Peneliti dari Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Prof. DR. Adi Utarini, M.Sc, MPH, PhD, mengatakan tidak ada kaitan antara radang otak Japanese Encephalitis dengan teknologi Wolbachia.

"Ternyata Japanese Encephalitis (JE) ini nyamuknya berbeda (Culex) dan penyakitnya juga berbeda. Tidak ada kaitannya dengan teknologi Wolbachia," kata Utarini yang meneliti bakteri Wolbachia dan demam berdarah itu dalam diskusi media bertema "Mengenal Wolbachia dan Fungsinya untuk Mencegah Demam Berdarah" secara daring, Senin.

Japanese Encephalitis (JE) merupakan salah satu penyebab utama radang otak akibat infeksi virus ensefalitis. Beberapa waktu lalu, JE dan Wolbachia menjadi perbincangan warganet di media sosial karena ada pendapat yang mengaitkan nyamuk ber-Wolbachia dapat menyebabkan JE.

Baca juga: 74.775 anak di Kapuas Hulu divaksin cegah radang otak

Pembahasan mengenai nyamuk dengan bakteri Wolbachia mengemuka seiring upaya Kementerian Kesehatan yang menebar jentik nyamuk Aedes aegypti mengandung bakteri Wolbachia untuk mengendalikan penularan demam berdarah dengue.

Adi Utarini yang akrab disapa Uut selain membantah teknologi Wolbachia menyebabkan JE juga menuturkan teknologi itu tidak terkait dengan kejadian filariasis atau penyakit kaki gajah.

"Wolbachia yang ada pada cacing yang menyebabkan filariasis itu berbeda jenisnya dengan Wolbachia pada nyamuk Aedes aegypti. Jadi Wolbachia ini bukan hanya satu jenis, tetapi ada ribuan jenis," tutur dia.

Senada dengan Uut, dr. Riris Andono Ahmad, BMedSc, MPH, PhD dari Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi, Fakultas Kedokteran, kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada menuturkan setiap penyakit berbasis vektor atau penular dari nyamuk hanya ditularkan dari vektornya.

"Aedes Aegypti hanya bisa menularkan empat penyakit yakni dengue, zika, chikungunya dan yellow fever (demam kuning). Tetapi, kalau kemudian penyakit lain itu disebarkan oleh vektor nyamuk yang lain yaitu tinggi rendahnya kejadian penyakit tersebut tidak akan dipengaruhi vektor yang bukan perantaranya," kata Riris menjelaskan.

Setali tiga uang dengan Uut, dia mengatakan JE dipengaruhi oleh nyamuk Culex, bukan Aedes Aegyepti yang menjadi vektor empat penyakit tadi. 

Baca juga: Pemkab Ketapang luncurkan vaksinasi Japanese Encephalitis

 

Yoga Syahputra yang lebih dikenal dengan nama Olga Syahputra, hembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Mount Elisabeth Singapura, pukul 16.17 waktu setempat, Jumat.

Berdasarkan keterangan Manager Olga, Vera Zanobia yang akrab disapa Mak Vera yang sedang berada di Singapura, melalui sambungan telepon di salah satu stasiun televisi swasta, Jumat, keluarga Olga termasuk kedua orangtua almarhum telah berada di Singapura.

Billy Syahputra yang merupakan adik dari almarhum, lanjutnya, saat ini masih cukup terguncang dan belum dapat memberikan keterangan. Olga terlahir di Jakarta pada 8 Februari 1983.

Rencananya jenazah selebritis yang mengawali karirnya dalam Lenong Bocah ini akan segera dibawa ke Jakarta dan disemayamkan di rumah orangtuanya, di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur.  Baca berita selengkapnya: Olga Syaputra Hembuskan Nafas Terakhir


 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa

Editor : Admin Antarakalbar


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2023