Oaxaca, Meksiko (Antara Kalbar/AFP) - Seorang lelaki yang diduga telah mati hampir tiga tahun lalu memenangi pemilihan wali kota di sebuah kota di Provinsi Oaxaca.

Leninguer Raymundo Carballido Morales memenangi pemilihan di kota kecil San Agustin Amatengo dengan hanya 11 suara pada Minggu lalu, sebagai kandidat koalisi partai konservatif dan sayap kiri.

Pihak jaksa saat ini tengah mengusut apakah Carballido Morales memalsukan kematiannya sendiri pada 2010 demi menghindari penangkapan berkaitan dengan kasus pemerkosaan beramai-ramai seorang perempuan pada 2004.

Carballido Morales yang nyata-nyata masih hidup dan bernafas melakukan kampanye untuk pemilihan tersebut, muncul di depan publik dan melakukan wawancara dengan wartawan.

Namun dua hari sebelum pemungutan suara, harian lokal Tiempo de Oaxaca melaporkan bahwa pengacara kandidat tersebut telah memberikan sertifikat kematian palsu kepada pihak berwenang pada 2010.

Dokumen yang dilegalisir oleh seorang dokter itu, menyatakan bahwa Carballido Morales meninggal "secara wajar" karena koma akibat penyakit diabetes, demikian dikutip koran tersebut.

Iliana Araceli Hernandez, penuntut umum untuk kejahatan terhadap perempuan mengatakan pihaknya melakukan pengusutan terkait laporan tersebut "untuk memastikan bahwa telah terjadi kasus kriminal."
   
Kepala catatan sipil Oaxaca, Aide Reyes mengakui bahwa dokumen tersebut ditandatangani seorang pegawai negeri sipil dan pihaknya tengah melakukan pengusutan.

Ketua partai sayap kiri Partai Revolusi Demokratik (PRD) tingkat provinsi Rey Morales Sanchez yang menjadi bagian dari koalisi pengusung kandidat tersebut mengatakan kepada AFP bahwa jika wali kota terpilih itu terbukti melakukan tindakan kriminal maka "ia harus diganti" oleh orang lain.

Carballido Morales sekali lagi membuktikan bahwa ia masih hidup dan dalam kondisi baik pada malam menjelang pemungutan suara, dengan menulis status di akun Facebook bahwa ia telah mengunjungi kantor kejaksaan "untuk meminta informasi mengenai insiden yang terkait dengan saya, yang sama sekali keliru."
   
"Buktinya, tidak ada pengaduan secara formal sekalipun," imbuh dia.

    (S. Haryati)

Editor: Nurul Hayat
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar