Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan bahwa ke depan perusahaan pupuk harus juga menjadi kawasan industri petrokimia yang terintegrasi.

"Kalau kita lihat dari hulunya sendiri, ke depan perusahaan pupuk ini harus menjadi sebuah perusahaan terintegrasi petrochemical," kata Erick saat memberi sambutan dalam peresmian pabrik amonium nitrat PT Kaltim Amonium Nitrat di Kota Bontang, Kalimantan Timur, Kamis.

Erick turut mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam peresmian tersebut. Pabrik berkapasitas 75.000 metrik ton per tahun (MTPY) itu dibangun di Kawasan Industri PT Kaltim Industrial Estate (KIE), yang bersinergi dengan PT Dahana (Persero).

Lebih lanjut, Erick mengatakan pembangunan pabrik itu juga membantu untuk mengurangi impor amoniun nitrat.

"Contohnya hari ini, perusahaan pabrik amonium nitrat ini tidak hanya kita meningkatkan produksi dalam negeri yang sekarang kurang lebih tinggal 21 persen yang impor, di mana 79 persen sudah produksi dalam negeri," ungkap Erick.

Untuk itu, ia mengatakan dengan kapasitas produksi pabrik tersebut sebesar 75.000 MTPY, diharapkan bisa mengurangi sisa impor yang tinggal 21 persen tersebut.

"Dengan pabrik ini bisa memproduksi 75 (ribu MTPY), tentu mengurangi yang 21 persen. Belum lagi nanti turunan dari asam nitrat yg bisa dikembangkan untuk industri pertahanan dan industri pupuk itu sendiri," kata Erick.

Terlebih, kata dia, pemerintah juga telah memutuskan untuk menambah alokasi pupuk subsidi pada anggaran 2024 dari 4,7 juta ton menjadi 9,5 juta ton.

"Karena dengan kita akan meningkatkan volume pupuk untuk subsidi yang Bapak (Presiden) kemarin putuskan naik dari 4,7 (juta ton) menjadi 9,5 (juta ton) pasti kebutuhan bahan baku ini jadi sesuatu yang sangat penting ke depan," ujarnya.

Presiden Jokowi berharap industri PT Kaltim Amonium Nitrat dapat mendukung produktivitas pangan nasional.

Menurut Presiden, pembangunan industri amonium nitrat di dalam negeri sangat penting karena Indonesia masih mengimpor 21 persen bahan baku pupuk tersebut.

"Saya senang pabrik ini selesai. Nanti bisa menambah bahan baku pembuatan pupuk di tanah air, utamanya NPK," kata Presiden.

Dengan beroperasinya pabrik tersebut, ujar dia, Indonesia bisa mengurangi hingga 8 persen impor amonium nitrat.



 

Pewarta: Benardy Ferdiansyah

Editor : Admin Antarakalbar


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2024