Pontianak (Antara Kalbar) - Wakil Bupati Sambas Hairiah mengakui kontrol terhadap harga lada sebagai salah satu komoditas unggulan di kabupaten itu harus menjadi perhatian untuk menjaga pendapatan masyarakat.

"Perkebunan lada ini dilakukan perseorangan sehingga kontrol harganya di pasar agak sulit. Dengan perorangan sangat mudah dipermainkan pihak yang ingin mengambil keuntungan tanpa memikirkan jerih payah petani," ujarnya saat dihubungi di Sambas, Senin.

Saat ini, ujar dia, harga lada dibawah Rp80 ribu per kilogram. Ia pun mengimbau agen dan pembeli untuk membangun kebersamaan bersama petani agar keberlangsungan jual - beli semua diuntungkan.

"Petani dengan jerih payah menanam lada. Jika ada pembentukan harga oleh pembeli tanpa melihat harga sesungguhnya itu sangat disayangkan. Jadi jalin kebersamaan agar kebutuhan dan pasar terus berlangsung," katanya.

Hairiah menyebutkan tanaman lada memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Sehingga tanaman tersebut berpotensi besar dalam peningkatan pendapatan masyarakat.

"Dengan nilai ekonomis yang tinggi dan saat ini lada sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat di beberapa kecamatan sehingga Pemda juga akan memberikan perhatian," paparnya.

Satu di antara petani lada asal Desa Sendoyan, Sambas, Sapar mengaku dengan kondisi harga lada sekarang menjadi keluhan baginya dan petani lainnya.

"Harga sekarang hampir 40 persen turunnya dibandingkan tahun lalu. Sehingga dengan demikian mengurangi pendapatan masyarakat," paparnya.

Ia meminta pemerintah untuk melihat dan mengecek rantai pasar lada, apakah ada tindakan permaianan harga atau lainnya.

"Soal tanam -menanam serta modal bukan menjadi kendala kami. Kami hanya butuh pemerintah menjaga pasar lada kami jangan ada permainan. Kalau harga lada anjlok karena kurang kualitasnya maka Pemda harus turun juga ke masyarakat untuk pembinaan dan lainnya," kata dia.


(U.KR-DDI/T011)

Pewarta: Dedi

Editor : Andilala


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2017