Pontianak  (Antaranews Kalbar) - Lembaga Antariksa Nasional (Lapan) Bandung memberikan edukasi tentang fenomena matahari kepada Pengunjung Pesona Kulminasi 2018 melalui mini planetarium di Tugu Khatulistiwa Pontianak, Kalbar.

"Melalui mini planetarium kita menjelaskan kepada pengunjung tentang antariksa termasuk tentang kulminasi matahari," ujar Peneliti Lapan Bandung, Dr Rhorom Priyatikanto di Pontianak, Rabu.

Ia menjelaskan terkait fenomena kulminasi dan pengaruhnya bagi bumi yakni terjadi perubahan musim seperti dari musim hujan ke panas atau dari musim semi ke musim gugur.

"Saat terjadi kulminasi matahari di antariksa ionosfer akan lebih banyak dari biasanya. Hal itu bisa saja sejenak mengganggu sinyal GPS atau radio," kata dia.

Lanjutnya, untuk fenomena telur bisa berdiri menurutnya bukan hanya saja bisa terjadi di saat kulminasi matahari namun di hari - hari biasa juga bisa terjadi selama di area garis khatulistiwa.

"Begitu juga arah perputaran air yang kebalikan arah jarum jam. Itu hanya pengaruh keberadaannya dari belahan bumi utara atau selatan," kata dia.

Keberadaan mini planetarium yang dihadirkan Lapan saat Pesona Titik Kulminasi 2018 mendapat perhatian dari pengunjung. Hal itu terlihat dari antrean yang pajang dari pengunjung untuk menyaksikan penjelasan antariksa melalui video.

Pemerintah Kota Pontianak sebagaimana disampaikan Pjs. Wali kota Pontianak, Mahmudah saat membuka Pesona Kulminasi 2018 akan membuat planetarium secara permanen di Area Monumen Tugu Khatulistiwa Kota Pontianak. Untuk fenomena kulminasi matahari terjadi setiap tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September.

 

Pewarta: Dedi

Editor : Andilala


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2018