Jakarta (Antara Kalbar) - Jika ada birokrat yang mampu menuntaskan krisis kehumasan dengan memadukan antara teori dengan pengalaman selama puluhan tahun maka Gatot S. Dewa Broto adalah satu dari sedikit di antaranya.

Buku karyanya berjudul The PR yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta 2014 menjadi bukti kiprahnya sebagai birokrat kehumasan dalam menghadapi keterbukaan informasi.

Padahal tantangan Public Relation (PR) ke depan semakin pelik terlebih bagi mereka pejabat kehumasan di instansi pemerintah yang didanai APBN.

Namun sebagaimana Kepala Lembaga Administrasi Negara Agus Dwiyanto sebutkan dalam reviewnya buku The PR berhasil menjelaskan dengan gamblang bagaimana seorang praktisi kehumasan secara cerdas menjalankan perannya dalam lingkungan yang sangat dinamis.

Menurut dia banyak kasus aktual digunakan untuk memberi ilustrasi tentang kompleksitas isu publik yang harus dijelaskan dan strategi penyampaian informasi kepada publik yang dipilihnya.

"Membaca buku ini, saya membayangkan betapa kompleksnya tugas seorang pejabat kehumasan," katanya.

Melalui The PR, Gatot bahkan dinilai mampu memberikan pembelajaran tentang komunikasi, informasi publik, dan governance dalam teknologi informasi.

"Melalui buku ini kita juga bisa memahami bagaimana demokcratic governance bekerja di Indonesia dan bagaimana institusi publik harus bersikap," kata Rektor UGM Pratikno.

Oleh karena itu banyak yang menganggap The PR sebagai acuan bahkan buku pintar para praktisi kehumasan.

Sebab di dalamnya terdapat banyak jurus jitu bagaimana seorang pejabat humas mampu menyelesaikan segala masalah, merangkul semua pihak, sampai mengedukasi masyarakat.

    
                                                               Polemik Media
The PR menyajikan empat bab dimana pada bab 1 diulas soal kebutuhan informasi, pencerahan masyarakat, hingga terobosan mengatasi kebutuhan komunikasi.

Dalam babak-babak berikutnya Gatot menyajikan bagaimana kiprahnya menjadi semacam "pemadam kebakaran" sekaligus agen pencerah dalam berbagai isu dari mulai sorotan media dalam KTT ASEAN, isu frekuensi radio, pembangunan menara telekomunikasi, RIM Blackberry, UU ITE, sampai RPM Konten.

Gatot juga memaparkan betapa hebohnya uji publik dan pusaran arus negatif di ranah maya Tanah Air seperti maraknya penyebaran konten internet pornografi.

Di bab akhir, The PR membahas soal dinamika persaingan bisnis termasuk di dalamnya tentang penertiban BTS, hubungan Telkom dan Indosat, ketatnya persaingan telekomunikasi, USO, sampai solidaritas para mitra yang biasanya saling berkompetisi itu.

Menurut Mantan Ketua MPR Amien Rais, Gatot yang juga salah satu mahasiswa bimbingannya di jurusan HI UGM pada era 1980-an telah menuliskan buku yang langka karena mampu mengungkap pengalamannya saat menghadapi isu sensitif dan panas.

"Buku ini langka karena mampu mengungkapkan pengalaman penulisnya saat menghadapi isu sensitif dan panas termasuk ketika harus berpolemik di media massa dengan Presiden SBY soal RPM Konten Multimedia tahun 2010," kata Amien.

Selain itu juga digambarkan betapa alotnya perdebatan dengan Advanced Team Gedung Putih menjelang kedatangan Presiden Obama di KTT Asean di Bali pada 2011.

Perdebatan yang digunakan Gatot dinilai sangat diplomatis, soft approach, tetapi tetap decisive, dengan tingkat determinasi yang tinggi.

"Itu mungkin warna tersendiri dari seorang humas yang pernah mengenyam studi ilmu HI UGM," kata Amien.

Buku ini juga dilengkapi dengan romantika bersama pers Indonesia yang ditulis dalam satu bab khusus yang dinilai Tantowi Yahya, Wakil Sekjen Partai Golkar, benar-benar membuat buku itu menjadi spesial bagi insan pers.

"Wartawan juga bisa banyak belajar menyelami cara pikir seorang petugas humas melalui buku ini," katanya.

    
                                                            Referensi
Dari sisi perwajahan, The PR menawarkan cara baru dalam hal marketing dan penjaringan calon konsumen.

Jika selama ini sampul buku referensi umumnya terkesan kaku dan formal, namun The PR menampilkan keluwesan melalui kesederhanaan disain sampul yang dominan warna kuning.

Secara marketing itu bagus karena mampu menjangkau publik yang lebih luas bukan semata akademis.

Namun tidak semuanya sepakat, Duta Besar RI untuk Swiss Djoko Susilo menyarankan sampul buku di desain dengan format yang lebih modern dan semarak.

"Sehingga bisa lebih menarik bagi para peminat dan masyarakat awam lainnya," kata Djoko.

Kritik terhadap buku itu relatif sedikit bahkan Effendi Gazali, alumnus Cornell University AS, hanya menggarisbawahi soal bagaimana usulan-usulan dari buku itu bisa tampak mencuat serta dikemas secara sistematis.

Tapi pada era Post-Modern ini, hal tersebut bisa diserahkan kepada pembaca yang mulia. Saya tidak berharap lebih banyak lagi waktu penulis buku ini tersita. Dia perlu secara internal memperbaiki performa kementeriannya, khususnya dalam bidang komunikasi sesungguhnya," kata Effendi.

Sementara Wartawan Kompas Moch. S. Hendrowijono (1974-2005) menuliskan pendapatnya kalau saja dibuat satu buku dengan bahasa sederhana, akan lebih banyak masyarakat menikmatinya.

Pewarta: Hanni Sofia

Editor : Zaenal A.


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2014