Kepala Dinas Pertanian , Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar, Heronimus Hero mendorong petani untuk memanfaatkan sisa musim penghujan menanam padi karena sebentar lagi memasuki musim kemarau.

"Saat ini sudah mulai musim tanam gadu. Namun saat ini masih ada hujan. Jadi kita dorong petani segera menanam untuk memanfaatkan sisa musim penghujan ini agar ketika menanam tidak ketemu musim kemarau," ujarnya di Pontianak, Sabtu.

Ia menyebutkan untuk saat ini di Kalbar hingga akhir Maret 2019 petani sudah menanam padi sekitar 13 ribu hektare dari target 14 ribu hektare.

"Kita juga memahami petani juga beberapa waktu lalu baru juga usai panen. Apalagi dengan pola semai maka akan sedikit butuh waktu untuk menanam kembali," jelas dia.

Menurutnya meski di musim kering, petani di Kalbar saat ini sudah tahu jenis padi apa yang ditanam yakni jenis padi yang toleransi pada kekeringan.

"Program khusus kita untuk menanam padi di saat kekeringan kita tidak ada. Kita menawarkan dan memberikan saran ke petani untuk menanam yang toleran terhadap kekeringan dan petani sudah tahu soal cuaca, jenis padi dan penerapannya," jelas dia.

Hero tidak memungkiri di musim kering sejumlah tantangan dalam budidaya padi tentu ada karena secara umum padi selalu membutuhkan jumlah air yang cukup.

"Namun di lapangan meski di lahan ladang atau tadah hujan, di sekitar areal pertanian sumber airnya banyak. Meski musim kering atau kemarau sumber air masih bisa dipenuhi. Apalagi untuk sawah tentu cukup airn nya," kata dia.

Ia menyebutkan di Kalbar untuk padi ladang luasan ya sekitar 100 ribuan hektare. Kemudian untuk padi tadah hujan dengan irigasi teknis dan non teknis seluas 400 ribuan hektare.

"Saat musim kering tantangan yang berat yakni ancaman organisme pengganggu. Seperti di Ketapang itu sangat ekstrim karena ada belalang dan tikus. Itu pengganggu endemik. Pertumbuhan pengganggu tersebut cepat karena suhu panas. Tentu untuk itu harus melakukan upaya pemberantas hama secara terpadu," jelas dia.

Pewarta: Dedi

Editor : Andilala


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2019