Pakar gambut yang juga Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan) Prof Dr Ir Dwi Astiani MSi memaparkan bahwa lahan gambut yang terbakar akan mengirimkan CO2 ke atmosfer sehingga mempercepat pemanasan global.

"Orang yang mau berusaha di lahan gambut untuk berkebun dan lainnya, biasanya mereka ini lebih cepat, lebih murah dan lebih mudah untuk membakar," katanya saat ditemui di Pontianak, Rabu.

Dia menjelaskan, proses pembukaan lahan oleh warga dengan cara menggali parit untuk membuat kanal atau drainase. Setelah itu gambut  jadi kering, sehingga api cepat sekali merambat ke situ. "Kalau ada api semua terbakar, nantinya akan mengirimkan CO2 lebih banyak ke atmosfer sehingga akan memicu pemanasan global," katanya.
 
Menurut  Dwi lagi, jika tanah gambut dikeringkan maka emisinya banyak. Seperti contoh yang ada di daerah Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, gambutnya kering dan selalu ada dekomposisi atau penghancuran gambut. 

Dia menambahkan, di Rasau karena gambutnya kering maka ada mikroorganisme yang ikut menghancurkan, sedangkan gambut basah tidak, karena mikroorganisme tidak bisa hidup di lahan basah. Hasil penghancuran itu juga seperti kebakaran, ada gas CO2 yang dikirim ke atmosfer. 

"Sehingga mengganggu kestabilan gas rumah kaca di atmosfer, pada ujungnya akan mempercepat pemanasan global dan menyebabkan perubahan iklim," katanya menjelaskan.

Dwi Astiani mendalami gambut sejak tahun 2000-an. Fokus penelitiannya ada pada tanah gambut baik penelitian ekosistem, vegetasi, hidrologi, karbon, maupun dampaknya terhadap lingkungan.

Dia juga merupakan anggota International Tropical Forest Society. Tujuan dari organisasi ini adalah untuk membahas permasalahan gambut di seluruh dunia dan ikut mengatasi permasalahan gambut. 

"Kalau lokalnya ada Komunitas Manajemen Hutan Indonesia dan Himpunan Gambut Indonesia," katanya lagi.

Karena itu, ia mengimbau untuk tidak mengganggu tanah gambut karena jika diganggu pasti akan berpengaruh pada keseimbangan lingkungan.

Ia mengungkapkan dalam hasil penelitiannya bahwa lahan gambut di Indonesia sebanyak 21 juta hektare dan di Kalimantan ada 5,9 juta hektare.

"Lahan gambut tersebut tidak berkurang tapi rusak terdegradasi karena digunakan tanpa melihat bagaimana kondisi gambutnya," kata Guru Besar Fakultas Kehutanan Untan itu.

Pewarta: Anti Juniarti/Magang FKIP Untan

Editor : Nurul Hayat


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2024