Pekanbaru (Antara Kalbar) - Angka remaja putri yang melahirkan pada usia 15-19 tahun di Indonesia cukup tinggi sehingga kasus ini menjadi salah satu "rapor merah" bagi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI.

"Kasus ini sudah terjadi secara nasional dampaknya bahkan Menko Kesra dan Menkes dipanggil Presiden SBY kenapa kasus ini bisa terjadi," kata pelaksana tugas Kepala BKKBN RI Dr. Sudibyo Alimoeso MA, di sela Rakerda Pembangunan Kependudukan dan KB Provinsi Riau tahun 2013, di Pekanbaru, Kamis.

Menurut dia, parahnya berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 yang menunjukkan justru terjadinya peningkatan jumlah remaja melahirkan itu.

Ia menyebutkan jumlah remaja putri yang melahirkan pada 2007 hanya 35 per 1.000 remaja putri. Namun, pada 2012, jumlahnya justru meningkat menjadi 48 per 1.000 remaja putri.

"Oleh karena itu, Pemerintah menetapkan target jumlah remaja putri yang melahirkan 30 per 1.000 remaja putri pada 2014," katanya.

Dijelaskannya bahwa remaja putri yang melahirkan sebagian besar berada di pedesaan, yakni tercatat 69 per 1.000 remaja putri dan di perkotaan, 32 per 1.000 remaja putri. Sedangkan penyebabnya antara lain faktor hubungan seks bebas di kalangan remaja.

Untuk itu, menko kesra dan menkes telah menginstruksikan agar BKKBN mengiatkan akselerasi kependudukan dan KB, kemudian melakukan penguatan terhadap remaja untuk mengikuti program generasi berencana.

"Remaja terus diimbau agar jangan terlalu kawin muda, jangan terlalu tua kawin dan jangan terlalu banyak anak yang dilahirkan dan jangan terlalu rapat melahirkan," katanya.

Remaja yang mempunyai pengetahuan kesehatan reproduksi dan seksualitas akan lebih mampu mengontrol aktivitas seksnya. Disamping itu pemerintah kabupaten dan kota, tegasnya perlu meningkatkan perkuatan komitmen dalam pelayanan KB dan pastikan ketersediaan alat kontrasepsi.

(Ant News/F011/Z003)

Pewarta:

Editor : Admin Antarakalbar


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2013