Khatib shalat Idul Fitri 1440 Hijriyah di Masjid Raya Mujahidian Pontianak, DR. Didik M Nur Haris, Lc.M.Sh menyatakan ada lima kemenangan dalam Idul Fitri.

Kemenangan yang pertama adalah Kemenangan keimanan atas kekufuran.
Ketika Allah menyerukan untuk berpuasa, maka umat Muslim menyambut seruan puasa dengan penuh keimanan tanpa sedikit pun kufur dan ingkar. Maka pada pagi hari Fitri, umat Muslim bergembira atas kemenangan iman itu, karena iman yang paling menang, sebab iman adalah kehidupan sedangkan kekufuran adalah kematian.

"Orang yang beriman hidup dengan Nur Ilahi, cahaya Allah yang terus menyinari hati dan kehidupannya. Sehingga ia hidup penuh arti kebaikan dan produktif dalam menebar manfaat bagi sesama, masyarakat, bangsa, dan negara," kata khatib.

Kemenangan yang kedua adalah kemenangan akhirat atas dunia.
Islam adalah agama dunia dan akhirat, tidak mengenal dikotomi dan perbedaan. Ini urusan dunia dan itu urusan akhirat. Sebab itulah doa selalu memohon keseimbangan dan keserasian.
Namun ketika dunia lebih dipentingkan hingga menguasai akhirat, disinilah awal bencana bermunculan.

Menurut khatib, Allah menegur kamu Muslimin adar tidak terjebak dengan tipuan dan fatamorgana dunia, hingga menggadaikan kebahagiaan akhirat. Sebab ini adalah sifat dan karakter orang-orang kafir yang mengakibatkan siksaan mereka dunia dan akhirat.

Kemenangnan ketiga adalah kemenangan kesungguhan atas kemalasan.
Hari Idul Fitri merupakan hari dimana umat Muslim merayakan kemenangan kesungguhan diri dalam mengubah kebiasaan hidup 11 bulan yang tidak normal. Yang biasa telat shalat bahkan biasa tidak shalat, biasa tidak ke masjid, biasa tidak membaca Alquran, biasa tidak shalat malam, biasa tidak puasa, biasa menipu, biasa menzalimi, diubah dengan sungguh-sungguh menegakan shalat. Kebiasaan berjamah tepat waktu, sungguh-sungguh berpuasa menahan hawan nafsu, sungguh-sungguh membaca Alquran, sungguh-sungguh berdiri saat shalat malam dan sungguh-sungguh menajag lisan, pikiran, dan perbuatan.

"Ramadhan inilah standar kehidupan normal seorang Muslim, modal dasar mengelola kehidupan 11 bulan ke depan. Rahasianya adalah tunjukan Mujahadah dan kesungguhan, maka Allah akan bukakan jalan," kata Khatib shalat Ied.

Kemenangan keempat adalah kemenangan kepedulian atas kekikiran.
Ramadhan telah mengikis habis penyakit kikir hingga akarnya, kosongnya perut saat berpuasa telah membakar tuntas kebakhilan jiwa, dan keringnya kerongkonagn telah merontokan karat-karat pelit yang telah akut melekat di dalam hati.

Saat Idul Fitri, umat Muslim merayakan kemanngan jiwa-jiwa peduli, yang begitu ringan berbagi, menebar senyum meringankan beban kaum lemah, fakir, miskin, yatim piatu, janda-janda tua, dengan zakat, infak, dan sedekah terbaik.

"Bergembirakan mereka, sebab merekalah yang akan mulia kelak dengan perlindungan di Padang Mahsyar," kata Khatib.

Kemenangnan kelima adalah kemenangan fitrah jiwa atas nafsu.
Hari Idul Fitri, merupakan hari kembalinya fitrah dan kesucian jiwa manusia. Fitrah yang cinta dengan kebaikan, cinta dengan kedamaian, ketenangan dan kasih sayang atas nafsu angkara yang cenderung kepada keburukan, kekacauan, kebencian, dan permusuhan.

Tinggal tugas selanjutnya untuk menjaganya dan merawatnya. Allah mengingatkan agar janganlah kalian seperti wanita yang digambarkan dalam Quran Surah An-Nahl ayat 92.

"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali."

Gambaran tindakan bodoh dan dungu, telah bersusah payah membangun sesuatu lalu dirobohkan tidak tersisa. "Oleh karena itu, duduklah bersama dalam majlis ilmu maka insya Allah iman kita akan tetap terjaga," katanya.

Dekati orang yang saleh, sebab serigala hanya akan memakan domba yang tercecer dari kelompoknya.

Pewarta: Nurul Hayat

Editor : Nurul Hayat


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2019