai modal ekonomi yang dapat dikelola tanpa harus meninggalkan kampung halaman.

Bagi Atong dan warga Temajuk lainnya, perubahan tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat. Sekitar 2008, gagasan mengembangkan pariwisata mulai tumbuh ketika masyarakat menghadapi keterbatasan pilihan pekerjaan. Sektor perkebunan belum berkembang maksimal karena persoalan akses, sementara aktivitas masyarakat yang bergantung pada sektor kayu kemudian mendapat penertiban dari pemerintah.

Setahun setelah gagasan itu muncul, dukungan pemerintah mulai datang melalui pembangunan pondok wisata oleh Dinas Kelautan dan Perikanan. Selebihnya, masyarakat bergerak secara bertahap.

Seiring waktu berjalan, penginapan mulai dibangun. Rumah warga perlahan berubah menjadi homestay, warung makan bermunculan dan pengelola wisata belajar menerima tamu. Mereka memperkenalkan destinasi dan mempromosikan Temajuk dengan kemampuan yang mereka miliki.

"Dari awal memang perjuangannya berat. Kami berusaha sendiri, belajar bagaimana mengelola dan mempromosikan wisata, kemudian perlahan mendapat dukungan dari masyarakat dan pemerintah," kata Atong.

Di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan di kawasan perbatasan, setiap wisatawan yang datang membawa rantai ekonomi yang panjang. Ada kamar yang harus disiapkan, makanan yang harus dimasak, kendaraan yang harus digunakan, produk lokal yang dapat dijual, hingga jasa pemandu yang dibutuhkan.

Dengan demikian, semakin banyak wisatawan datang, semakin banyak pula warga yang berpeluang mendapatkan manfaat ekonomi.

Peluang lintas batas

Potensi itu semakin besar karena Temajuk memiliki posisi geografis yang tidak dimiliki banyak destinasi wisata lainnya. Desa tersebut berada di ujung utara Kabupaten Sambas dan berhadapan langsung dengan kawasan Telok Melano di Sarawak, Malaysia, di mana jarak geografis tersebut sekaligus menjadi peluang.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas Dedy Zulkarnaen mengatakan Temajuk memiliki karakter wisata perbatasan yang berbeda karena menawarkan perpaduan wisata laut dan darat dengan lingkungan alam yang masih relatif asri.

"Temajuk sangat dimungkinkan menjadi wisata lintas batas atau antarnegara. Walaupun mungkin karakter masyarakatnya hampir sama, dari sisi budaya, alam dan produk-produknya ada perbedaan yang bisa dijadikan sebuah paket wisata," kata dia.

Konsep tersebut memungkinkan Temajuk tidak hanya menjadi tempat yang dikunjungi wisatawan untuk menikmati pantai. Temajuk dapat menjadi bagian dari perjalanan yang menghubungkan dua negara.

Wisatawan dapat menikmati alam dan kehidupan masyarakat Temajuk sebelum melanjutkan perjalanan menuju Telok Melano. Sebaliknya, wisatawan dari Malaysia memiliki kesempatan datang menikmati destinasi di sisi Indonesia.

Jika konektivitas tersebut dapat diwujudkan secara optimal, perbatasan tidak lagi hanya menjadi garis yang memisahkan dua wilayah negara. Perbatasan dapat berubah menjadi ruang pertemuan ekonomi.

Bagi masyarakat Temajuk, peluang itu berarti lebih banyak tamu, lebih banyak kamar yang terisi, lebih banyak makanan yang tersaji dan semakin banyak produk lokal yang berpotensi terjual.

Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas melihat peluang Temajuk tidak berhenti pada wisata bahari. Ekowisata, wisata alam, gastronomi, budaya hingga wisata religi dapat dikembangkan secara bersamaan untuk membuat wisatawan tinggal lebih lama.

Salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah ekowisata penyu. Keberadaan kekayaan alam yang masih terjaga itu menjadi modal penting bagi Temajuk untuk membangun identitas sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman wisata berbasis lingkungan. 

Namun, kata Dedy, potensi alam saja tidak cukup karena Temajuk masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah, mulai dari infrastruktur jalan, listrik, jaringan telekomunikasi, amenitas hingga kualitas sumber daya manusia.

Kondisi itu sekaligus memperlihatkan bahwa persoalan Temajuk bukan semata-mata kekurangan wisatawan, karena pada waktu tertentu, tantangannya justru bagaimana masyarakat mampu menyediakan fasilitas yang cukup ketika wisatawan datang dalam jumlah besar.

"Permasalahan ini yang coba kita selesaikan bersama dan kami sangat mengharapkan dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat," kata Dedy. 


 

Pewarta: Rendra Oxtora
Editor : Andilala

COPYRIGHT © ANTARA 2026